
Gondokusuman,REDAKSI17.COM – Ribuan pelajar SMPN 5 Yogyakarta dan SDN Serayu Yogyakarta menyemarakkan peringatan HUT ke-270 Kota Yogyakarta melalui karnaval budaya, Selasa (30/9).
Beragam pakaian adat dan kostum kreasi bertema cerita rakyat menghiasi jalanan Kota Yogyakarta, sekaligus menjadi ruang bagi pelajar untuk mengenal dan mengekspresikan kekayaan budaya.
Karnaval dimulai dari lingkungan sekolah dengan menyusuri Jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo, Jalan Jenderal Sudirman, kawasan Kotabaru, kemudian kembali ke sekolah masing-masing. Para pelajar tampil dalam berbagai karakter cerita rakyat dengan kostum yang dipersiapkan secara bersama-sama oleh siswa, guru, dan orang tua.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Yogyakarta Agus Trimadi mengatakan, karnaval menjadi bagian dari upaya menanamkan nilai budaya sekaligus membentuk karakter pelajar Kota Yogyakarta.
Menurutnya, tema HUT ke-270 Kota Yogyakarta, “Otentik Konkret”, dapat dimaknai melalui sikap dan karya nyata para pelajar.
“Otentik berarti tetap menjadi diri sebagai pelajar di Yogyakarta yang santun, berbudaya, menghormati guru dan orang tua, tetapi tetap maju dalam menguasai teknologi. Konkret berarti nilai-nilai itu terlihat dalam tindakan nyata,” ujarnya.

Agus mencontohkan tindakan nyata tersebut antara lain belajar dengan sungguh-sungguh, berprestasi, menjaga kebersihan, tidak melakukan perundungan, serta peduli kepada teman dan lingkungan.
“Yogyakarta sudah berusia 270 tahun. Sekarang tugas kalian ikut menentukan masa depannya. Saya titip satu kalimat, otentik dalam jati diri, konkret dalam karya. Jangan hanya bangga menjadi pelajar Yogyakarta, jadilah pelajar yang membuat Yogyakarta bangga,” katanya.

Kepala SMPN 5 Yogyakarta Siti Arina Budiastuti menyampaikan, karnaval budaya tersebut diikuti lebih dari seribu peserta. Peserta terdiri dari 956 siswa, 85 guru dan karyawan, serta perwakilan lainnya.
Ia mengapresiasi kolaborasi antara sekolah, orang tua, komite sekolah, dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Yogyakarta yang turut mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Terima kasih kepada seluruh panitia sekolah dan panitia orang tua yang membuat kegiatan hari ini begitu indah. Ini merupakan kolaborasi sekolah dan masyarakat untuk memberikan kegiatan yang bermakna bagi anak-anak,” ungkapnya.
Menurut Arina, kostum yang ditampilkan para pelajar mengangkat berbagai cerita rakyat. Selain memeriahkan HUT Kota Yogyakarta, kegiatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan siswa terhadap budaya Indonesia, khususnya budaya Yogyakarta.

Salah satu peserta karnaval, Nohanwiranta Shandana atau Noe, siswa kelas 8E SMPN 5 Yogyakarta, tampil sebagai maskot dalam cerita Aji Saka dan Dewata Cengkar. Cerita tersebut mengangkat kisah Aji Saka yang berkaitan dengan asal-usul aksara Jawa.
“Ini pertama kali memakai kostum seperti ini. Saya bangga karena ditunjuk kelas untuk menjadi maskot,” kata Noe.
Kostum yang dikenakannya memiliki berat sekitar tiga kilogram. Bersama teman-teman sekelasnya, Noe mengaku telah mempersiapkan karnaval dan pertunjukan lanjutan selama sekitar dua minggu.
“Kami membuatnya bersama dari awal. Persiapannya sekitar dua minggu dan teman-teman sangat solid,” ujarnya.

Noe berharap peringatan HUT ke-270 Kota Yogyakarta dapat semakin semarak dengan berbagai kegiatan yang melibatkan pelajar dan masyarakat.
“Semoga Kota Yogyakarta lebih jaya lagi dan bisa menghadirkan acara-acara seperti karnaval yang lebih megah,” harapnya.
Kemeriahan juga terasa di sepanjang rute karnaval. Masyarakat turut menyaksikan dari pinggir jalan, merekam penampilan para pelajar, melambaikan tangan, dan memberikan semangat. Interaksi tersebut membuat karnaval tidak sekadar menjadi parade kostum, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan antara pelajar dan masyarakat.
Melalui karnaval budaya, semangat HUT ke-270 Kota Yogyakarta hadir dalam kreativitas, cerita rakyat, kebersamaan, serta gotong royong. Para pelajar tidak hanya mengenakan kostum, tetapi turut belajar bahwa budaya dapat dirawat melalui karya dan tindakan nyata.



