Beranda / Daerah / Wayang Kulit Wukirsari, Menatah Rasa Menyungging Karsa

Wayang Kulit Wukirsari, Menatah Rasa Menyungging Karsa

Bantul,REDAKSI17.COM – Ketukan alat tatah bersahutan di bengkel sederhana Kerajinan Kulit Pandu Wijaya, Karangasem, Wukirsari, Bantul. Di antara lembaran kulit, pola blak, cat, dan peralatan kerja, Mujiyono tekun menekuni warisan yang telah dikenalnya sejak akhir 1970-an. Meski telah pensiun sebagai guru sekolah dasar pada 2019, tangannya tetap terampil menatah dan menyungging kulit menjadi tokoh-tokoh pewayangan.

Bagi Mujiyono, wayang bukan sekadar kerajinan untuk memenuhi pesanan. Ada pesan ayah yang terus dipegangnya: jangan meninggalkan wayang karena keterampilan itu dapat menjadi jalan untuk menghidupi keluarga. “Jangan meninggalkan wayang. Dari wayang ini keluarga juga bisa mencukupi kebutuhan hidup,” pesan ayahnya.

Pesan itu pula yang membuat Mujiyono terus menekuni wayang hingga kini. Setelah menikah sekitar 1990, ia mulai mengembangkan kerajinan secara mandiri. Usahanya berkembang semakin besar setelah gempa Bantul 2006, ketika pembeli dari berbagai daerah, termasuk Kalimantan dan Sumatra, mulai datang.

Kisah Mujiyono merupakan bagian dari perjalanan panjang tatah sungging di Dusun Pucung, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul. Sentra ini dikenal dengan kerajinan tatah sungging kulit, terutama wayang. Jejak tradisinya disebut telah tumbuh sejak awal abad ke-20, sekitar 1900–1917, kemudian berkembang di tengah masyarakat dari generasi ke generasi.

Tatah sungging merupakan seni memahat dan mewarnai kulit dalam satu kesatuan karya. Tradisi tersebut mulai dikenal Mujiyono ketika sekitar 1979–1980 ia membantu ayahnya membuat wayang.

Saat itu, sang ayah menjadi tenaga pembuat wayang di rumah Pak Lurah Wukirsari, yang juga merupakan abdi dalem Keraton Yogyakarta. Ayahnya lebih banyak mengerjakan tatah, sementara Mujiyono kemudian belajar menyungging secara mandiri dengan bantuan kakaknya.

Proses membuat wayang dimulai dari kulit sapi atau kerbau yang didatangkan dari Magetan, Jawa Timur. Setelah dibersihkan dan diproses di pabrik, kulit direntangkan hingga rata dan dikeringkan sebelum dipotong mengikuti ukuran dan blak atau pola.

Selanjutnya, perajin mengerjakan tatah, sungging atau pewarnaan, hingga pemasangan tangkai atau gapit. Pandu Wijaya memiliki pakem dan blak sebagai acuan untuk berbagai tokoh, hewan, hingga senjata seperti keris, pedang, dan tombak.

Pembagian kerja membuat produksi lebih efektif. Sekitar empat sampai lima orang mengerjakan tatah dan jumlah yang hampir sama mengerjakan sungging, sebagian besar merupakan ibu rumah tangga. Dalam sekitar tiga hari, dapat dihasilkan lima hingga enam wayang, bergantung pada ukuran dan kerumitannya.

Wayang berukuran sekitar 25 sentimeter relatif lebih sederhana, sementara tokoh besar seperti Bima dan Gunungan membutuhkan pengerjaan lebih teliti. “Prosesnya sebenarnya tidak banyak, tetapi harus tekun dan telaten. Dikerjakan dengan sepenuh hati,” kata Mujiyono.

Setelah ditatah dan disungging, setiap wayang diperiksa kembali. Bentuk, warna, kekuatan gapit, kebersihan bagian belakang, serta detail kecil diperhatikan sebelum karya siap digunakan atau dipasarkan. Dari tangan para perajin itulah kulit berubah menjadi tokoh dengan bentuk, warna, karakter, dan cerita.

Pesanan wayang Pandu Wijaya datang dari berbagai daerah seperti Tegal, Kediri dan Kalimantan. Dalang dapat memesan satu set lengkap maupun tokoh tertentu. Produk tersebut juga telah menjangkau pembeli dari luar negeri, termasuk Inggris.

Untuk wisatawan, wayang berukuran kecil menjadi pilihan karena mudah dibawa. Pemasaran pun mengikuti perubahan zaman. “Sekarang pemasarannya online. Kalau tidak online sudah ketinggalan,” ujar Mujiyono.

Di tengah perubahan cara produksi dan pemasaran, tatah sungging tetap memberi manfaat bagi masyarakat sekitar. Para ibu rumah tangga yang terlibat memperoleh pekerjaan dan tambahan penghasilan setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.

Bagi Mujiyono, manfaat ekonomi tersebut berjalan beriringan dengan nilai budaya yang dijaga melalui setiap karya. “Yang penting melestarikan kebudayaan kerajinan wayang. Ini warisan sejarah nenek moyang kita,” katanya.

Wayang kulit tidak berhenti pada bentuk fisiknya. Di dalamnya bertemu seni rupa, cerita, musik, simbol, dan nilai kehidupan. Karena itu, keterampilan membuat wayang berarti pula menjaga pengetahuan tentang karakter tokoh, tatah sungging, pakem, dan nilai yang menyertainya.

Pengetahuan tentang perawatan pun terus dijaga. Wayang perlu dijauhkan dari air agar tidak mudah rusak. Ketika udara lembap, wayang diangin-anginkan untuk menjaga kondisinya.

Kini, keberlanjutan keterampilan tersebut mulai diarahkan kepada generasi berikutnya. Nama “Pandu Wijaya” diambil dari nama anak Mujiyono. Ia berharap anaknya meneruskan kerajinan tersebut sebagai generasi ketiga.

Dari tangan sang ayah, keterampilan itu diwariskan kepada Mujiyono. Kini, ia menyiapkannya untuk kembali berpindah tangan kepada generasi ketiga.

Di bengkel Pandu Wijaya, ketukan alat tatah bukan sekadar bunyi dari proses produksi. Setiap guratan pada kulit menjadi jejak keterampilan yang diwariskan, setiap warna yang disungging menghidupkan kembali karakter pewayangan, dan setiap karya yang selesai membawa cerita dari masa lalu ke masa kini.

Sebab, menjaga wayang tidak hanya berarti mempertahankan sebuah kerajinan. Di tangan Mujiyono dan generasi yang disiapkannya, menjaga wayang berarti merawat pengetahuan, membuka ruang penghidupan, dan memastikan warisan budaya tetap memiliki tangan untuk berkarya. Dari Wukirsari, warisan itu terus ditatah, disungging, dan diteruskan agar tidak berhenti pada satu generasi.

Humas Pemda DIY

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *