Sleman,REDAKSI17.COM – Sejarah peradaban manusia sesungguhnya dapat dibaca dari bagaimana manusia menjaga proses kelahiran. Saat ini, di tengah dunia yang bergerak semakin cepat oleh teknologi, tantangan terbesar peradaban kesehatan masa depan pun bukan hanya bagaimana membuat manusia hidup lebih lama, tetapi bagaimana menjaga agar kehidupan tetap lahir dengan martabat, keselamatan, dan kemanusiaan.
Hal demikian diungkapkan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutannya pada Pembukaan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) XVII Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia (HOGSI) 2026, Senin (11/05). Bertempat di Ballroom Kasultanan, Royal Ambarrukmo Hotel, pertemuan ilmiah tahunan HOGSI kali ini mengusung tema Implementasi Obstetri Ginekologi Sosial dalam Peningkatan Kuantitas & Kualitas Pelayanan Obstetri dan Ginekologi: Strategi Penurunan AKI, AKB serta Double Burden dengan Integrasi Kesehatan Reproduksi dan Hilirisasi Berbasis Kearifan Lokal.
Sri Sultan menuturkan, ketika perkembangan antiseptik, transfusi darah, antibiotik, hingga ultrasonografi berkembang pesat pada abad ke-20, dunia kedokteran berhasil mengubah persalinan dari peristiwa berisiko tinggi menjadi proses yang jauh lebih aman. Dan hari ini, dunia memasuki era baru, di mana precision medicine, kecerdasan buatan, fetal genomics, robotic surgery, hingga digital maternal monitoring mulai mengubah wajah pelayanan obstetri dan ginekologi secara fundamental.
“Namun menariknya, di tengah lompatan teknologi yang demikian maju, dunia kesehatan global justru sampai pada satu kesimpulan yang semakin dalam. Bahwa pelayanan kesehatan yang paling efektif, tetaplah pelayanan yang memahami manusia secara utuh. Bukan hanya tubuhnya. Tetapi juga budayanya. Psikologinya. Lingkungan sosialnya. Bahkan nilai-nilai yang hidup di sekitarnya,” ucap Sri Sultan.
Dikatakan Sri Sultan, hadirnya berbagai pendekatan global, seperti respectful maternity care, woman-centered care, dan cultural competency in healthcare semakin menegaskan bahwa pelayanan maternal modern tidak cukup hanya berorientasi klinis, tetapi juga harus menghormati pengalaman, martabat, dan konteks budaya ibu. Menurut Sri Sultan, pandangan ini sejalan dengan gagasan Maurice Merleau-Ponty melalui “Fenomenologi Persepsi”, yang memandang tubuh manusia bukan sekadar objek biologis, melainkan ruang pengalaman dan kesadaran yang dihayati.
“Dalam konteks persalinan, pengalaman melahirkan menjadi pengalaman eksistensial yang menyentuh dimensi fisik, psikologis, sosial, dan budaya secara bersamaan. Karena itu, teori ekologi perkembangan manusia juga menegaskan bahwa kesehatan ibu dan anak tidak dapat dipisahkan dari ekosistem yang melingkupinya, mulai dari keluarga, komunitas, institusi, kebijakan, hingga nilai budaya yang hidup di masyarakat,” tutur Sri Sultan.
Sri Sultan mengutarakan, kesadaran tersebut pun telah lama hidup dalam kebudayaan masyarakat. Di mana dalam khazanah budaya Jawa, proses kelahiran tidak pernah dipandang sebagai peristiwa biologis semata, melainkan peristiwa peradaban. Sejak tanda pertama kehamilan terdeteksi, bahkan masyarakat Jawa telah menyiapkan serangkaian upacara daur hidup yang bersifat preventif, psikologis, sosial, dan spiritual sekaligus.
Lebih lanjut, Sri Sultan pun menjelaskan, dalam tradisi Jawa, daur kehamilan hingga kelahiran sesungguhnya membentuk sebuah sistem dukungan sosial yang terstruktur. Dimulai dari ngabor-abori pada usia kandungan satu bulan sebagai penanda bahwa kehamilan telah diakui dan dijaga bersama oleh komunitas, lalu berlanjut pada rangkaian ngloroni hingga nglimani pada bulan kedua sampai kelima sebagai bentuk pengawalan sosial dan spiritual terhadap ibu hamil.
Puncaknya adalah mitoni atau tingkeban pada usia tujuh bulan, yang berasal dari kata pitu sekaligus bermakna pitulungan atau pertolongan, di mana keluarga dan lingkungan secara kolektif hadir memberi doa, dukungan moral, dan penguatan psikologis bagi calon ibu. Tradisi ini kemudian diteruskan melalui ngwoloni dan nyangani pada bulan kedelapan dan kesembilan sebagai bentuk pendampingan menjelang persalinan agar ibu tidak menghadapi fase paling kritis seorang diri.
