“AS MENJALANKAN OPERASI EKONOMI PALING MELUMPUHKAN YANG PERNAH DILAKUKAN TERHADAP NEGARA MANA PUN, ” ujarnya dalam sebuah unggahan di Truth Social, Kamis.
AS sedianya telah berulang kali menerapkan dan menambah sanksi ekonomi pada Iran sejak revolusi Islam pada 1979. Sanksi puluhan tahun itu mematikan bagi warga Iran karena berdampak juga pada layanan dasar seperti kesehatan.
Bagaimanapun, Iran menemukan caranya bertahan dari sanksi brutal tersebut dengan memperkuat kemandirian ekonomi dan teknologi. Sejak Februari lalu, AS bersama Israel melakukan serangan besar-besaran ke Iran dengan tujuan menggulingkan rezim. Serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi Ali Khamenei dan ribuan warga Iran itu gagal membuat Iran takluk dan justru membahayakan sekutu AS di kawasan.
Trump sesumbar mengatakan, “Tidak ada seorangpun yang memberikan kesempatan lebih besar kepada Republik Islam Iran untuk mencapai kesepakatan selain saya. ”
“SAYANGNYA, bagi mereka, mereka gagal memanfaatkannya.Oleh karena itu, hari ini, saya mengumumkan OPERASI EKONOMI PALING MELUMPUHKAN YANG PERNAH DILAKUKAN TERHADAP NEGARA MANA PUN!”
Ia memperingatkan bahwa “Ini akan menjadi Perang Ekonomi dan Isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.” Ia mengulangi klaimnya bahwa “Angkatan laut mereka telah lenyap, angkatan udara mereka hancur, pabrik-pabrik militer mereka kini tinggal puing, mata uang mereka tidak bernilai, dan negara mereka berada di ujung tanduk.”
“Hari ini, saya juga mengumumkan bahwa negara MANA PUN yang membiarkan lembaga keuangan, bisnis, bandara, atau entitas pemerintahnya memberikan bantuan penyelamatan apa pun kepada Iran akan menghadapi Konsekuensi Ekonomi yang SANGAT BESAR,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Penyelundupan minyak, fasilitas pertukaran mata uang (swap lines), transfer uang tunai, tempat penukaran mata uang, registrasi kapal, perusahaan boneka — Semua itu harus dihentikan SEKARANG.” Ia menyatakan AS telah mencatat pihak-pihak yang melakukan transaksi dengan Iran.
“Ini akan menjadi D-Day Ekonomi,” ujarnya merujuk serangan besar-besaran AS ke Pantai Normandia di Prancis pada Perang Dunia II.
Trump juga menyerukan kepada sekutu untuk berdiri bersama Amerika Serikat guna mengisolasi, dan mengalahkan, ancaman Iran. “Para orang gila ini sedang terdesak, dan LANGKAH-LANGKAH BERSEJARAH ini akan melumpuhkan mereka serta kemampuan mereka untuk menyebarkan teror ke seluruh dunia,” kata Trump.
Gubernur Bank Sentral Iran, Abdolnaser Hemmati, mengatakan bahwa tidak ada satu pun dana perbankan luar negeri milik negara tersebut yang telah dikembalikan, meskipun terdapat kesepakatan pada bulan Juni dengan Amerika Serikat yang secara sementara menangguhkan sejumlah sanksi perbankan dan ekonomi.
“Sejauh ini, tidak ada dana dari aset yang dibekukan tersebut yang telah dicairkan berdasarkan ketentuan kesepakatan itu,” ujar Hemmati kepada lembaga penyiaran negara Iran, IRIB.
Nota Kesepahaman bulan Juni, yang bertujuan mengakhiri ketegangan selama berbulan-bulan antara AS dan Iran, telah berakhir masa berlakunya pada hari Senin. Hemmati juga mengatakan bahwa penurunan pendapatan dari sektor minyak dan pajak telah berdampak buruk pada perekonomian negara.
“Meskipun harapan dan tuntutan masyarakat akan perbaikan sangat dihargai dan beralasan, penurunan yang terjadi secara bersamaan pada pendapatan minyak, pendapatan pajak, dan iuran jaminan sosial telah memengaruhi seluruh sektor serta pilar perekonomian negara,” ujarnya.
Menurut kantor berita Iran, Fars, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa AS ingin “menjarah negara-negara di kawasan tersebut”.
“Amerika telah mendekati negara-negara Teluk Persia dan kawasan ini untuk menjarah sumber daya mereka,” ujarnya dalam pertemuan dengan Presiden Irak di Baghdad, sebagaimana dilaporkan Fars.
“Iran, Irak, dan bangsa mereka yang besar telah menyadari bahwa masalah terbesar dan penyebab utama segala persoalan di kawasan ini adalah Amerika. Pihak Amerika telah kalah dalam perang ketiga yang dipaksakan, baik dari segi militer maupun politik,” katanya.





