Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Yogyakarta saat ratusan anak yatim dan penyandang disabilitas mengikuti kegiatan Lebaran Yatim dan Disabilitas serta Bulan Wakaf Nasional Muharram 1448 H/2026 M bertema “Pesan Inklusif dari Jiwa Anak untuk Negeri”, Kamis (25/6).
Sebanyak 100 peserta yang berasal dari Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (YAKETUNIS), anak yatim binaan Kantor Urusan Agama (KUA) se-Kota Yogyakarta, serta siswa MIN 1 Yogyakarta mengikuti rangkaian kegiatan edukatif, interaktif, dan kolaboratif yang bertujuan menumbuhkan kepedulian sosial, literasi zakat dan wakaf, serta semangat inklusi sejak dini.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengajak seluruh peserta untuk tidak berkecil hati dengan kondisi yang dimiliki. Menurutnya, kualitas seseorang tidak hanya ditentukan oleh kesempurnaan fisik, tetapi terutama oleh kekuatan jiwa dan mental.
“Kita sering melihat orang mengejar kesempurnaan fisik. Padahal yang jauh lebih menentukan kualitas hidup adalah jiwa dan mental. Karena itu para pendiri bangsa mengajarkan, bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Jiwa ditempatkan lebih dulu karena itulah yang menjadi fondasi kehidupan,” ungkap Hasto.

Hasto menuturkan banyak orang yang secara fisik sempurna, namun tidak mampu memberikan manfaat bagi lingkungan karena tidak memiliki ketangguhan mental. Sebaliknya, banyak penyandang disabilitas yang mampu menunjukkan prestasi dan memberikan inspirasi bagi masyarakat.
Ia juga mengapresiasi penampilan para peserta disabilitas yang menunjukkan kemampuan luar biasa dalam bidang seni dan keagamaan selama acara berlangsung.

Kepada anak-anak yatim, Hasto berpesan agar tetap optimistis meraih cita-cita setinggi mungkin. Menurutnya, kehilangan orang tua bukanlah penghalang untuk menjadi pribadi yang berhasil karena masih banyak guru, keluarga, dan masyarakat yang siap memberikan dukungan dan bimbingan.
“No one left behind, tidak boleh ada seorang pun yang ditinggalkan. Semua harus diperhatikan dan diberi kesempatan yang sama untuk berkembang,” pungkasnya.
Sebagai bentuk dukungan nyata, selain santunan dan bingkisan dari Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Kementerian Agama Kota Yogyakarta, Hasto juga menambahkan santunan pribadi sebesar Rp100 ribu kepada setiap peserta.

Sementara itu Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta, Ahmad Shidqi, menjelaskan kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari instruksi Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI untuk menyemarakkan bulan Muharram dengan memberikan perhatian kepada anak-anak yatim di seluruh Indonesia.
“Kegiatan ini dilaksanakan serentak secara nasional bertepatan dengan 10 Muharram yang dikenal sebagai Lebarannya anak-anak yatim. Di Kota Yogyakarta kami menghadirkan 100 perwakilan anak yatim dan penyandang disabilitas yang berasal dari kemantren dan lembaga sosial,” ujarnya.
Menurut Ahmad Shidqi, seluruh peserta menerima bingkisan perlengkapan salat dan santunan yang bersumber dari dana zakat Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta.
Ia menambahkan, pemilihan Pendopo Rumah Dinas Wali Kota sebagai lokasi kegiatan juga bertujuan memberikan pengalaman berharga bagi anak-anak untuk lebih dekat dengan pemimpin daerahnya.
“Kami ingin anak-anak merasakan secara langsung hadir di rumah dinas wali kota, mengenal lebih dekat pemimpinnya, dan merasakan bahwa mereka adalah bagian penting dari Kota Yogyakarta,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, salah satu peserta, Kuswantoro, penyandang tunanetra sekaligus atlet berprestasi asal Kota Yogyakarta, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut dan bertemu langsung dengan Wali Kota Yogyakarta.
“Acara ini sangat bermanfaat bagi anak-anak yatim dan penyandang disabilitas. Selain mendapat bingkisan dan bantuan untuk menunjang pendidikan, kami juga merasa diperhatikan dan dihargai,” ujarnya.
Peraih medali emas dan perak cabang atletik pada Peparnas 2024 di Solo itu juga mengajak sesama penyandang disabilitas untuk terus semangat mengembangkan potensi yang dimiliki.
“Walaupun memiliki keterbatasan, pasti ada kelebihan yang bisa dikembangkan. Tetap semangat, gali potensi dan kemampuan yang dimiliki karena prestasi tidak datang dengan mudah, tetapi bisa diraih dengan kerja keras dan motivasi yang kuat,” pesannya.
