Beranda / Daerah / 20 Tahun Gempa Jogja, Kesiapsiagaan Jadi Fondasi Utama Hadapi Potensi Bencana

20 Tahun Gempa Jogja, Kesiapsiagaan Jadi Fondasi Utama Hadapi Potensi Bencana

 

Sleman,REDAKSI17.COM – Belajar dari pengalaman Gempa Jogja 2006, Pemda DIY terus meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana yang mengancam DIY. Upaya tersebut dilakukan tidak hanya melalui sosialisasi dan edukasi secara masif kepada masyarakat, tetapi juga dengan memperluas kolaborasi bersama berbagai elemen, mematangkan kesiapan personel penyelamat, serta memanfaatkan teknologi berbasis data guna mendukung kemudahan identifikasi potensi bencana dan perumusan langkah mitigasi bencana.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti saat membacakan sambutan Gubernur DIY pada Apel Kesiapsiagaan Bencana dan Gelar Peralatan dalam rangka Peringatan 20 Tahun Gempa Jogja, pada Sabtu (23/05). Melalui kegiatan tersebut, Pemda DIY bersama seluruh pihak terkait menegaskan komitmen dalam memperkuat kesiapsiagaan bencana, sekaligus menunjukkan kematangan berbagai sektor dalam menghadapi potensi kebencanaan.

“Maka, peringatan 20 tahun Gempa harus menjadi momentum untuk mengukur sejauh mana kita belajar dan bersiap terhadap risiko bencana. Sebab, kesiapsiagaan adalah sebuah ekosistem yang mencakup infrastruktur umum yang aman dan berfungsi saat darurat, sistem informasi dan peringatan dini yang cepat, akurat, dan mudah dipahami warga, serta pendidikan kebencanaan sejak dini,” tegas Ni Made di Lapangan Garuda, Kompleks Candi Prambanan, Kabupaten Sleman.

Ni Made menyampaikan, pengalaman DIY menghadapi Gempa 2006 harus menjadi pijakan dalam membangun kebijakan kebencanaan yang lebih matang dan terarah. Menurutnya, kesiapsiagaan juga tidak cukup hanya diwujudkan dalam bentuk tindakan sesaat, tetapi perlu ditanamkan sebagai budaya hidup di tengah masyarakat. Lebih lanjut, falsafah Jawa “eling lan waspada” serta “hamemayu hayuning bawana” menjadi pengingat bagi masyarakat untuk senantiasa sadar terhadap situasi sekitar, waspada terhadap berbagai kemungkinan, serta menjaga harmoni antara manusia dan lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab bersama.

“Mari kita jadikan kesiapsiagaan sebagai budaya hidup sehari-hari. Peringatan 20 tahun Gempa Jogja sebagai janji bersama bahwa setiap pembangunan harus menghitung keselamatan dan setiap warga berhak hidup dalam lingkungan yang lebih siap, lebih tangguh, dan lebih berdaya,” ucapnya.

Masyarakat turut diajak mengingat kembali peristiwa Gempa Jogja 2006, ketika warga menjadi garda terdepan dalam proses penanganan bencana, mulai dari evakuasi, pemberian pertolongan, hingga pemulihan pascagempa secara gotong royong di tengah berbagai keterbatasan. Dari pengalaman tersebut, solidaritas masyarakat dinilai menjadi kekuatan utama yang perlu diimbangi dengan kesiapsiagaan yang dibangun sejak dini agar risiko korban maupun kerugian dapat diminimalisir.

“Dari pengalaman itu kita belajar bahwa dalam bencana, korban dapat berjatuhan dalam hitungan detik. Tetapi keselamatan hanya dapat tumbuh dari kesiapsiagaan yang dibangun secara terus-menerus, jauh sebelum bencana terjadi,” lengkap Ni Made.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Lilik Kurniawan menyebutkan, peringatan ini menjadi wujud nyata sinergitas seluruh unsur pentahelix dalam memperkuat sistem penanggulangan bencana yang siaga dan berkelanjutan. Berkaca dari pengalaman gempa bumi yang terjadi 20 tahun lalu, serta tingginya tingkat resiko bencana di DIY dan Jawa Tengah, peringatan ini harusnya dapat menjadi sarana untuk membangun kesadaran kolektif bahwasanya kesiapsiagaan menjadi tabungan dan investasi utama dalam mitigasi bencana.

“Kegiatan ini tidak hanya bertujuan mewujudkan budaya tangguh bencana dan memperingati dua dekade peristiwa gempa bumi Jogja dan Jawa Tengah sebagai pembelajaran berharga bagi bangsa. Tapi juga menjadi momentum untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi berbagai risiko bencana termasuk potensi dampak fenomena El Nino yang dapat meningkatkan risiko kekeringan, krisis air bersih, kebakaran hutan dan lahan serta gangguan sektor pertanian dan kehidupan masyarakat di wilayah terdampak,” ujarnya saat membacakan amanat dari Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno.

Lilik menyebutkan, kesiapsiagaan ini sejalan dengan 3 pilar semangat yang diusung Kemenko PMK. Ketiga pilar tersebut meliputi pemahaman risiko bencana sebagai bagian dari perilaku dan budaya sehari-hari, penguatan semangat gotong royong serta kolaborasi lintas sektor sebagai kekuatan utama dalam menghadapi dampak bencana, serta pemanfaatan teknologi dan sistem informasi terintegrasi guna mendukung proses pemantauan, analisis, dan pengambilan keputusan secara lebih cepat, tepat, dan efektif.

“Mari kita jadikan ketangguhan bencana sebagai budaya bersama dan kekuatan kolektif bangsa. Dengan kebersamaan, kita dapat memastikan bahwa Indonesia tidak hanya mampu menghadapi bencana tapi juga mampu lebih cepat menjadi bangsa yang semakin tangguh,” tutup Lilik.

Humas Pemda DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *