Beranda / Politik / Ziarah ke Makam Proklamator, AMY: Dari Bung Hatta Kita Belajar Demokrasi dan Ekonomi Kerakyatan

Ziarah ke Makam Proklamator, AMY: Dari Bung Hatta Kita Belajar Demokrasi dan Ekonomi Kerakyatan

    
Presiden PKS, Almuzzammil Yusuf (AMY) berziarah ke makam Proklamator RI Bung Hatta (Donny/PKSFoto)
Presiden PKS, Almuzzammil Yusuf (AMY) berziarah ke makam Proklamator RI Bung Hatta (Donny/PKSFoto)

JAKARTA,REDAKSI17.COM — Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Almuzzammil Yusuf (AMY) berziarah ke makam Proklamator Republik Indonesia Mohammad Hatta di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta, Kamis (13/8/2026). Ziarah tersebut dilakukan dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

AMY didampingi Sekretaris Jenderal PKS Muhammad Kholid serta jajaran pengurus DPP PKS. Dalam kesempatan tersebut, AMY bersama keluarga besar PKS memanjatkan doa untuk Bung Hatta dan mengenang jasa serta perjuangannya dalam mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan.

“Kami hari ini bersama keluarga besar DPP PKS, dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan negara kita, berziarah ke makam Proklamator. Hari ini ke makam Bung Hatta, dan besok saudara-saudara kami di Jawa Timur berziarah ke makam Bung Karno,” ujar Almuzzammil.

Menurut AMY, peran Bung Karno dan Bung Hatta sangat besar dalam mengantarkan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan. Karena itu, generasi saat ini perlu terus belajar dari keteladanan dan pemikiran para Bapak Bangsa.

“Peran Bung Karno dan Bung Hatta sangat besar mengantarkan bangsa ini menuju kemerdekaan. Kita banyak belajar dari Bapak Bangsa. Dari Bung Hatta, kami belajar tentang demokrasi ekonomi, terutama Pasal 33 UUD 1945,” katanya.

AMY menilai pemikiran Bung Hatta mengenai ekonomi kerakyatan tetap relevan untuk menjawab berbagai persoalan bangsa. Gagasan tentang koperasi, asas kekeluargaan, gotong royong, serta pengelolaan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat merupakan warisan pemikiran yang penting untuk terus dihidupkan.

“Beliau menanamkan soko guru ekonomi gotong royong, kekeluargaan, koperasi, serta pengelolaan sumber daya alam yang dikelola negara untuk kemakmuran rakyat,” tutur AMY.

Selain pemikiran ekonomi, AMY menyebut gagasan Bung Hatta mengenai demokrasi, budaya musyawarah, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia juga masih relevan hingga saat ini.

Menurutnya, warisan pemikiran Bung Hatta tidak cukup hanya dikenang dalam buku sejarah, tetapi perlu diterjemahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya dalam menghadapi tantangan sosial, politik, dan ekonomi yang terus berkembang.

“Sebagai pemikir, gagasan Mohammad Hatta terkait koperasi dan ekonomi kerakyatan dengan asas kekeluargaan masih relevan untuk menjawab persoalan ekonomi bangsa. Pemikiran Hatta mengenai demokrasi, budaya musyawarah, dan HAM juga relevan hingga hari ini untuk menjawab berbagai tantangan sosial dan politik,” jelasnya.

AMY juga mendoakan agar seluruh perjuangan Bung Hatta dan Bung Karno dalam mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan menjadi amal ibadah yang besar di sisi Allah SWT.

“Semoga kedua Proklamator yang mengantarkan bangsa Indonesia ke gerbang kemerdekaan menjadi amal ibadah besar di akhirat kelak,” pungkasnya.

Sementara itu, putri Bung Hatta, Meutia Hatta, menyampaikan apresiasi kepada pimpinan dan keluarga besar PKS yang berziarah ke makam ayahnya. Ia mengaku terharu karena PKS kembali hadir untuk mendoakan Bung Hatta dalam momentum menyambut kemerdekaan Indonesia.

“Terima kasih kepada pimpinan PKS. Kami terharu karena tahun ini PKS berada di sini dalam rangka berdoa untuk ayah kami, Bung Hatta. Kami merasa kita masih harus mengikuti jejak Bung Hatta, Bung Karno, dan para pendiri bangsa yang mengutamakan kesejahteraan bangsa kita sendiri serta menghargai bangsa sendiri,” ujar Meutia.

Ia menegaskan bahwa Bung Hatta merupakan sosok yang sangat mencintai rakyat dan tanah air. Karena itu, Meutia mengajak seluruh masyarakat untuk meneruskan semangat tersebut tanpa membeda-bedakan.

“Bung Hatta sangat cinta pada rakyat. Mari kita semua mengikuti jejak beliau, mencintai tanah air dan bangsa Indonesia tanpa terkecuali. Kami gembira PKS berziarah ke makam ayah kami,” katanya.

Di sisi lain, adik Meutia Hatta, Halida menjelaskan alasan Bung Hatta memilih dimakamkan di TPU Tanah Kusir, bukan di Taman Makam Pahlawan (TMP).

“Bung Hatta sengaja tidak dimakamkan di TMP. Ayah ingin dimakamkan di tengah masyarakat biasa, rakyat yang beliau perjuangkan sepanjang hidup,” ungkap Halida.

Ziarah ke makam Bung Hatta menjadi bagian dari rangkaian refleksi PKS dalam menyambut 81 tahun kemerdekaan Indonesia. Momentum tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kemerdekaan yang diperjuangkan para pendiri bangsa harus diisi dengan kerja nyata untuk menghadirkan kesejahteraan, keadilan, demokrasi, dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *