Bantul,REDAKSI17.COM – Di sebuah ruangan di SLB N 1 Bantul, suara Yudho berubah-ubah mengikuti tokoh yang ia perankan. Sesekali ia bernyanyi, lalu kembali melanjutkan kisah yang tengah ia tuturkan. Siapa sangka, anak yang dulu nyaris tak pernah bersuara itu kini menjadi juara lomba bercerita tingkat nasional.
Namanya Muhammad Latif Haryo Yudhono, siswa kelas XII. Ia baru saja meraih Juara 1 Lomba Bercerita dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N). Membawakan cerita berjudul “Guwek dan Buah Kepel”, ia berkisah tentang burung hantu yang membelah hutan larangan untuk mencari obat bagi ibunya.
Prestasi Yudho bukan semata karena bakat. Dalam waktu yang panjang, ia digembleng dengan sangat ketat oleh guru pendampingnya, Henik Rukmini. Ditemui di SLB 1 Bantul pada Selasa (29/7/2026), Henik menjelaskan bahwa Yudho punya semangat dan daya juang yang luar biasa. Ia tak patah arang ketika sang guru memintanya terus mengulang dan mengulang.
“Yang pertama kalau mau membuat jadi juara itu, ada chemistry antara guru dan anak yang mau kita didik. Kemudian, Yudho punya usaha keras untuk bisa berlatih. Berapa kalipun harus diulang-diulang, siap. Dan latihan itu, kalau seminggu ada tujuh hari, ya kita latihannya seminggu tujuh hari. Jadi, tetap daya juang itu luar biasa,” jelas Henik penuh kebanggaan.
Saat awal sekolah, Yudho adalah anak yang pendiam. Jika ditanyai dia hanya diam, tidak berani bersuara. Namun berkat bimbingan guru dan resiliensi belajarnya, Yudho tumbuh menjadi anak yang sarat prestasi. Siapa sangka potensi terpendam anak yang pendiam itu justru ada pada suaranya.
Sejak kelas I SD, Yudho telah diikutkan berbagai lomba menyanyi namun gelar juara baru berhasil ia raih ketika duduk di kelas VI. Kemudian saat kelas X ia menyabet Juara 2 Lomba Menyanyi FLS2N, kelas XI menjuarai Lomba Cipta Baca Puisi, dan di kelas XII menjuarai Lomba Bercerita. Semua adalah prestasi tingkat nasional. Sebuah konsistensi capaian yang patut diapresiasi.
Namun setiap perjuangan tentu tidak lepas dari tantangan, termasuk perjuangan Yudho. Sang guru menuturkan bahwa pada usia SMP, Yudho sempat vakum bernyanyi karena suaranya berubah. Ia baru mulai lagi saat SMA ketika suaranya sudah stabil. Selain itu, gaya latihan yang ketat kerap membuatnya lelah dan mengantuk.
“Tapi ya seperti itu, Yudho itu punya kemauan keras untuk berusaha. Jadi, intinya Yudho itu siap untuk berjuang. Yang membuat dia itu tough itu seperti itu, Yudho siap berjuang, siap belajar, seminggu tujuh kali latihan,” tegas Henik.
Dari Yudho kita belajar bahwa keterbatasan tidak bisa membatasi langkah kita jika kita berjuang dan berusaha keras. Meski demikian peran support system dan lingkungan yang solid juga tak bisa dikecilkan.
Berkat kedua faktor inilah Yudho berani bermimpi tinggi. Di samping ingin menjadi guru PLB, di masa depan, ia ingin menjadi komposer yang piawai menggubah lagu dan memiliki studio musiknya sendiri.



