Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Festival Teater Tingkat Kota Yogyakarta Tahun 2026 resmi dibuka di Graha Budaya Taman Budaya Embung Giwangan, Rabu (12/8). Mengusung tema “Yogyakarta Hari Ini dalam Bingkai Teater Realis”, festival tersebut menjadi ruang pengembangan seni sekaligus pembinaan dan regenerasi seniman teater di Kota Yogyakarta.

Plt Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Yogyakarta Agus Arif Nugroho mengatakan, festival teater menjadi bagian dari upaya pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan kebudayaan daerah sekaligus ruang aktualisasi bagi seniman dan generasi muda.

“Yogyakarta dikenal sebagai kota budaya bukan hanya karena warisan masa lalunya, tetapi karena kebudayaan itu terus hidup, bergerak, dan diperbarui oleh masyarakatnya,” ujarnya saat membuka festival.

Menurutnya, teater memiliki peran penting dalam membaca perkembangan kehidupan masyarakat. Melalui pertunjukan, berbagai persoalan seperti relasi keluarga, tekanan pendidikan, kesenjangan sosial, perubahan gaya hidup hingga tantangan kebudayaan di era modern dapat diangkat secara kontekstual.

Ia menilai tema “Yogyakarta Hari Ini dalam Bingkai Teater Realis” relevan karena mendorong peserta menjadikan kehidupan masyarakat Kota Yogyakarta sebagai sumber inspirasi. Peserta dituntut mengolah realitas sehari-hari melalui kepekaan, riset, kedalaman rasa, dan tanggung jawab artistik.

Penampilan dari Kontingen Umbilical dan Kotagede.

Agus juga mengapresiasi keterlibatan seluruh kemantren melalui format festival yang mempertemukan dua kemantren dalam satu kontingen. Menurutnya, pola tersebut menunjukkan pembinaan teater tidak hanya berkembang di pusat kota atau komunitas tertentu, tetapi juga tumbuh dari wilayah dan kampung.

“Jadikan festival ini sebagai ruang belajar. Menang tentu membanggakan, tetapi proses jauh lebih penting,” katanya.

Ia menambahkan, proses latihan, riset, penulisan naskah, penyutradaraan, pemeranan, tata artistik, hingga kerja tim menjadi bagian penting dalam membangun disiplin, keberanian, kepekaan sosial, dan kebersamaan.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti mengatakan festival tahun ini diikuti 14 kemantren yang dibagi menjadi tujuh kontingen. Setiap kontingen merupakan kolaborasi dua kemantren dan tampil selama tiga hari, 12–14 Agustus 2026, di Graha Budaya Taman Budaya Embung Giwangan.

Pada hari pertama, tampil kolaborasi Kemantren Kotagede dan Umbulharjo serta Kemantren Wirobrajan dan Ngampilan. Hari kedua diisi kolaborasi Gedongtengen–Gondomanan, Kraton–Mantrijeron, serta Danurejan–Baciro. Sementara hari ketiga menghadirkan kolaborasi Pakualaman–Bergasman serta Tegalrejo–Jetis.

Yetti menyebut pembatasan usia pemain menjadi salah satu upaya mendorong regenerasi. Pemain dalam festival ini maksimal berusia 19 tahun sehingga memberikan ruang lebih luas bagi generasi muda untuk terlibat dalam proses berkesenian.

Teater Secangkir Kopi dari Kontingen Umbulharjo dan Kotagede.

“Ini memang menjadi salah satu proses regenerasi agar seniman-seniman teater tetap bisa berkelanjutan di wilayah Kota Yogyakarta,” katanya.

Selain pembinaan, festival diharapkan melahirkan kreator-kreator baru yang mampu menghasilkan karya inovatif sekaligus mengangkat persoalan sosial dan budaya yang berkembang di masyarakat.

‘Karakter kritis yang melekat pada seni teater justru dibutuhkan sebagai ruang refleksi terhadap kondisi sosial. Karena itu, festival diharapkan dapat menjadi media bagi seniman muda untuk menyikapi berbagai dinamika masyarakat Kota Yogyakarta,” imbuhnya.

Penonton Festival Teater Tingkat Kota Yogyakarta 2026.

Dalam festival tersebut, selain penghargaan juara pertama, kedua, dan ketiga, Dinas Kebudayaan juga memberikan apresiasi untuk kategori penulis naskah terbaik, sutradara terbaik, pemeran pria terbaik, dan pemeran wanita terbaik. Dewan juri terdiri atas Nanang Arisona, Landung Simatupang, dan Naomi Srikandi.

Salah satu peserta dari kontingen kolaborasi Kotagede–Umbulharjo, Afif Saputra, mengatakan kelompoknya membawakan naskah berjudul “Secangkir Kopi”. Persiapan dilakukan sekitar satu bulan dengan menyesuaikan jadwal latihan karena sebagian besar pemain merupakan pelajar.

“Awalnya ada casting dari teman-teman produksi, kemudian dipilih pemain-pemain yang tampil hari ini,” ujarnya.

Salah satu adegan dalam pertunjukan Teater Secangkir Kopi.

Kontingen tersebut melibatkan sekitar 10–12 pemain dan total sekitar 25 orang termasuk kru. Bagi sebagian peserta, festival ini menjadi pengalaman pertama tampil dalam pertunjukan teater.

Afif berharap festival dapat memperluas kesempatan generasi muda untuk terlibat dalam seni teater sekaligus memperkuat regenerasi seniman di Yogyakarta.

“Semoga makin banyak regenerasi seniman teater yang ada di Yogyakarta,” katanya.