Sleman,REDAKSI17.COM – Kampus yang berkelanjutan bukan sekadar kampus yang dipenuhi pepohonan, memiliki gedung hemat energi, atau mengurangi sampah. Ukuran sesungguhnya terlihat ketika perubahan itu masuk ke dalam cara kampus dikelola, ilmu pengetahuan dikembangkan, hingga ribuan mahasiswa membentuk kebiasaan yang kemudian dibawa ke tengah masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutan yang dibacakan Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti pada UI GreenMetric Sustainable University Rankings Indonesia 2026 di Grha Sabha Pramana UGM, Selasa (15/09). Sri Sultan menegaskan, kampus berkelanjutan tidak cukup hanya dilihat dari kondisi fisiknya. Keberlanjutan harus menjadi bagian dari tata kelola, operasional, pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga akuntabilitas publik.
Mengusung tema Advancing Sustainable Campuses through Governance, Digitalization, and Integrated Performance, kegiatan tersebut mempertemukan lebih dari 350 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Forum ini menegaskan bahwa keberlanjutan harus menjadi bagian dari tata kelola perguruan tinggi.
Ketua Panitia UI GreenMetric Sustainable University Rankings Indonesia 2026 Indra Wijaya Kusuma mengatakan, digitalisasi menjadi jembatan penting agar berbagai upaya keberlanjutan di bidang lingkungan, energi, sampah, transportasi, pendidikan, dan tata kelola dapat berjalan efektif sekaligus terukur. “Digitalisasi bukan sekadar alat, tetapi menjadi jembatan agar upaya keberlanjutan dapat berjalan efektif dan terukur,” ujar Indra.
Indra menuturkan, UI GreenMetric tidak semata-mata menjadi ajang pemeringkatan. Instrumen tersebut dapat menjadi tolok ukur bagi perguruan tinggi untuk belajar, membandingkan praktik baik, sekaligus memperbaiki kinerja keberlanjutan. Dengan demikian, angka dan indikator tidak berhenti sebagai capaian administratif, tetapi menjadi dasar untuk melihat perubahan yang benar-benar terjadi di lingkungan kampus.
Sri Sultan menekankan, keberlanjutan bukan gagasan baru bagi Indonesia. Berbagai kearifan lokal seperti Subak di Bali, Sasi di Maluku, Tana’ Ulen di Kalimantan, Igya Ser Hanjop di Papua, Panglima Laot di Aceh, hingga Leuweung Larangan di tanah Sunda menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara sejak lama mengenal cara menjaga keseimbangan alam.
Kearifan tersebut mengajarkan bahwa keberlanjutan tidak hanya bergantung pada sumber daya alam, tetapi juga pada aturan, kelembagaan, kepemimpinan, pengawasan, dan kesediaan menahan kepentingan jangka pendek demi keselamatan masa depan.
Dalam konteks perguruan tinggi, UI GreenMetric menjadi salah satu instrumen untuk menerjemahkan komitmen tersebut ke dalam indikator yang dapat diukur. Niat perlu diwujudkan menjadi program, program dipantau melalui data, dan hasilnya dilihat dari perubahan perilaku. Digitalisasi kemudian memperkuat transparansi dan membantu seluruh unsur kampus bergerak dalam arah yang sama.
Urgensi tersebut semakin terasa di tengah tantangan lingkungan yang dihadapi Indonesia. Dirjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan Dyah Murtiningsih menyampaikan bahwa risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat akibat kondisi iklim serta aktivitas manusia. Perguruan tinggi dapat mengambil bagian melalui riset dan teknologi, antara lain pemantauan titik panas berbasis satelit, pemantauan lahan gambut, penguatan masyarakat peduli api, hingga dukungan terhadap pencegahan kebakaran.
” Perguruan tinggi juga didorong menjadi Center of Excellence yang mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kebijakan serta teknologi dengan kebutuhan masyarakat. Kolaborasi dapat dilakukan melalui KKN Tematik, magang, rehabilitasi lahan, konservasi, perhutanan sosial, serta pengembangan keanekaragaman hayati” ungkapnya.
Di UGM, pendekatan tersebut diterapkan dengan menjadikan kampus sebagai living laboratory. Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM Wening Udasmoro menyampaikan sejumlah upaya, antara lain pemantauan sampah, pengembangan bangunan hijau, pengurangan emisi melalui transportasi dan efisiensi energi, smart water meter, serta pembangunan lingkungan kampus yang sehat, aman, dan ramah bagi penyandang disabilitas.
Ketua UI GreenMetric Vishnu Juwono menegaskan, kekuatan perguruan tinggi bukan hanya pada banyaknya program yang dijalankan, tetapi pada kemampuannya mengubah perilaku dalam skala besar. Perubahan penggunaan listrik di kampus dapat mengurangi konsumsi energi. Namun, perubahan kebiasaan ribuan mahasiswa dapat membawa dampak yang jauh lebih panjang karena pengetahuan dan perilaku tersebut berpotensi terus hidup ketika mereka kembali ke masyarakat.
Karena itu, keberlanjutan tidak dapat bergantung pada satu proyek atau segelintir orang yang memiliki kepedulian. Seluruh unsur perguruan tinggi, mulai dari tata kelola, fasilitas, laboratorium, kantin, anggaran, hingga proses pembelajaran, perlu bergerak sebagai satu ekosistem keberlanjutan.
Sri Sultan mengaitkan semangat tersebut dengan filosofi Jawa Hamemayu Hayuning Bawana. Kampus diharapkan mampu mendorong pengurangan emisi, pengelolaan air, ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah, mobilitas rendah karbon, serta riset yang menjawab persoalan ekologis secara nyata.
Sebagai kota pendidikan, Yogyakarta memiliki posisi strategis untuk menjadikan perguruan tinggi sebagai laboratorium peradaban hijau. Di dalamnya, ilmu pengetahuan tidak berhenti sebagai teori, teknologi tidak sekadar menjadi inovasi, dan mahasiswa tidak hanya menjadi penerima pengetahuan, tetapi tumbuh sebagai generasi yang memahami tanggung jawab merawat kehidupan.
Pemeringkatan, pada akhirnya, bukan garis finis. Ia menjadi cermin untuk melihat sejauh mana sebuah kampus bergerak dan apa yang masih harus diperbaiki. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan komitmen keberlanjutan tetap hidup dalam keputusan dan kebiasaan sehari-hari.
Sebab, kampus yang benar-benar hijau bukan hanya yang tampak hijau dari luar. Kampus hijau adalah kampus yang mampu menyalakan perubahan—dari ruang kelas, laboratorium, dan lingkungan kampus hingga kehidupan masyarakat. Seperti filosofi Urip iku urup, ilmu pengetahuan semestinya menjadi cahaya yang memberi manfaat dan menjaga kehidupan.
Humas Pemda DIY





