Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Komitmen memperkuat ekonomi rakyat ditegaskan melalui peluncuran ekosistem Becak Kayuh Listrik Pariwisata (Bekalista) dan pembukaan Pasar Rakyat Ultra Mikro (UMi) 2026 oleh Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa bersama Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Sasana Hinggil, Alun-Alun Kidul Yogyakarta, Kamis (16/07). Program ini menjadi bagian dari upaya memperluas pemberdayaan pelaku usaha kecil sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sebelum menghadiri acara, Menteri Keuangan dan Gubernur DIY menempuh perjalanan menggunakan Bus Jogja Heritage Track (JHT) dari Kompleks Kepatihan menuju Alun-Alun Kidul. Perjalanan yang melintasi kawasan Malioboro dan Pasar Ngasem tersebut menjadi simbol sinergi antara pelestarian budaya dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Dalam sambutannya, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan kehadiran Menteri Keuangan beserta jajaran di Yogyakarta menunjukkan komitmen pemerintah dalam menghadirkan kebijakan yang semakin dekat dengan masyarakat. Menurut Sri Sultan, kebijakan fiskal harus mampu memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha kecil dan masyarakat luas.
“Atas nama Pemerintah Daerah dan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta, saya mengucapkan selamat datang kepada Bapak Menteri Keuangan beserta seluruh rombongan. Kehadiran Bapak Menteri meneguhkan bahwa kebijakan fiskal negara dapat hadir dekat dengan kehidupan masyarakat, menyentuh pelaku usaha kecil, serta menggerakkan ekonomi rakyat secara nyata,” ujar Sri Sultan.
Sri Sultan menegaskan, peluncuran Bekalista bukan sekadar menghadirkan moda transportasi baru, melainkan upaya mengintegrasikan pelestarian budaya, peningkatan kesejahteraan pengemudi becak, dan pengembangan transportasi ramah lingkungan.
Menurut Sri Sultan, becak telah lama menjadi bagian dari identitas Yogyakarta sekaligus sumber penghidupan masyarakat. Karena itu, pelestarian becak harus diikuti peningkatan kualitas hidup para pengemudinya melalui dukungan teknologi yang tepat guna.
“Melestarikan becak tidak berarti melestarikan kelelahan para pengemudinya. Tradisi harus memperoleh dukungan teknologi agar tetap hidup, berdaya guna, dan memberi kehidupan yang lebih layak bagi manusia yang menjaganya,” tegas Sri Sultan.
Lebih lanjut, Sri Sultan mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam membangun ekosistem Bekalista yang dilengkapi stasiun pengisian daya, bengkel induk, bengkel bergerak, serta baterai cadangan. Menurutnya, transformasi yang berkelanjutan membutuhkan dukungan sistem pemeliharaan, peningkatan kapasitas pengemudi, keselamatan, dan kepastian layanan.
Sri Sultan berharap Bekalista dapat menjadi bagian dari mobilitas kawasan pusaka yang tertib, bersih, manusiawi, dan ramah lingkungan. Kehadirannya diharapkan mampu menghubungkan kawasan wisata, pasar rakyat, sentra kerajinan, pusat kuliner, hingga kampung budaya sehingga turut menggerakkan ekonomi lokal.
Sementara itu, Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa secara resmi membuka Pasar Rakyat UMi 2026 yang menghadirkan sekitar 200 pelaku UMKM binaan Pusat Investasi Pemerintah (PIP). Kegiatan tersebut menjadi sarana promosi produk unggulan sekaligus memperluas akses pasar bagi pelaku usaha ultra mikro.
Selain menghadirkan produk UMKM, Pasar Rakyat UMi 2026 juga menyediakan paket sembako murah, layanan Kementerian Keuangan, Samsat, pajak daerah, berbagai perlombaan, dan hiburan masyarakat. Menkeu mengajak masyarakat untuk mendukung UMKM dengan membeli serta mempromosikan produk lokal agar usaha mereka terus berkembang.