Disebutkan Sri Sultan, setelah bayi lahir, tradisi Jawa juga tetap menghadirkan mekanisme sosial dan simbolik yang kuat, mulai dari mendhem ari-ari yang memaknai hubungan manusia dengan bumi dan asal kehidupannya, hingga brokohan sebagai ungkapan syukur sekaligus penggerak dukungan sosial bagi ibu baru. Selanjutnya, terdapat sepasaran pada hari kelima sebagai penanda keberhasilan melewati masa paling rentan pasca-kelahiran, puputan saat tali pusar lepas sebagai tonggak keselamatan neonatal berikutnya, dan selapanan pada hari ke-35 yang menandai bayi memasuki fase pertumbuhan awal.
Sri Sultan mengimbuhkan, jika dibaca melalui perspektif kesehatan modern, seluruh rangkaian tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Jawa sejak lama telah membangun model pendampingan maternal dan neonatal berbasis komunitas, yang secara sosial, emosional, dan spiritual memiliki keselarasan dengan prinsip-prinsip kesehatan ibu dan anak kontemporer. Model ini, terbukti secara klinis mengurangi distres persalinan, memperpendek durasi persalinan, dan menurunkan risiko operasi caesar.
“Berdasarkan konteks-konteks itulah, saya memandang tema pertemuan ilmiah hari ini, memiliki makna yang sangat mulia. Kita tidak sedang memilih antara modernitas atau tradisi. Kita sedang membangun masa depan kesehatan Indonesia, melalui perjumpaan antara ilmu kedokteran modern, teknologi kesehatan, riset ilmiah, dan kebijaksanaan budaya,” terang Sri Sultan.
Sebab, dari rahim yang sehat, lahirlah generasi yang kuat. Dari generasi yang kuat, lahir bangsa yang bermartabat. Dan dari bangsa yang bermartabat, lahirlah masa depan peradaban. “Semoga forum ini melahirkan gagasan-gagasan besar, kolaborasi lintas disiplin yang produktif, dan komitmen nyata, untuk menjaga setiap ibu Indonesia dalam keselamatan, martabat, dan penghormatan yang setinggi-tingginya,” pungkas Sri Sutan.
Pada kesempatan yang sama, Ketua PP HOGSI – Prof. Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, Sp.OG, Subsp. Obginsos, MP menerangkan, Himpunan Obstetri Ginekologi Sosial adalah salah satu cabang dari ilmu Obstetri Ginekologi, yang memberikan penekanan kepada upaya untuk memperbaiki kualitas dari pelayanan obstetri ginekologi, khususnya melalui pendidikan, pelatihan yang berkualitas, dan kolaborasi. Dengan kolaborasi yang baik dengan pemerintah daerah, dalam hal ini kekarifan lokal, himpunan profesi ini berusaha untuk membantu meningkatkan kesehatan ibu, sebagai tonggak dari generasi emas Indonesia.
“Kita paham bahwa stunting yang saat ini menjadi beban dari negara, dimulai dengan pertumbuhan di dalam rahim seorang ibu selama 270 hari. Tanpa ibu yang sehat maka bayinya akan terlahir kecil, dan bayi yang terlahir kecil sudah menyumbang 6 kali lipat kemungkinan untuk menjadi stunting,” tegas Dwiana.
Menurut Dwiana, makanan bergizi tidak hanya diberikan kepada anak ataupun bayi yang baik, tetapi juga harus diberikan kepada para ibu beserta perawatan kesehatan yang baik. Dengan demikian 270 hari pertama di dalam kandungan akan menghasilkan calon-calon generasi muda emas yang masih membutuhkan seribu hari sisanya dengan perawatan 2 tahun dari sang ibu.
“Kita sudah sama-sama tahu bahwa program stunting hanya bisa berhasil apabila di dalam kandungan seorang ibu, ibunya sehat, dan selama 2 tahun pertama ibunya sehat untuk memberikan perawatan termasuk air susu ibu kepada bayinya. Tidak mungkin kita bisa menghalau stunting tanpa ibu yang sehat. Karena itulah HOGSI berusaha untuk meningkatkan kualitas dari ibu melalui pendidikan calon dokter, berkolaborasi dengan para bidan dan perawat untuk menangani kesehatan ibu,” papar Dwiana.
Kolaborasi ini pun dinilai sangat penting bagi pihak Dwiana. Oleh karena itu, sejak awal dibentuknya HOGSI, pihak Dwiana telah terlibat dalam pelatihan-pelatihan bidan, perawat, dan juga dokter untuk bersama-sama pada layanan primer membangun kesehatan ibu. Selain itu, HOGSI juga terus berkomitmen untuk memperkuat kemitraan dengan institusi pendidikan kedokteran, melalui workshop-workshop yang tidak hanya berkaitan dengan keterampilan atau skill di bidang pendokteran, tetapi juga skill, pengalaman atau keterampilan dalam bidang pendidikan dan pelatihan.
“Bersama-sama dalam pertemuan ilmiah tahunan, mari kita merangkai keilmuan kita dengan kemampuan kita untuk mengajar, kemampuan kita untuk melatih, sehingga kita bisa berkolaborasi dan membantu pemerintah untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta double burden,” tutup Dwiana.
Adapun PIT XVII HOGSI 2026 diselenggarakan dengan serangkaian agenda, meliputi simposium, workshop, dan forum. Workshop digelar pada 8-12 Mei 2026, sedangkan simposium dilaksanakan pada 11-13 Mei 2026 berpusat di Royal Ambarrukmo Hotel.
Humas Pemda DIY




