Terbentuknya Partai Nahdlatul Ulama (NU) sebagai partai politik mandiri memang merupakan salah satu peristiwa paling signifikan dalam sejarah politik Indonesia. Secara singkat, benar bahwa kekecewaan terhadap Masyumi merupakan faktor pendorong utama, namun dinamika di baliknya cukup kompleks.
Berikut adalah uraian mengenai latar belakang dan alasan keluarnya NU dari Masyumi:
1. Hubungan Awal: NU di Dalam Masyumi
Pada awal kemerdekaan, Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) didirikan sebagai wadah tunggal bagi umat Islam di Indonesia. pendirinya K.H Hasyim Asyari yang juga pendiri NU.
NU bergabung di dalamnya bersama organisasi lain seperti Muhammadiyah dan Persatuan Islam (Persis). Di dalam struktur ini, tokoh-tokoh NU umumnya menempati posisi di Majelis Syuro (penasihat keagamaan).
2. Pemicu Kekecewaan: Konflik Struktural
Seiring berjalannya waktu, terjadi gesekan antara kelompok tradisionalis (NU) dan kelompok modernis di dalam Masyumi. Beberapa poin utama kekecewaan tersebut adalah:
Marjinalisasi Peran Ulama: NU merasa peran Majelis Syuro semakin dikecilkan. Keputusan-keputusan politik strategis lebih banyak didominasi oleh Dewan Pelaksana yang diisi oleh tokoh-tokoh moderat-intelektual.
Masalah Jabatan Menteri Agama: Pemicu paling konkret terjadi pada tahun 1952. Saat itu, terjadi pergantian kabinet (Kabinet Wilopo). NU menginginkan posisi Menteri Agama tetap dijabat oleh kader NU (saat itu K.H. Wahid Hasyim), namun Masyumi justru mencalonkan tokoh dari luar NU (Faqih Usman dari Muhammadiyah).
Perbedaan Metodologi: Adanya perbedaan pandangan dalam menyikapi politik praktis dan pendekatan keagamaan antara kaum tradisionalis dan modernis yang sering kali menciptakan ketegangan internal.
3. Keputusan Menjadi Partai Mandiri
Puncaknya terjadi pada Muktamar NU ke-19 di Palembang tahun 1952. Melalui diskusi panjang, NU secara resmi memutuskan untuk keluar dari Masyumi dan berdiri sebagai partai politik sendiri.
Keputusan ini terbukti efektif secara elektoral. Pada Pemilu 1955, Partai NU mengejutkan banyak pihak dengan meraih posisi tiga besar, membuktikan bahwa basis massa tradisionalis di pedesaan sangat solid meskipun telah berpisah dari wadah besar Masyumi.





