Teheran,REDAKSI17.COM – Iran mengajukan proposal baru berisi 14 poin kepada Amerika Serikat (AS) sebagai langkah terbaru untuk mencapai akhir permanen dari perang yang masih berlangsung, meski telah ada gencatan senjata sejak 8 April.
Proposal tersebut dikirim pada Kamis (30/4/2026) malam melalui Pakistan, yang sebelumnya juga menjadi mediator dalam kesepakatan gencatan senjata antara kedua pihak. Menurut kantor berita Iran Tasnim, rencana 14 poin itu disusun sebagai respons terhadap proposal sembilan poin dari pihak AS.
Dalam proposal terbarunya, Iran menekankan pengakhiran perang secara menyeluruh dan penyelesaian semua isu dalam waktu 30 hari.
Apa Isi Proposal 14 Poin Iran?
Berdasarkan laporan Al Jazeera, inti dari 14 poin tersebut mencakup:
- Mengakhiri perang secara permanen
- Menyelesaikan seluruh isu konflik dalam waktu 30 hari
- Memberikan jaminan terhadap Iran agar tidak diserang lagi di masa depan
- Penarikan pasukan AS dari sekitar Iran
- Mengakhiri seluruh permusuhan, termasuk yang terkait dengan Lebanon
- Pencabutan sanksi terhadap Iran
- Pembebasan aset Iran yang dibekukan bernilai miliaran dolar
- Pembayaran ganti rugi perang
- Pengakhiran blokade dan tekanan militer terhadap Iran
- Pembentukan mekanisme baru terkait pengelolaan Selat Hormuz
- Pengakuan hak Iran untuk memperkaya uranium sebagai bagian dari komitmennya di bawah NPT (Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir)
- Perlindungan terhadap program nuklir Iran dari serangan atau sabotase
- Pengurangan tekanan ekonomi yang telah berlangsung lama
- Pembentukan kerangka baru untuk stabilitas dan keamanan kawasan
Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (2/5) mengatakan sedang meninjau proposal Iran, tetapi memperingatkan bahwa Washington dapat kembali melancarkan serangan jika Teheran “berbuat buruk”.
Berbicara kepada wartawan di Florida sebelum naik Air Force One, Trump menuturkan ia telah diberi pengarahan mengenai “konsep kesepakatan” tersebut.
Meski ada peluang diplomatik, Trump tetap menggunakan nada tegas mengenai kemungkinan kembalinya konflik.
“Jika mereka melakukan sesuatu yang buruk, ada kemungkinan itu bisa terjadi,” katanya.
Trump juga menyatakan bahwa AS “berada dalam posisi sangat baik” dan mengklaim Iran ingin segera mencapai kesepakatan karena telah “hancur” akibat konflik dan blokade laut.
Dalam unggahannya di Truth Social, Trump mengatakan sulit membayangkan bahwa proposal Iran dapat diterima karena “mereka belum menanggung konsekuensi yang cukup besar atas apa yang telah mereka lakukan terhadap kemanusiaan dan dunia selama 47 tahun terakhir.”
Menurut Paul Musgrave dari Georgetown University, Trump tampaknya menolak proposal baru Iran tersebut “tanpa membacanya atau mendapatkan pengarahan tentangnya”.
Meski gencatan senjata berlangsung, Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan tetap siaga penuh.
Dalam pernyataan di X, unit intelijen IRGC menyebut Trump harus memilih antara operasi militer yang sulit atau kesepakatan yang buruk.
Situasi diperumit oleh keberadaan ranjau laut Iran di Selat Hormuz, yang masih ditutup sejak 28 Februari, menyebabkan lonjakan harga minyak dan gas.
AS kemudian memberlakukan blokade terhadap seluruh pelabuhan Iran pada 13 April, yang semakin memperparah krisis energi global.
Trump bahkan menyebut blokade tersebut sebagai “bisnis yang sangat menguntungkan”.
“Kami mengambil alih kargo. Mengambil alih minyak—sebuah bisnis yang sangat menguntungkan. Siapa sangka, kami ini semacam seperti bajak laut, tapi kami tidak main-main,” katanya.
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam pernyataan tersebut sebagai “pengakuan pembajakan”.
Parsi menilai blokade tersebut justru menghambat diplomasi.
Trump kini mempertimbangkan opsi lain, termasuk membentuk koalisi laut bernama Maritime Freedom Construct (MFC) untuk menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Koalisi ini bertujuan berbagi intelijen, mengoordinasikan diplomasi, dan menegakkan sanksi untuk mengatur lalu lintas pelayaran di wilayah tersebut.





