WIROBRAJAN,REDAKSI17.COM – Keterbatasan lahan di kawasan perkotaan tidak menjadi penghalang bagi warga Kampung Wirobrajan untuk mewujudkan ketahanan pangan. Melalui kreativitas dan semangat gotong royong, Kelompok Tani Swa Katon Asri berhasil menyulap lahan sempit menjadi kebun produktif dengan memanfaatkan sistem wall planter, polybag, hingga wadah dari galon bekas.
Pada kegiatan yang digelar di Pendopo Sumarah, Jalan Setiyaki, Wirobrajan Yogyakarta ini kelompok tani tersebut melakukan penanaman sebanyak 1.200 bibit sawi dan selada air menggunakan media wall planter yang dipasang di sepanjang tembok kawasan tersebut.
Sekretaris Kelompok Tani Swa Katon Asri, Yantini mengatakan, pemanfaatan lahan sempit menjadi salah satu solusi untuk mendukung program ketahanan pangan di wilayah perkotaan. Menurutnya, masyarakat tetap dapat memenuhi sebagian kebutuhan pangan keluarga meski tidak memiliki pekarangan yang luas.
“Kami mengikuti program pemerintah untuk ketahanan pangan. Harapannya, masyarakat bisa lebih mandiri dengan mengonsumsi hasil tanaman sendiri yang organik dan tentunya lebih sehat,” ujarnya.
Yantini menjelaskan, beragam tanaman dibudidayakan di lokasi tersebut, mulai dari cabai, terong, tomat, seledri, tanaman obat keluarga (TOGA), hingga tanaman buah seperti pepaya, pisang, mangga, sawo, dan kelengkeng. Karena keterbatasan lahan, sebagian besar tanaman ditanam menggunakan wall planter, polybag, serta wadah daur ulang dari galon bekas.
“Wall planter menjadi solusi karena lahan di perkotaan terbatas. Kami memanfaatkan tembok-tembok yang ada untuk media tanam sehingga tetap produktif,” jelasnya.

Sekretaris Kelompok Tani Swa Katon Asri, Yantini saat menanam bibit selada.

Pihaknya menjelaskan, Kelompok Tani Swa Katon Asri sendiri telah berdiri sejak tahun 2017. Awalnya kelompok tersebut mengembangkan budidaya hidroponik di RT 17. Sementara kegiatan di Pendopo Sumarah mulai aktif sejak tanggal 27 Februari 2022 dan hingga kini terus berkembang.
Menurut Yantini, pada awal pembentukan kelompok, mereka mendapat pembinaan dan bantuan dari Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta sebagai bagian dari program ketahanan pangan.
Selain itu, kelompok juga menjalin kolaborasi dengan kelurahan, gapoktan, kemantren, hingga sejumlah perguruan tinggi seperti Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Polbangtan, dan berbagai mitra lainnya.
“Alhamdulillah sekarang anggota semakin banyak, gotong royong warga juga sangat baik. Respon masyarakat terhadap kegiatan bercocok tanam ini juga sangat positif,” katanya.
Hasil panen yang diperoleh tidak hanya dimanfaatkan anggota kelompok, tetapi juga dijual kepada warga sekitar dengan harga lebih murah dibanding harga pasar sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat.
“Hasil panen terong dijual sekitar Rp4.000 per kemasan kepada warga RW 4. Tanaman dalam polybag juga dipasarkan dengan harga mulai Rp25.000, sedangkan tanaman terong dalam media tanam dapat mencapai Rp50.000,” ujarnya.
Ia berharap, Kelompok Tani Swa Katon Asri menjadi kawasan yang tidak hanya menjadi lokasi bercocok tanam, tetapi juga berkembang sebagai pusat edukasi pertanian perkotaan. “Kami berharap kerukunan kelompok semakin terjaga, pertanian semakin maju, dan tempat ini bisa menjadi pusat edukasi serta pembelajaran bagi masyarakat,” tuturnya.

Selain menanam sayuran menggunakan wall planter, kelompok tani ini juga menggunakan polybag dan galon bekas.

Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Sagiyo mengatakan, kelompok tani tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi sentra pembelajaran urban farming di Kota Yogyakarta.
Ia mengungkapkan, sejak mulai mendampingi kelompok pada Januari 2026, berbagai aktivitas pertanian yang sempat vakum kembali dihidupkan. Tahap awal difokuskan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus menjadi sarana belajar bagi masyarakat.
“Tujuan kami bukan hanya menanam untuk konsumsi rumah tangga, tetapi menjadikan tempat ini sebagai pusat belajar. Warga bisa belajar cara menanam, pengendalian hama, hingga budidaya tanaman di sini,” katanya.
Menurut Sagiyo, ke depan kawasan tersebut akan terus dilengkapi dengan berbagai jenis tanaman seperti jagung, kacang tanah, padi, bawang merah, dan komoditas lainnya agar semakin representatif sebagai lokasi edukasi pertanian perkotaan.
Selain menambah variasi tanaman, pihaknya juga akan mendorong peningkatan inovasi dan penerapan teknologi budidaya agar keberadaan kelompok tani mampu memberikan nilai ekonomi sekaligus menjadi destinasi edukasi bagi masyarakat, pelajar, maupun mahasiswa yang ingin belajar mengenai pertanian di kawasan perkotaan.