Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Menghadapi tantangan kesehatan pencernaan dan hati yang terus berkembang, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menekankan bahwa keberhasilan pelayanan kesehatan tidak cukup diukur dari kemampuan mengobati. Keberhasilan tersebut juga ditentukan oleh kemampuan mencegah, menemukan penyakit lebih awal, dan menjangkau masyarakat sebelum keadaan terlambat.
Hal tersebut ditekankan Sri Sultan dalam pembukaan Kongres Nasional & Pertemuan llmiah Nasional (KONAS & PIN) Tahun 2026 gabungan tiga organisasi profesi kedokteran terkemuka di Indonesia, yakni Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PGI), dan Perhimpunan Endoskopi Gastrointestinal Indonesia (PEGI), pada Sabtu (25/7). Berlangsung pada 23–26 Juli 2026 di The Alana Hotel & Convention Center, kegiatan ini mengusung tema besar ‘Challenges and Innovations in Gastroenterohepatology: From Research to Clinical Practice’.
Dalam sambutannya, Sri Sultan mengungkapkan, penyakit menular seperti hepatitis masih memerlukan perhatian serius. Pada saat yang sama, perubahan pola hidup, konsumsi yang kurang sehat, kurangnya aktivitas fisik, kegemukan, dan diabetes turut meningkatkan risiko gangguan hati serta penyakit saluran pencernaan. Bahkan, banyak di antara penyakit tersebut tumbuh secara perlahan tanpa keluhan yang mudah dikenali.
“Ketika gejala mulai dirasakan, kondisi sering kali telah menjadi lebih berat. Karena itu, keberhasilan pelayanan kesehatan tidak cukup diukur dari kemampuan mengobati, melainkan juga ditentukan oleh kemampuan mencegah, menemukan penyakit lebih awal, dan menjangkau masyarakat sebelum keadaan terlambat. Di sinilah kemajuan teknologi memperoleh tempatnya,” jelas Sri Sultan.
Menurut Sri Sultan, sistem digital dan kecerdasan buatan dapat membantu dokter membaca hasil pemeriksaan secara lebih teliti. Namun, ketepatan teknologi tetap memerlukan kebijaksanaan manusia. Keputusan medis membutuhkan ilmu, pengalaman, etika, kehati-hatian, dan empati.
“Sebab pasien bukan sekumpulan angka. Di hadapan dokter selalu berdiri manusia dengan riwayat hidup, kecemasan, keluarga, dan harapan untuk kembali sehat. Teknologi dapat memperkuat kemampuan diagnosis, tetapi tanggung jawab klinis tetap berada pada manusia,” tegas Sri Sultan.
Di samping itu, dikatakan Sri Sultan bahwa dalam pandangan Jawa, sehat dekat dengan makna waras. Pengertiannya namun bukan hanya keadaan ketika tubuh terbebas dari penyakit. Bagi Sri Sultan waras adalah keseimbangan antara raga, pikiran, batin, dan lingkungan kehidupan, yang mana ketika keseimbangan terganggu, tugas kedokteran hadir untuk memulihkan harmoni tersebut.
“Atas nama Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta dan masyarakat, saya menyampaikan selamat datang kepada seluruh peserta, termasuk para ahli yang hadir dari berbagai daerah dan negara. Yogyakarta menyambut forum ini dengan semangat Hamemayu Hayuning Bawana. Merawat keselamatan, memulihkan keseimbangan, dan menjaga keberlanjutan kehidupan,” ucap Sri Sultan.
Pertemuan ini dinilai Sri Sultan memiliki arti penting karena ilmu kedokteran tidak tumbuh dalam kesendirian. Penelitian memberi dasar bagi kemajuan; pengalaman klinis menguji ketepatannya; sementara penderitaan pasien mengingatkan bahwa muara dari seluruh pengetahuan kesehatan adalah keselamatan manusia.
