Beranda / Daerah / Melodi Abadi Sang Maestro, Festival Campursari Nasional Hidupkan Semangat Manthous di Bumi Handayani

Melodi Abadi Sang Maestro, Festival Campursari Nasional Hidupkan Semangat Manthous di Bumi Handayani

Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Suara tetabuhan gamelan yang berpadu harmonis dengan dentuman drum dan petikan gitar bass memecah keheningan malam di Alun-Alun Pemerintah Daerah Kabupaten Gunungkidul, Senin, (28/9/2026). Di bawah langit malam “Bumi Handayani”, ribuan pasang mata menjadi saksi dibukanya gelaran Festival Nasional Campursari Gunungkidul 2026, sebuah perhelatan yang tidak sekadar panggung musik, namun juga sebuah ritual penghormatan bagi sang legenda, Anto Sugiartono atau yang lebih kondang dikenal sebagai Manthous.

Perjalanan festival tahun ini mengusung tema sentral: “Tribute to Manthous: Mengenang dan Meneruskan Semangat Kreativitas Sang Maestro”. Nama Manthous memang telah abadi sebagai begawan campursari. Lahir pada 10 April 1950, ia adalah sosok yang menempa bakatnya dari kerasnya jalanan Jakarta sebagai pengamen pada tahun 1966.

Dunia musik Indonesia berutang budi pada eksperimen beraninya. Setelah melanglang buana dari grup keroncong, kelompok lawak Quartet Jaya, hingga band pop, Manthous melahirkan revolusi musikal pada awal 1990-an. Ia berhasil memadukan kepekaan gamelan tradisional Jawa dengan instrumen modern seperti keyboard dan drum, menciptakan genre campursari yang kita kenal sekarang. Melalui grup CSGK (Campursari Gunungkidul Maju Lancar) yang didirikannya pada 1993, tembang-tembang seperti Gethuk, Nyidamsari, dan Anting-anting meledak di pasaran dan mendobrak sekat-sekat konvensional budaya Jawa.

Festival yang berlangsung selama tiga hari dimulai dari tanggal 28 September sampai dengan 30 September 2026 ini bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-196 Kabupaten Gunungkidul. Dengan semangat “Gayeng Guyub, Waras Ragane, Tentrem Atine”, acara ini menjadi ajang unjuk gigi bagi para seniman dari berbagai daerah.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul, Agung Danarto, melaporkan bahwa festival ini diikuti oleh delegasi dari berbagai pelosok, mulai dari daerah lokal Gunungkidul, Bantul, Sleman, Yogyakarta, hingga luar provinsi seperti Jakarta, Magelang, Pacitan, Klaten, Sukoharjo, dan Wonogiri. Panggung pun semakin semarak dengan penampilan spesial dari maestro-maestro campursari lainnya seperti Anik Sunyahni, Minul, Lasmini, hingga generasi muda seperti Niken Salindry dan Dimas Tejo.

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga identitas budaya di tengah arus zaman. Mengutip risalah Bung Karno tahun 1933, ia mengingatkan bahwa perjuangan bangsa bukan hanya soal urusan perut, melainkan juga harus memenuhi batas minimum seni dan kebudayaan.

“Seni campursari yang telah dipelopori oleh almarhum Mas Manthous adalah bukti sejarah bahwa seniman Gunungkidul mampu melahirkan karya adiluhung yang menjadi idaman masyarakat Indonesia,” ujar Bupati sebelum secara simbolis memukul gong tanda dibukanya festival secara resmi.

Kehadiran keluarga besar almarhum Manthous dalam acara tersebut menambah suasana haru sekaligus bangga. Meski sang maestro telah berpulang pada 9 Maret 2012, warisannya terbukti tetap hidup, bersemi, dan terus menginspirasi generasi baru untuk terus berkreativitas tanpa meninggalkan akar tradisi. Di alun-alun malam itu, semangat Manthous terasa nyata hadir dalam setiap laras yang bergema, memastikan bahwa campursari akan terus lestari melintasi zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *