TEHERAN,REDAKSI17.COM – Seorang anggota parlemen Iran menyatakan bahwa Teheran akan memberikan balasan setimpal jika AS menggunakan senjata nuklir terhadap Iran. Pernyataan ini disampaikan sebagai tanggapan atas laporan media mengenai kemungkinan serangan semacam itu.
Fada Hossein Maleki, anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, menyampaikan hal tersebut dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Iran, Khabar Online.
“Saya tidak menutup kemungkinan adanya tindakan gegabah oleh (Presiden AS Donald) Trump, namun menurut saya dia tidak akan berani melakukan hal itu, karena tindakan semacam itu dapat menjerumuskan dunia ke dalam perang yang berbahaya,” kata dia saat ditanya soal kemungkinan AS menyerang Iran dengan bom nuklir.
“Jika tindakan tersebut dilakukan, Republik Islam Iran juga akan memberikan balasan, dan reaksinya akan sepadan dengan jenis senjata yang digunakan terhadap Iran,” tambahnya.
Ketika didesak apakah hal ini berarti Iran akan menggunakan senjata nuklir jika AS menyerang Iran dengan senjata nuklir, Maleki menjawab: “Apa pun yang digunakan AS, Iran akan menanggapinya.”
Maleki tidak secara eksplisit menyatakan bahwa Iran memiliki senjata nuklir.
Anggota parlemen tersebut juga memperingatkan Washington agar tidak melakukan tindakan militer lebih lanjut, seraya mengatakan bahwa Iran memiliki “berbagai opsi” dan setiap langkah AS dapat memicu respons “pada tingkat yang sama atau bahkan lebih tinggi.”
“Banyak senjata dan kemampuan militer Iran yang belum diungkap ke publik,” ujar Maleki, seraya berargumen bahwa Teheran telah beralih dari sikap defensif menuju apa yang ia sebut sebagai “pencegahan aktif dan ofensif.”
Beralih ke pembahasan mengenai perundingan Teheran-Washington yang sedang macet, Maleki menuduh Trump gagal memenuhi komitmen dalam nota kesepahaman antara kedua belah pihak.
Ia menyatakan bahwa Iran tidak akan kembali ke meja perundingan kecuali Washington mematuhi komitmen sebelumnya, seraya menambahkan bahwa jika tidak, berbagai masalah—termasuk isu Selat Hormuz—akan tetap tidak terselesaikan.
Maleki menyebutkan bahwa pembicaraan Iran dengan Oman merupakan jalur bilateral yang terpisah, dan menambahkan bahwa Teheran menolak keterlibatan AS dalam diskusi tersebut.
Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman pada pertengahan Juni dengan mediasi Pakistan, yang bertujuan untuk mengakhiri perang di antara mereka dan membuka jalan bagi perundingan menuju kesepakatan akhir.
Sejak saat itu, perundingan mengalami kebuntuan di tengah perselisihan mengenai pelaksanaan nota kesepahaman tersebut, termasuk isu-isu yang berkaitan dengan Selat Hormuz. Ketegangan terbaru ini menyusul permusuhan yang telah berlangsung selama berbulan-bulan sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang memicu Teheran untuk melakukan pembalasan terhadap target-target serta aset AS dan Israel di seluruh kawasan tersebut.
Sebelumnya, mantan anggota Kongres Amerika Serikat (AS), Marjorie Taylor Greene, mengklaim pemerintah AS tengah membahas kemungkinan penggunaan senjata nuklir terhadap Iran dalam pertemuan strategi. Pernyataan tersebut disampaikan Greene di tengah berlanjutnya perang antara Washington dan Tehran.
“Mereka membahas penggunaan senjata nuklir terhadap Iran dalam pertemuan strategi,” tulis Greene melalui akun X.
Greene menegaskan informasi tersebut bukan sekadar spekulasi. “Ya, Anda membaca dengan benar. Ini nyata. Saya tidak berspekulasi, saya tahu,” ujarnya.
Namun, Greene tidak menyebutkan pejabat yang diduga terlibat dalam pembahasan tersebut. Ia juga tidak menjelaskan sumber informasi maupun memberikan bukti yang dapat memverifikasi klaimnya.
Meski demikian, Greene menyampaikan pernyataan itu sebagai informasi yang diketahuinya secara langsung. Ia memperingatkan bahwa penurunan ambang penggunaan senjata nuklir dapat membawa konsekuensi yang sangat fatal.
“Dan sekarang pemerintah kita yang sebenarnya sedang membahas penurunan ambang batas nuklir untuk menggunakan senjata nuklir terhadap Iran,” tulisnya.
Greene kemudian mengungkit pengeboman atom AS terhadap Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945. Ia menyoroti korban jiwa yang jatuh seketika serta dampak jangka panjang paparan radiasi.
Menurut Greene, penderitaan akibat serangan tersebut menjadi pelajaran sejarah yang semestinya mencegah penggunaan senjata nuklir pada masa mendatang. Ia juga memperingatkan bahwa eskalasi nuklir terhadap Iran dapat menimbulkan dampak yang jauh melampaui perang yang tengah berlangsung.
Greene menyebut Presiden AS Donald Trump berpotensi menjadi pemimpin yang memicu “holocaust nuklir” yang dapat menyeret dunia ke dalam konflik besar, depresi ekonomi, dan penderitaan manusia dalam skala yang belum pernah terjadi sepanjang masa hidup generasi saat ini. “Rakyat perlu bersuara dan dengan tegas menghentikan kegilaan ini,” katanya. “Amerika tidak kebal.”