Oleh karena itu, sebagaimana diajarkan falsafah Jawa ‘ngelmu iku kalakone kanthi laku’ yang berarti pengetahuan menemukan nilainya ketika diwujudkan dalam tindakan, Sri Sultan pun mengingatkan bahwa hasil penelitian harus bergerak melampaui ruang seminar. Temuan ilmiah perlu diterjemahkan menjadi pedoman pelayanan, peningkatan kemampuan tenaga kesehatan, serta akses pengobatan yang semakin merata.
“Saya berharap kongres ini melahirkan rekomendasi yang dapat dilaksanakan. Pencegahan perlu diperkuat; pemeriksaan dini harus diperluas; dan kemampuan diagnosis dan pengobatan harus terus ditingkatkan. Kolaborasi lintas disiplin juga perlu dibangun agar kemajuan ilmu benar-benar hadir sebagai manfaat bagi masyarakat. Semoga dari Yogyakarta lahir gagasan yang memperkuat ilmu kedokteran Indonesia, sekaligus memuliakan martabat setiap pasien,” pungkas Sri Sultan.
Senada dengan Sri Sultan, Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), Dr. dr. Andri Sanityoso, SpPD, K-GEH, FINASIM turut menekankan urgensi kolaborasi dalam menuntaskan masalah hepatitis di Indonesia. Sebab, data menunjukkan bahwa beban penyakit hati kronis di Indonesia masih sangat tinggi. Untuk itu, PPHI juga terus mendorong strategi nasional dalam mengeliminasi hepatitis.
“Kami di PPHI berkomitmen untuk terus mendorong kebijakan berbasis bukti, di antaranya, mulai dari optimalisasi skrining hepatitis B pada ibu hamil hingga pengenalan teknologi diagnostik baru seperti biomarker PIVKA-II untuk deteksi dini kanker hati. Acara ini pun menjadi langkah konkret untuk mempercepat eliminasi hepatitis 2030,” papar dr. Andri.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana KONAS & PIN PPHI-PGI-PEGI Yogyakarta 2026, dr. Putut Bayupurnama, SpPD, K-GEH, FINASIM melaporkan, konferensi ini dirancang sebagai forum komprehensif yang tidak hanya membahas isu-isu ilmiah terkini, tetapi juga kebijakan kesehatan nasional. Kegiatan ini menghadirkan lebih dari 20 sesi ilmiah, termasuk workshop berbasis simulasi mutakhir dan demonstrasi prosedur intervensi langsung.
“Tujuan kami adalah memastikan setiap peserta, baik dokter spesialis maupun umum, pulang dengan pengetahuan terbaru yang dapat diaplikasikan langsung untuk meningkatkan kualitas layanan kepada pasien,” ujar dr. Putut.
Sesi forum ilmiah juga menghadirkan pembicara internasional ternama, seperti Prof. Shuichiro Shiina dari Jepang, serta Prof. Kenichi Ikejima dan Prof. Raja Affendi Raja Ali dari Malaysia. Diharapkan kehadiran para pembicara tersebut dapat memperkaya wawasan peserta mengenai praktik terbaik global dan menjembatani kolaborasi riset antar negara, sekaligus mengangkat nama Indonesia di kancah kesehatan internasional.
Adapun, penyelenggaraan kongres ini merupakan wujud sinergi antara akademisi, klinisi, dan pemerintah dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan nasional. KONAS & PIN PPHI-PGI-PEGI 2026 menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menjadi ajang temu ilmiah, tetapi juga gerakan kolektif untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.
Kegiatan yang diselenggarakan bersama oleh Pengurus Gabungan PPHI-PGI-PEGI Cabang Yogyakarta, bekerja sama dengan Departemen/KSM Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada serta RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta ini diharapkan menjadi jembatan antara temuan riset terkini dengan penerapan praktik klinis di lapangan, khususnya dalam tata laksana penyakit gastroenterohepatologi yang semakin kompleks. Turut hadir mendampingi Sri Sultan dalam pembukaan kegiatan ini, Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr. Gregorius Anung Trihadi, M.P.H.
Humas Pemda DIY





