Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Pemahaman demokrasi perlu dibangun melalui pengalaman langsung berdiskusi, menyampaikan pendapat, sekaligus belajar menghargai perbedaan.

Nilai tersebut menjadi bagian penting dalam Final Olimpiade Demokrasi 2026 yang mempertemukan pelajar SMA sederajat se-Kota Yogyakarta dalam kompetisi adu gagasan dan wawasan kebangsaan. yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Yogyakarta, pada Senin (28/9) di Ruang Bima Balai Kota.

Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta Budi Santosa Asrori mengatakan, demokrasi tidak hanya berkaitan dengan proses politik, tapi juga bagaimana setiap orang mampu menerima dan menghormati perbedaan pendapat.

“Belajar demokrasi itu adalah belajar adanya perbedaan, saling menghormati antara pendapat yang berbeda. Ini menjadi pembelajaran sepanjang masa, bagi anak-anak maupun kita yang sudah dewasa,” katanya.

Pemenang Olimpiade Demokrasi 2026 Kota Yogyakarta.

Menurut Budi, kemampuan menghargai perbedaan menjadi penting bagi generasi muda karena mereka tumbuh di tengah arus informasi yang sangat beragam. Perbedaan pendapat dapat muncul di antara orang-orang yang memiliki latar belakang agama maupun suku yang sama.

“Kalau perbedaan agama atau suku, itu jelas. Tetapi kalau perbedaan pendapat, kadang-kadang kita sulit untuk saling menghormati. Karena itu, ini menjadi pembelajaran bagi kita semua,” ujarnya.

Ia mengapresiasi seluruh peserta yang telah mengikuti rangkaian Olimpiade Demokrasi hingga babak final. Bagi Budi, pengalaman berkompetisi menjadi bagian dari proses belajar yang tetap berharga, baik bagi peserta yang berhasil meraih juara maupun yang belum menjadi pemenang.

Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta Budi Santosa Asrori.

Sementara itu, Sekretaris Badan Kesbangpol Kota Yogyakarta Widiyastuti mengatakan Olimpiade Demokrasi menjadi salah satu upaya mengenalkan demokrasi dan politik kepada generasi muda secara lebih dekat.

“Demokrasi dan politik itu tidak hanya urusannya orang tua, orang yang siap menjadi caleg, wali kota, atau bupati. Politik dan demokrasi harus sudah ada di pikiran sejak muda, sejak awal,” katanya.

Ia berharap pemahaman tersebut dapat membentuk generasi muda yang terbuka terhadap perbedaan, memiliki wawasan kebangsaan, dan siap mengambil peran dalam kehidupan bermasyarakat maupun bernegara.

Menurutnya, generasi muda perlu memiliki kesempatan untuk mengenal demokrasi tidak hanya melalui teori, tetapi juga melalui proses berdiskusi dan menyampaikan gagasan.

Sekretaris Badan Kesbangpol Kota Yogyakarta Widiyastuti.

Setelah melalui kompetisi intelektual yang ketat, MA Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta berhasil meraih Juara I Olimpiade Demokrasi 2026. Juara II diraih SMA Negeri 1 Yogyakarta, sedangkan Juara III diraih SMA Negeri 5 Yogyakarta. Sementara itu, SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta meraih Juara Harapan I dan SMA Negeri 11 Yogyakarta meraih Juara Harapan II.

Salah satu anggota tim MA Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta, Bagaskara Yunari Bumi, mengatakan persiapan mengikuti rangkaian Olimpiade Demokrasi dilakukan sekitar satu bulan. Untuk menghadapi babak final, tim melakukan persiapan intensif selama sekitar empat hari sejak pengumuman finalis.

“Kami membedah banyak buku, mulai dari buku tentang lembaga negara, karya Saldi Isra, Mahfud MD, Jimly Asshiddiqie, dan berbagai materi lainnya, terutama materi Empat Pilar MPR,” ujarnya.

Final Olimpiade Demokrasi 2026 Kota Yogyakarta.

Menurut Bagas, salah satu materi yang paling menantang dalam babak final adalah pengetahuan mengenai keistimewaan Yogyakarta. Selain wawasan kebangsaan dan kelembagaan negara, peserta dituntut memahami regulasi yang berkaitan dengan Yogyakarta.

“Semoga Yogyakarta semakin maju, menjadi daya tarik bagi wisatawan dan para pelajar, serta menjadi tempat untuk berkembang bersama, dan terus mempertahankan identitas keistimewaannya,” katanya.