KRATON,REDAKSI17.COM – Salah satu kunci sukses desa atau kampung wisata adalah memfokuskan pada daya tarik unggulan yang dimiliki tempat itu. Pengelola diharapkan mencari kekuatan daya tarik dari desa atau kampung wisata. Namun daya tarik itu tidak perlu harus melakukan pembangunan yang masif dan massal. Kampung atau desa wisata juga perlu mengangkat kekuatan gastronomi kuliner berbasis tradisi budaya.
Demikian disampaikan Guru Besar Arsitektur dan Perencanaan Pariwisata UGM Prof. Wiendu Nuryanti dalam talkshow dan bimbingan teknis pengembangan kampung wisata. Talkshow itu adalah rangkaian kegiatan Festival Mustika Rasa yang digelar di Alun-alun Selatan 29-30 Agustus 2026. Sebagai pelaksana perencanaan desa wisata di sejumlah daerah di Indonesia, Wiendu mengatakan ada desa atau kampung wisata yang sukses, setengah-setengah dan gagal.
“Kunci sukses (desa/kampung wisata) yang pertama memiliki nilai daya tarik. Kalau tidak memiliki daya tarik apa pun, jangan. Misalnya daya tarik itu dibangun itu akan memerlukan waktu sangat lama menjadi sebuah daya tarik wisata. Kita harus bisa mencari yang paling menjadi kekuatan daya tariknya apa,” kata Wiendu saat talkshow di kawasan Alun-Alun selatan, Sabtu (29/8/2026).

Menurutnya selama ini banyak masyarakat yang terlena atau terjebak dengan potensi maupun kekayaan yang dimiliki desa atau kampung untuk dijadikan daya tarik wisata. Untuk itu perlu dikerucutkan dengan cara melakukan komparasi atau perbandingan dengan daya tarik yang tidak dimiliki desa atau kampung wisata lainnya. Misalnya terdapat sungai di desa itu harus memiliki daya tarik unik seperti wisatawan bisa bermain air atau memancing. Tidak sekadar memandang air.
“Kita lihat yang paling menarik itu apa. Coba fokuskan kepada daya tarik yang memang unggulan. Negara-negara seperti di Thailand itu berani dengan slogan Satu Desa, Satu Atraksi. Supaya mengerucut karena kalau terlalu banyak daya tariknya, terlalu banyak atraksinya, maka akan sulit memfokuskan,” paparnya.
Dia menuturkan untuk menentukan daya tarik unggulan itu masyarakat harus melakukan rembug desa. Termasuk menyepakati daya tarik unggulan yang diangkat untuk desa atau kampung wisata. Misalnya menciptakan atraksi unggulan. Namun Wiendu mengingatkan tidak perlu harus pembangunan-pembangunan yang sangat masif dan biaya tinggi. Misalnya potensi sungai hanya perlu dibersihkan, dipastikan keamanan agar orang tidak terpeleset.

Wiendu juga menekankan terkait pentingnya kuliner di desa atau kampung wisata karena wisatawan membutuhkan hal tersebut. Namun dalam pariwisata tidak sebatas kuliner makanan dan minuman agar menarik wisatawan. Tapi kekuatan gastronomi bisa menjadi daya tarik
“Kalau kuliner itu kita berbicara soal makanan, soal jenis-jenis makanan. Tapi kalau gastronomi, itu bicara penyajian makanan, proses masak-memasak memiliki unsur tradisi atau berdasarkan pada tradisi budaya. Kita memiliki semua itu. Makanan yang kita sajikan itu berbasiskannya pada tradisi, Misalnya cara makannya harus pakai tangan, pakai (sendok) suru dan pincuk (dari daun) dan segala macam. Ini adalah pernak-pernik yang kita bisa jadikan sebagai aset dalam desa atau kampung wisata,” jelasnya.
Salah satu peserta talkshow dan bimtek Yuliati selaku penggiat Kampung Wisata Sayidan menyambut baik acara itu. Melalui kegiatan itu dia bisa menambah informasi terkait pengembangan desa atau kampung wisata. Dia mengaku selama ini Kampung Wisata Sayidan memiliki beberapa keunggulan seperti UMKM pembuatan brondong beras atau jipang, Klenteng Gondomanan, jembatan ikonik Sayidan dan kafe milik salah satu personel band asal Yogya Shaggydog. Kampung Sayidan juga banyak dikenal lewat lagu Di Sayidan milik Shaggydog.
“Saya ingin menambah informasi tentang kampung-kampung wisata yang lainnya. Jadi kita bisa bertukar pikiran gimana nanti yang bisa masuk Sayidan, atau Sayidan kolaborasi dengan kampung yang lainnya. Selama ini sudah ada sejumlah tamu di Kampung Wisata Sayidan,” tandas Yuli ditemui di sela talkshow