Dalam kesempatan itu, Purbaya memperkenalkan program Bekalista yang dikembangkan Kementerian Keuangan melalui Pusat Investasi Pemerintah (PIP) sebagai bagian dari transformasi transportasi wisata ramah lingkungan. Program tersebut mencakup hibah 80 unit Bekalista, pembangunan 12 stasiun pengisian daya, satu bengkel bergerak, delapan baterai cadangan, serta bengkel induk di SMK Negeri 3 Yogyakarta. Seluruh pengembangannya melibatkan tenaga kerja lokal, mulai dari proses pabrikasi, perakitan, kelistrikan, hingga pengembangan teaching factory.
Program Bekalista juga mendukung penataan kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta, khususnya di ruas Jalan Malioboro. Pada tahap awal, sebanyak 15 unit Bekalista diserahkan kepada pengemudi becak yang tergabung dalam koperasi dan beroperasi di kawasan Malioboro. Bantuan tersebut diprioritaskan untuk mendukung penerapan Malioboro sebagai kawasan pedestrian sekaligus low emission zone.
Skema hibah dilakukan melalui mekanisme scrapping, yakni setiap penerima satu unit Bekalista wajib menyerahkan satu unit becak motor yang dimiliki untuk ditarik dari operasional. Melalui skema tersebut diharapkan terjadi migrasi bertahap menuju moda transportasi yang lebih ramah lingkungan. Ke depan, kawasan Malioboro ditargetkan dapat dilayani oleh becak kayuh tradisional maupun becak kayuh dengan penguat tenaga listrik sehingga terbebas dari operasional becak motor.
Sebelum hibah dilaksanakan, Dinas Perhubungan DIY bersama Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta melakukan verifikasi terhadap calon penerima bantuan untuk memastikan program tepat sasaran bagi pengemudi becak yang aktif beroperasi di kawasan Malioboro. Para penerima juga menyatakan kesediaan secara sukarela untuk menyerahkan becak motor yang dimiliki sebagai bagian dari komitmen peralihan moda transportasi.
Dishub DIY dan Dishub Kota Yogyakarta turut melakukan pemeriksaan teknis terhadap unit Bekalista guna memastikan spesifikasi kendaraan telah sesuai dengan Keputusan Gubernur DIY Nomor 234 Tahun 2026 tentang Persyaratan Teknis Becak Kayuh dengan Penguat Tenaga Listrik. Dengan demikian, kendaraan yang diserahkan kepada pengemudi berada dalam kondisi aman, laik jalan, dan siap melayani wisatawan di kawasan Malioboro dan sekitarnya.
Selain memperkuat transportasi wisata dan ekonomi rakyat, program Bekalista juga menjadi bagian dari penguatan pendidikan vokasi di DIY. Dalam proses produksinya, PIP bekerja sama dengan sejumlah SMK di DIY dengan pusat produksi berada di workshop SMK Negeri 3 Yogyakarta. Kolaborasi tersebut melibatkan siswa dan tenaga pendidik dalam proses manufaktur, perakitan, kelistrikan, serta pengembangan teknologi kendaraan ramah lingkungan berbasis kebutuhan masyarakat.
“Tradisi bukan menghalangi kemajuan, tetapi memberi arah agar kemajuan tidak kehilangan jati diri,” ujar Purbaya.
Menurut Purbaya, pemberdayaan ekonomi rakyat perlu dilakukan melalui pendekatan yang menyeluruh, mulai dari akses pembiayaan, penguatan kapasitas usaha, pemanfaatan teknologi, hingga perluasan pasar. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga menjadi pelaku utama pertumbuhan ekonomi.
Menutup sambutannya, Purbaya menegaskan bahwa kekuatan ekonomi nasional bertumpu pada ketangguhan rakyat dan pelaku usaha kecil. ” Dari Yogyakarta, mari kita kirimkan pesan kepada Indonesia. Ekonomi yang kuat tumbuh dari rakyat. Hari ini yang kita elektrifikasi bukan sekadar becak, yang kita nyalakan adalah peluang, harapan, dan masa depan keluarga,” pungkasnya.
Humas Pemda DIY




