Beranda / Daerah / Keajaiban di Jalur Wisata, Puluhan Tukik Wediombo Kembali ke Pelukan Samudra

Keajaiban di Jalur Wisata, Puluhan Tukik Wediombo Kembali ke Pelukan Samudra

Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Sore itu, pasir Pantai Wediombo tidak hanya menjadi saksi lalu lalang wisatawan, tetapi juga menjadi panggung bagi sebuah awal kehidupan yang baru. Di bawah rona langit yang mulai meredup, puluhan bayi penyu atau tukik dari jenis Penyu Lekang tampak berjuang menggerakkan sirip-sirip kecilnya di atas pasir, bergegas menjawab panggilan suara ombak yang menderu.

Momen pelepasan ini bukan sekadar seremoni biasa. Ada kisah ketelitian dan kesigapan di baliknya. Sekitar satu setengah bulan yang lalu, tim SAR Satlinmas Istimewa Wilayah I telah mencium jejak “tamu agung” ini. Koordinator SARLinmas Istimewa Wilayah 1, Sunu Handoko, menceritakan bahwa seekor penyu besar sempat mendarat dan sengaja membuat jejak-jejak palsu untuk mengelabui predator demi melindungi telurnya.

“Itu sudah menjadi pantauan kami. Sebetulnya prediksi menetasnya sudah lewat beberapa hari, tapi tadi tiba-tiba ditemukan satu ekor tukik yang sudah muncul di seputaran pantai,” ujar Sunu.

Temuan satu ekor tukik tersebut memicu pencarian lebih lanjut. Mengikuti jejak-jejak halus di pasir, tim SAR akhirnya menemukan sarang utama yang berisi total 108 telur. Namun, lokasi sarang ini berada dalam posisi berbahaya: tepat di depan jalur utama keluar-masuk wisatawan.

Tanpa tindakan cepat, tukik-tukik yang baru menetas ini terancam terinjak atau tersesat oleh kebisingan manusia. Tim SAR segera melakukan evakuasi. Dari total telur tersebut, ditemukan 83 ekor tukik dalam kondisi hidup, sementara beberapa lainnya ditemukan sudah membusuk di dalam pasir.

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih yang memimpin langsung prosesi pelepasan bersama Kapolres Gunungkidul dan jajaran pejabat lainnya, menyatakan rasa syukurnya. Ini adalah tahun kedua secara berturut-turut Pantai Wediombo menjadi tempat menetasnya penyu selama masa jabatannya.

“Ini bagian dari konservasi dan minat khusus di Wediombo. Kita lepaskan di pasir terlebih dahulu agar mereka bisa mendengarkan suara ombak pertama kali untuk kembali ke habitatnya,” ungkap Bupati di sela-sela kegiatan, Senin, (3/8/2026).

Namun, keberhasilan ini juga membawa catatan penting bagi masa depan pariwisata Gunungkidul. Bupati menekankan perlunya regulasi yang jelas terkait zonasi pantai. Mengingat tukik sangat sensitif terhadap cahaya lampu dan kebisingan, wacana pembagian kawasan wisata seperti wisata keluarga, wisata religi/syariah, hingga pantai khusus konservasi.

“Tukik ini akan takut jika tempat konservasinya ada sinar lampu atau keributan. Mereka butuh pantai yang tenang sesuai habitatnya,” tambahnya.

Saat matahari mulai terbenam, satu per satu dari 83 tukik tersebut berhasil mencapai bibir pantai dan terbawa buaian ombak pertama mereka. Keberhasilan evakuasi dan pelepasan ini menjadi pengingat bahwa di balik indahnya destinasi wisata, ada kehidupan liar yang harus tetap dijaga ruangnya.

Kini, puluhan tukik itu telah memulai pengembaraan panjang di Samudra Hindia, membawa harapan bahwa kelak mereka akan kembali lagi ke pasir Wediombo untuk meneruskan siklus kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *