Umbulharjo,REDAKSI17.COM-Pemerintah Kota Yogyakarta menyambut baik penyelenggaraan Perayaan Waisak Sannipatta Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Tahun 2026 yang digelar di Graha Pandawa Balai Kota Yogyakarta, Sabtu (13/6/2026).

Hal tersebut disampaikan oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo saat menghadiri acara tersebut. Hasto mengatakan momentum peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 Buddhis Era tersebut dapat menjadi sarana penting untuk memperkuat nilai-nilai perdamaian, toleransi, dan kerukunan di tengah keberagaman masyarakat Kota Yogyakarta.

Menurut Hasto, Hari Raya Waisak merupakan momentum suci yang mengingatkan umat Buddha pada tiga peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Gautama, yakni kelahiran Pangeran Siddhartha, pencapaian Pencerahan Sempurna, dan Parinibbana atau wafatnya Sang Buddha. Ketiga peristiwa tersebut diyakini terjadi pada hari yang sama, yaitu saat bulan purnama di bulan Waisak, meski berlangsung pada tahun yang berbeda.

“Sementara nilai-nilai Dharma dapat menjadi sumber moral dan kebajikan yang mampu membimbing masyarakat menghadapi berbagai tantangan zaman. Semangat Waisak juga diharapkan mampu menumbuhkan ketenteraman, toleransi, serta kerukunan antarumat beragama dan antarwarga masyarakat,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Hasto turut menyoroti keberagaman yang menjadi salah satu kekuatan utama Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia menyebut Kota Yogyakarta sebagai daerah yang dihuni oleh masyarakat dari berbagai latar belakang suku, etnis, agama, budaya, dan tradisi.

“Meski berbeda-beda, seluruh elemen masyarakat memiliki tujuan yang sama untuk membangun bangsa yang damai, adil, makmur, dan sejahtera,” jelasnya.

Tema Waisak tahun ini, lanjutnya, mengandung pesan penting agar masyarakat terus memperkuat persaudaraan, menebarkan kebaikan, mengedepankan dialog, dan menjaga kerukunan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo saat menerima cinderamata

“Dharma sebagai sumber moral dan kebijaksanaan, cinta kasih, serta perdamaian dunia hendaknya menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus memperkuat persaudaraan dan menjaga kerukunan,” ujarnya.

Ia juga meyakini bahwa ajaran welas asih dan kebijaksanaan dalam agama Buddha dapat semakin memperkokoh persatuan dan kesatuan, memperkuat gotong royong, serta meningkatkan solidaritas sosial di tengah masyarakat Yogyakarta yang majemuk.

Hasto pun mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan peringatan Waisak sebagai momentum memperkuat semangat kebersamaan dan perdamaian.

Sementara itu Ketua Vasakha Sananda DIY, Totok Tejamanto mengatakan Perayaan Waisak tahun ini mengambil tema “Dharma Menjaga Perdamaian Dunia”. Dari tema ini, lanjutnya, masyarakat diajak untuk terus menjaga kedamaian, toleransi, dan keharmonisan sosial di tengah berbagai tantangan global maupun dinamika kehidupan bermasyarakat.

Diakhir acara dilakukan prosesi penyalaan Lilin Perdamaian yang menjadi simbol harapan akan terciptanya kedamaian, persatuan, dan keharmonisan.

Prosesi tersebut diiringi lagu Malam Suci Waisak karya Bhikkhu Girirakhito dan diakhiri dengan sesi penyerahan cenderamata serta foto bersama sebagai simbol kebersamaan lintas unsur pemerintahan, tokoh agama, dan masyarakat. (Han)