Beranda / Pendidikan / FGD Pencegahan HIV/AIDS di SMK Negeri 2 Pengasih Dorong Remaja Kenali Risiko dan Hindari Stigma

FGD Pencegahan HIV/AIDS di SMK Negeri 2 Pengasih Dorong Remaja Kenali Risiko dan Hindari Stigma

 

Kulon Progo,REDAKSI17.COM – Upaya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja mengenai HIV/AIDS terus dilakukan melalui edukasi yang melibatkan generasi muda secara langsung. Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Kulon Progo bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo menggelar Focus Group Discussion (FGD) Remaja tentang Pencegahan HIV/AIDS di SMK Negeri 2 Pengasih, Rabu (12/8/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut dibuka oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Kulon Progo, Ir. Aspiyah, M.Si. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Seksi P2M Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo dan Kepala SMK Negeri 2 Pengasih.

Pelaksanaan FGD ini merupakan bagian dari upaya kolaboratif dalam menyosialisasikan pencegahan HIV/AIDS di lingkungan pendidikan. Dalam surat permohonan narasumber KPA Kabupaten Kulon Progo disebutkan bahwa kegiatan dilaksanakan sebagai bentuk kolaborasi di bidang pendidikan, seiring perhatian terhadap peningkatan kasus HIV di kalangan remaja.

Paparan pertama disampaikan oleh Pengelola Program KPA Kabupaten Kulon Progo, Zuarifka Ana, A.Md.Kes, yang menyampaikan gambaran kondisi HIV di Kabupaten Kulon Progo. Materi tersebut menjadi pengantar bagi para siswa untuk memahami situasi HIV secara lebih dekat dan pentingnya keterlibatan remaja dalam upaya pencegahan.

Selanjutnya, drg. Oshi Wulandari menyampaikan materi mengenai HIV/AIDS dengan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik remaja. Materi mengangkat tema “HIV/AIDS: Yang Perlu Kamu Tahu, Bukan untuk Menakut-nakuti. Tapi Supaya Kamu Tahu Cara Melindungi Diri”, dengan penekanan pada tiga pesan utama, yaitu Kenali, Cegah, dan Jangan Stigma.

Dalam pemaparannya, siswa diajak terlebih dahulu meluruskan berbagai pemahaman yang masih sering keliru mengenai HIV/AIDS, seperti apakah HIV dapat menular melalui pelukan, bersalaman, duduk bersebelahan, makan bersama, belajar bersama, maupun sekadar berteman dengan orang dengan HIV.

Siswa juga diberikan pemahaman mengenai perbedaan HIV dan AIDS. HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sedangkan AIDS merupakan kondisi ketika kerusakan sistem kekebalan tubuh sudah berat sehingga dapat memunculkan berbagai gejala.

Selain mengenali cara penularan, edukasi juga menekankan perilaku yang dapat meningkatkan risiko, antara lain penggunaan narkoba suntik dengan jarum yang tidak steril, hubungan seksual berisiko, berganti-ganti pasangan seksual, serta penggunaan alat tajam seperti alat tindik dan tato yang tidak steril.

Pesan pencegahan disampaikan dengan mendorong remaja untuk berani mengatakan “tidak” terhadap tekanan atau perilaku berisiko, tidak menggunakan narkoba terutama yang melibatkan jarum, memastikan alat yang menembus kulit dalam kondisi steril, serta mencari informasi HIV/AIDS dari sumber yang benar.

Siswa Tidak Hanya Mendengar, tetapi Mempraktikkan

Salah satu bagian menarik dalam FGD adalah keterlibatan langsung peserta. Empat orang perwakilan siswa diminta maju ke depan untuk mempraktikkan bagaimana menyampaikan kembali pengetahuan mengenai HIV/AIDS yang telah mereka peroleh selama kegiatan.

Melalui praktik tersebut, siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga belajar bagaimana menyampaikan pesan kesehatan kepada teman sebaya dengan bahasa yang mudah dipahami. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat peran remaja sebagai penyampai informasi yang benar di lingkungan sekolah maupun pergaulan mereka.

Kegiatan juga menekankan pentingnya menghilangkan stigma terhadap orang dengan HIV. Dalam materi disampaikan bahwa orang dengan HIV tetap memiliki hak untuk memperoleh pendidikan, pekerjaan, memiliki keluarga, mendapatkan perawatan dan pengobatan, serta bersosialisasi di masyarakat.

Melalui FGD ini, diharapkan para siswa SMK Negeri 2 Pengasih tidak hanya memahami bagaimana HIV ditularkan dan cara mencegahnya, tetapi juga mampu menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang memberikan informasi yang benar, tidak menakut-nakuti, serta bebas dari stigma dan diskriminasi.

Kenali risikonya, cegah penularannya, dan jangan memberikan stigma. Karena pengetahuan yang benar adalah salah satu langkah penting dalam melindungi diri dan orang lain dari HIV/AIDS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *