GONDOMANAN,REDAKSI17.COM – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) mengadakan upacara puncak peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di kompleks Benteng Vredeburg Yogyakarta. Upacara peringatan itu menjadi momentum untuk melakukan refleksi terkait pengasuhan anak dalam keluarga di mana ayah wajib hadir tidak hanya ibu. Pemerintah Kota Yogyakarta mendukung tema Ayah Wajib Hadir dan mengajak orang tua memastikan kondisi anaknya berada di rumah dalam penerapan jam malam anak.
Upacara peringatan Harganas ke-33 itu dipimpin oleh Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga RI, Wihaji. Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo didampingi istrinya Dwi Kisworo Setyowireni selaku Ketua TP PKK Kota Yogyakarta mengikuti upacara itu. Para peserta upacara juga menggunakan pakaian nusantara atau adat dari berbagai daerah.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga RI, Wihaji mengatakan peringatan Harganas bukan sekadar untuk seremonial, melainkan sebuah jeda kultural dan refleksi nasional. Terutama ketangguhan keluarga dalam pengasuhan anak di tengah dinamika teknologi. Ketangguhan keluarga berkorelasi linear dengan masa depan Indonesia. Oleh karena itu, transformasi kualitas sumber daya manusia (SDM) tidak boleh ditunda, tapi dari pengasuhan keluarga.
“Perbaikan kualitas SDM ini mustahil terwujud jika beban pengasuhan hanya diletakkan di pundak ibu. Pada momentum ini, saya ingin berpesan khusus kepada para ayah di seluruh Indonesia. Kehadiran fisik dan kedekatan emosional Anda adalah penentu kestabilan struktur kepribadian anak,” kata Wihaji saat upacara peringatan Harganas ke-33, Senin (29/6/2026).
Wihaji mengingatkan agar jangan membiarkan anak-anak tumbuh dalam fenomena fatherless country, di mana ayah hadir secara fisik namun absen secara psikologis. Menurutnya kekosongan itu sering digantikan oleh gawai yang dapat mempengaruhi pola pikir anak. Dia mengajak para orang tua khususnya ayah berdialog dengan anak-anak di rumah dan membatasi waktu penggunaan gawai dan mengarahkan kepada hal-hal yang produktif.
“Kelalaian pengasuhan dan absennya figur orang tua ini memiliki dampak langsung pada meledaknya patologi sosial. Tawuran antar pelajar, perundungan, pergaulan bebas, hingga cengkraman narkoba adalah alarm darurat bahwa fungsi keluarga sedang malafungsi. Anak-anak yang terjerumus dalam kekerasan atau narkoba sering kali adalah mereka yang kurang kasih sayang di rumah sehingga mencari pelarian semu di jalanan,” terangnya.
Pihaknya mengimbau seluruh orang tua untuk menangkal semua ancaman tersebut dari dalam rumah sendiri. Wihaji menilai benteng pertahanan terbaik adalah ketahanan keluarga. Jadikan rumah sebagai tempat yang paling aman dan dirindukan. Dia juga mengajak untuk memperbaharui paradigma keluarga bukan sekedar unit terkecil masyarakat, melainkan hulu dari segala kebijakan publik dan penentu arah pembangunan nasional.
Sementara itu Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo memberikan apresiasi terkait tema peringatan Harganas Ayah Wajib Hadir. Hasto berpendapat tema itu mengingatkan sesuatu yang biasanya tidak diperhatikan oleh keluarga, yaitu bagaimana peran ayah bisa hadir dalam hal mengasuh, melindungi keluarga. Dicontohkan gerakan ayah mengambil raport ternyata memberikan makna dan kesan tersendiri bagi dirinya. Pemkot Yogyakarta menerapkan kehadiran orang tua atau ayah ibu dalam pengasuhan dengan memastikan anaknya berada di rumah di malam hari terkait pemberlakuan jam malam anak.
“Saya kira Hari Keluarga Nasional ini dengan tema Ayah Wajib Hadir itu menjadi sesuatu inspirasi yang luar biasa. Di Yogya itu implementasinya begini. Ada jam malam untuk (anak) keluarga. Dalam hal ini kadang-kadang ayah, ibu itu belum tentu mengecek anaknya sudah pulang atau belum sampai jam sepuluh malam. Makanya ketika itu kemarin ada ibu memanggil misalnya begitu. Sebetulnya jangan hanya ibu saja sehingga kita menerapkannya orang tua ayah ibu harus mengecek anaknya,” pungkas Hasto ditemui usai upacara.
