Sultan Muzhaffar Abu Said Kukuburi bin Zainuddin Ali bin Baktakin (Penguasa Ibril-Irak), orang yang pertama kali merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan momen untuk mengenang kelahiran dan menghayati keteladanannya dalam kehidupan sehari-hari. Maulid Nabi juga diperingati sebagai ungkapan cinta umat Islam kepada Rasulullah, serta sebagai ajang untuk memupuk semangat menjalankan ajaran-ajarannya.
Umat Islam percaya bahwa kelahiran Nabi SAW menjadi titik terang dari munculnya cahaya hidayah. Oleh karena itu, umat Islam beramai-ramai merayakan hari kelahirannya sebagai bentuk syukur kepada Allah atas diutusnya nabi paling agung dan sempurna. Lantas, siapakah orang pertama kali yang menggagas perayaan Maulid Nabi ini? Para ulama ahli sejarah berbeda pendapat terkait orang pertama yang mengadakan perayaan maulid. Ada yang mengatakan Sultan Muzhaffar, sebagaimana pendapat Imam as-Suyuthi.
Ada yang mengatakan Dinasti Fathimiyah yang diprakarsai oleh Ubaid al-Mahdi, dan ada pula yang berpendapat orang pertama tersebut adalah Sultan Nuruddin. Akan tetapi pendapat yang paling kuat merujuk kepada Sultan Muzhaffar, Raja Ibril-Irak, sebagaimana beberapa penjelasan di bawah ini.
Menurut Syekh Muhammad bin Yusuf as-Sālihi asy-Syami (wafat 942 H) dalam kitab Subulul Huda wa ar-Rashad fi Sirati Khairil ‘Ibād, menyebutkan bahwa orang yang mengadakan peringatan Maulid Nabi pertama kali adalah Sultan Muzhaffar, Raja Ibril-Irak: قُلْتُ: وَأَوَّلُ مَنْ أَحْدَثَ ذَلِكَ مِنَ الْمُلُوكِ صَاحِبُ إِرْبِلَ، الْمَلِكُ الْمُظَفَّرُ أَبُو سَعِيدٍ كُوكُبْرِي بْنُ زَيْنِ الدِّينِ عَلِيِّ بْنِ بُكْتَكِين، أَحَدُ الْمُلُوكِ الْأَمْجَادِ وَالْكُبَرَاءِ الْأَجْوَادِ.
Artinya: “Orang pertama dari kalangan raja yang mengadakan acara itu adalah penguasa Irbil, al-Malik al-Muzaffar Abu Sa‘id Kūkūburī bin Zainuddin ‘Ali bin Baktakin, salah seorang raja yang mulia, agung, dan sangat dermawan.” (Muhammad bin Yusuf as-Sālihi asy-Syami, Subulul Huda wa ar-Rashad fi Sirati Khairil ‘Ibād, [Maktabah syamilah, tanpa tahun], juz 1, halaman 362).
Senada dengan pendapat di atas, Imam Jalaluddin Abdurahman as-Suyuthi (wafat 991 H) juga menjelaskan sebagaimana berikut: وَأَوَّلُ مَنْ أَحْدَثَ فِعْلَ ذَلِكَ صَاحِبُ اِرْبِل الَملِكُ الْمُظَفَّر أَبُوْ سَعِيْد كُوْكْبَرِي بِنْ زَيِنِ الدِّيْنِ عَلِي اِبْنِ بَكْتَكينْ أَحَدُ الْمُلُوْكِ الْأَمْجَادِ وَالكُبَرَاءِ الْأَجْوَادِ وَكَانَ لَهُ آثَارٌ حَسَنَةٌ، وَهُوَ الَّذِي عَمَّرَ الجَامِعَ الْمُظَفَّرِي بِسَفْحِ قَاسِيُوْنَ
Artinya: “Orang yang pertama kali mengadakan seremonial itu (maulid nabi) adalah penguasa Irbil, yaitu Raja Muzhaffar Abu Said Kuukuburi bin Zainuddin Ali ibn Buktitin, salah seorang raja yang mulia, agung, dan dermawan. Dia juga memiliki rekam jejak yang bagus. Dan, dia lah yang meneruskan pembangunan Masjid al-Muzhaffari di kaki gunung Qasiyun.” (Imam as-Suyuthi, al-Hawi lil Fatawi, [Beirut, Darul Fikr: 2004 M], juz 1, halaman 182).
Dapat diketahui, bahwa Sultan Muzhaffar adalah seorang penguasa yang yang gagah, pemberani, cerdas, dan adil. Ia mengadakan perayaan maulid yang mulia pada bulan Rabi’ul Awal dengan sangat besar.
Bahkan Imam Jalaluddin as-Suyuthi juga menceritakan perihal perayaan besar ini dalam kitabnya: وَقَالَ سِبْطُ ابْنِ الْجَوْزِيِّ فِيْ مِرْآةِ الزَّمَنِ: حَكَى بَعْضُ مَنْ حَضَرَ سِمَاطَ الْمُظَفَّرِ فِيْ بَعْضِ الْمَوَالِدِ أَنَّهُ عَدَّ فِيْ ذَلِكَ السِّمَاطِ خَمْسَةَ آلَافِ رَأْسِ غَنَمٍ شَوِيٍّ وَعَشْرَةَ آلَافِ دَجَاجَةٍ وَمِائَةَ فَرَسٍ وَمِائَةَ أَلْفِ زُبْدِيَّةٍ وَثَلَاثِيْنَ أَلْفَ صَحْنِ حَلْوَى Artinya: “Cucu Imam Ibnul Jauzi berkata didalam Mir`aatuz Zaman: “Sebagian orang yang pernah menghadiri perjamuan Raja Muzhaffar dalam beberapa Maulid, dia menghitung dalam perjamuan tersebut sebanyak 5.000 kepala kambing bakar, 10.000 ayam, seratus kuda, 100.000 roti mentega dan 30.000 piring kue.” (Imam as-Suyuthi, al-Hawi lil Fatawi, [Beirut, Darul Fikr: 2004 M], juz 1, halaman 172).
Tidak hanya sebatas perayaan seremonial, Sultan Muzhaffar juga pernah memberi hadiah sebesar 1000 dinar (sekitar 5 milyar, kurs sekarang) kepada Al-Hafizh Syekh Abul Khathab Ibnu Dihyah yang telah mengarang kitab tentang maulid bernama At-Tanwir Fi Maulid Al-Basyiir An-Nazhir.
Meskipun para ulama ahli sejarah berbeda pendapat perihal orang pertama yang mengadakan seremonial maulid, baik dari kalangan ulama salaf (klasik) maupun ulama khalaf (kontemporer). Namun yang pasti, perayaan maulid bukanlah sesuatu yang baru dalam sejarah Islam.
Demikian biografi singkat Raja Muzhaffar, penguasa Ibril, Irak, orang pertama yang mengadakan seremonial perayaan Maulid Nabi Muhammad. Semoga penjelasan di atas dapat menambahkan wawasan serta mahabbah kita kepada Nabi Muhammad SAW. Wallahu a’lam
Editor: A Habiburrahman
Penulis: M Rufait Balya B





