Lalu debu pertama bergolak di tanah Gresik, ketika Sabtu Pahing 1869 mengantarkan tangis seorang bayi. Namanya Masdan. Orang-orang belum tahu, di dalam dadanya yang kecil itu tersimpan riwayat lima pulau, desir ribuan jurus, dan sebuah nama yang kelak menggetarkan Madiun: Setia Hati.
Ia bukan raja. Ia bukan pula resi yang duduk di pertapaan. Ia hanya anak seorang manteri cacar dari Ngimbang, yang darahnya mengalir dari Bupati Gresik, dari R.A.A Koesomodinoto di Kediri, dari Batoro Katong di Ponorogo, dari Prabu Brawijaya yang singgasananya runtuh bersama Majapahit.
Tapi darah itu tak pernah diam. Darah Majapahit tak sudi mati di buku babad. Ia menuntut jalan. Maka Masdan pun berjalan.
Angin Priangan mengajarinya Cimande, angin Betawi membisikkan Betawen, angin Ranah Minang meniupkan rahasia Tat Twam Asi ke telinganya.
Ia belajar bukan untuk menang. Ia belajar untuk menjawab. Menjawab bebana seorang gadis: Siapakah Masdan ini? Siapakah saya ini?
Sepuluh tahun ia merantau, dari meja kontrolir ke gelanggang para pendekar. Dari pisungsun hitam komplit di Padang, hingga sumpah persaudaraan di Jumat Legi 10 Suro. Dari bentrok dengan pelaut asing di Ujung, hingga desah kereta api yang membawanya ke Madiun.
Bukan dengan singgasana. Tapi dengan debu Magazijn DKA, dengan rel yang tak pernah tidur, dengan tanah yang haus akan makna. Di sanalah, 1917, nama Djojogendilo, ia tanggalkan. Ia sematkan nama baru: Setia Hati. Sebab ia tahu, silat tanpa hati hanya tarian. Ilmu tanpa laku hanya debu.
Ia tak punya bala tentara. Senjatanya hanya keris di pinggang dan tasbih di tangan. Ia tak menaklukkan Madiun dengan perang. Ia menaklukkan Madiun dengan persaudaraan.
Langit Madiun meredup. Sang Empu pulang. Ia tinggalkan kijing granit, selimut melati, dan empat wasiat. Tapi ia tak benar-benar pergi. Sebab setiap kali ada dua saudara berjabat tangan di bawah panji Setia Hati, di situ Masdan hidup lagi.
Maka serat ini ditulis. Bukan untuk mengagungkan nama. Tapi untuk mengingat laku. Bahwa Setia Hati lahir dari debu jalan, dari air mata, dari cinta yang tak terjawab kecuali dengan laku.
Ini bukan sekadar serat tentang jurus. Ini serat tentang lelaku. Tentang seorang Masdan yang meniti angin dari Gresik ke Padang, dari Batavia ke Madiun, bukan untuk menaklukkan, tapi untuk menganyam.





