Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Pemda DIY bersama Polri menyiapkan sejumlah skema rekayasa lalu lintas untuk mengantisipasi kepadatan kendaraan selama arus mudik dan arus balik Idul Fitri 2026. Salah satu langkah yang disiapkan adalah kemungkinan pengaktifan ruas Tol Purwomartani secara fungsional untuk membantu mengurai kepadatan kendaraan yang keluar dari wilayah DIY.
Hal tersebut disampaikan oleh Kapoda DIY, Brigjen Pol. Anggoro Sukartono, usai Rapat Koordinasi Forkopimda terkait kesiapan pengamanan libur Idul Fitri yang digelar di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Selasa (10/03). Skema ini dipandang perlu untuk memberikan kenyamanan dan kelancaran arus balik.
Anggoro menjelaskan bahwa rencana pengaktifan tol tersebut telah melalui proses survei yang dilakukan bersama Kementerian Perhubungan. Menurutnya, ruas tol tersebut nantinya direncanakan akan difungsikan sebagai jalur satu arah yang digunakan untuk membantu arus kendaraan keluar dari wilayah Yogyakarta setelah puncak kedatangan pemudik.
“Kami sudah menerima informasi dari Kementerian Perhubungan bahwa Tol Purwomartani akan difungsikan satu arah untuk akses keluar dari DIY,” ujarnya.
Kebijakan tersebut disiapkan dengan mempertimbangkan tingginya jumlah mobilitas masyarakat yang diprediksi masuk ke wilayah Yogyakarta selama masa mudik. Berdasarkan hasil survei Kementerian Perhubungan, jumlah kedatangan diperkirakan mencapai sekitar 8,2 juta orang.
Angka tersebut diperoleh dari berbagai indikator. Mulai dari estimasi penggunaan kendaraan pribadi, jumlah penumpang kereta api di Stasiun Tugu dan Lempuyangan, hingga pemantauan kendaraan yang memasuki jalur tol utama seperti Gerbang Tol Kalikangkung.
Sebagian besar pemudik diperkirakan berasal dari wilayah Jakarta dan sekitarnya. Dengan waktu tempuh perjalanan darat sekitar enam jam, kepadatan kendaraan diperkirakan mulai meningkat pada beberapa hari menjelang lebaran.
“Data inilah yang akan digunakan untuk memprediksi kemacetan. Mengingat penyumbang wisatawan terbesar adalah dari Jakarta, kita memprediksi jarak tempuh wajar mengemudi dari Jakarta ke Jogja. Dalam waktu sekitar 6 jam mereka sudah bisa masuk wilayah kita dengan biaya perjalanan yang relatif murah,” papar Anggoro.
Puncak arus kedatangan pemudik diperkirakan terjadi pada H-5 hingga H-3 Idulfitri. Pemerintah pusat sendiri telah mengantisipasi kondisi tersebut melalui kebijakan libur panjang serta penerapan skema Work From Anywhere (WFA) bagi sejumlah sektor pekerjaan.
Selain rekayasa lalu lintas, kepolisian juga menekankan pentingnya penyebaran informasi kepada masyarakat terkait kondisi lalu lintas di wilayah Yogyakarta. “Ada satu hal penting yang dilakukan oleh Pemda DIY, yaitu masifikasi informasi kepada masyarakat. Ini sangat krusial. Setiap orang yang datang harus tahu tentang kondisi lalu lintas Jogja. Upaya ini dilakukan untuk mencegah bertemunya ketidaktahuan wisatawan dengan kondisi titik-titik rawan di Jogja,” jelas Anggoro.
Koordinasi dengan berbagai platform navigasi digital seperti Google Maps dan Waze juga dilakukan. Hal ini untuk memastikan informasi rute perjalanan yang ditampilkan sesuai dengan pengaturan lalu lintas di lapangan. Langkah ini diharapkan dapat mencegah kendaraan dialihkan ke jalur-jalur kecil yang tidak memiliki pengawasan petugas dan berpotensi menimbulkan kemacetan baru.
“Dalam perkembangannya, situasi di lapangan bisa berubah setiap hari. Apabila ada jalur yang berpotensi menimbulkan kerawanan lalu tiba-tiba dialihkan oleh sistem Google Maps, hal ini yang harus kita cegah. Kita arahkan masyarakat agar tetap berada pada lajur dan jalur utama yang memang dijaga petugas,” terangnya.
Ia menekankan pentingnya masyarakat memperoleh informasi yang jelas mengenai estimasi antrean kemacetan di suatu jalur, baik sekitar satu jam, 15 menit, maupun 10 menit. Dengan demikian, para pengguna jalan dapat mengetahui kondisi lalu lintas yang sebenarnya saat melintas di jalur tersebut.
Humas Pemda DIY




