Home / Hikayat, Seni dan Budaya / SULTAN YANG TIGA KALI DITUMBANGKAN DAN TIGA KALI BANGKIT

SULTAN YANG TIGA KALI DITUMBANGKAN DAN TIGA KALI BANGKIT

Membaca Peninggalan Arkeologis Hamengkubuwana II
oleh M. Basyir Zubair | Arkeolog & Penulis Populer-Akademis
Ada sebuah makam di Kotagede. Tak jauh dari tempat tinggalmu. Tak jauh dari warung angkringan tempat kita minum teh. Makam itu menyimpan jasad seorang raja yang tiga kali ditendang dari takhtanya oleh kekuatan asing, dan tiga kali pula dia bangkit.
Ini bukan dongeng. Ini arkeologi. Ini sejarah yang bisa kamu sentuh, batu nisannya ada, benteng yang dia bangun masih berdiri, kolam pesanggrahan yang dia dirikan masih menyimpan air hujan Yogyakarta. Dan kita nyaris tidak pernah membicarakannya dengan cara yang sepantasnya.
Namanya Sri Sultan Hamengkubuwana II. Lahir di lereng Gunung Sindoro, 7 Maret 1750. Meninggal di dalam keraton yang telah dia pertahankan dengan seluruh hidupnya, 3 Januari 1828. Dan bila kamu pernah berjalan melewati Baluwarti, duduk di tepi kolam Warungboto, atau ziarah ke Kotagede, kamu sedang berdiri di atas jejak seorang pemberontak.
TITIK BALIK ARKEOLOGIS
Peninggalan fisik HB II bukan sekadar monumen keindahan. Bangunannya adalah dokumen perlawanan. Setiap lapisan bata di Baluwarti, setiap sumur di Warungboto, adalah pernyataan politik yang diukir dalam material.
I. LAHIR DI MEDAN PERANG: KETIKA ARKEOLOGI DIMULAI DARI TRAUMA
Sebelum kita bicara tentang bangunan-bangunannya, kita harus bicara tentang tanah yang membentuknya.
Raden Mas Sundoro nama kecil HB II, tidak lahir di dalam keraton. Dia lahir di tenda pengungsian, di lereng Gunung Sindoro, ketika ayahnya Pangeran Mangkubumi masih berperang melawan VOC. Tahun 1750. Artinya, trauma kolonial adalah ruang pertama yang dia hirup.
Seorang arkeolog membaca ini bukan hanya sebagai biografi, melainkan sebagai konteks pembentukan. Dalam arkeologi perilaku, behavioral archaeology, kita memahami bahwa lingkungan awal membentuk cara manusia berinteraksi dengan ruang, dengan material, dan dengan kekuasaan.
HB II tumbuh di antara pelarian dan perlawanan. Maka ketika dia akhirnya memegang kekuasaan, responnya terhadap ancaman pun bersifat material dan spasial: dia membangun, dia memperkuat, dia membentengi.
“Pengungsian adalah sekolah pertama seorang raja. Dan sekolah itu mengajarkan satu pelajaran: ruang bisa direbut, dan ruang harus dipertahankan.”
Pembacaan arkeologis atas biografi HB II
Ketika Perjanjian Giyanti 1755 akhirnya mengakhiri perang dan keluarga Mangkubumi pindah ke Keraton Yogyakarta, RM Sundoro pun masuk ke dunia baru. Namun memorinya tentang pengungsian tidak pernah hilang. Dan kita bisa membaca memori itu di dalam batu.
II. BALUWARTI: KETIKA TEMBOK ADALAH MANIFESTO
Sebelum penobatannya tahun 1792, jauh sebelum dia resmi menjadi Sultan, RM Sundoro sudah bergerak. Dia mengerahkan pekerja keraton untuk membangun tembok baluwarti di sekitar alun-alun utara dan selatan. Ini bukan proyek estetika. Ini respons terhadap ancaman konkret: Benteng Rustenburg yang dibangun VOC sejak 1765 atas prakarsa Komisaris Nicholas Hartingh, berdiri mengancam di sebelah utara keraton.
Lantas dia menempatkan 13 meriam di bagian depan keraton, menghadap langsung ke arah benteng Belanda itu.
FAKTA ARKEOLOGIS
Dalam studi arkeologi pertahanan (defensive archaeology), orientasi senjata dan penempatan artillery adalah tanda baca dari sebuah strategi. 13 meriam menghadap Rustenburg bukan hiasan, itu adalah sinyal yang bisa dibaca bahkan tanpa teks tertulis: ‘Kami tahu kalian di sana, dan kami siap.’
Tembok Baluwarti yang kini masih sebagian berdiri dan menjadi batas visual keraton, itu bukan warisan HB I semata. Itu juga tangan HB II. Dalam ilmu konservasi, kita berbicara tentang lapisan-lapisan pembangunan sebagai stratigrafi arsitektur. Dan stratigrafi Baluwarti menyimpan narasi perlawanan yang belum sepenuhnya dibaca.
Ini yang tidak pernah diajarkan di sekolah: bahwa arsitektur keraton bukan hanya ekspresi estetika Jawa, melainkan juga strategi militer yang terencana. HB II membaca ruang sebagai ancaman, dan meresponsnya dengan material yang bertahan ratusan tahun.
“Meriam itu menghadap ke utara. Ke arah Belanda. Bukan kebetulan. Itu adalah pernyataan.”
Analisis spasial Baluwarti
III. WARUNGBOTO: PESANGGRAHAN YANG MENYIMPAN LUKA
Taman Air Warungboto atau Pesanggrahan Rejowinangun, adalah salah satu peninggalan HB II yang kini telah dipugar dan dibuka sebagai destinasi wisata. Tapi tahukah kamu apa yang sesungguhnya tersimpan di sana?
Pesanggrahan secara arsitektural adalah ruang retreat, tempat peristirahatan keluarga kerajaan. Dalam tradisi Jawa-Islam, pesanggrahan bukan hanya tempat istirahat fisik, melainkan juga ruang meditatif, ruang di mana seorang penguasa bisa melepaskan diri dari tekanan keraton dan berpikir jernih.
Warungboto dibangun HB II dalam konteks tekanan kolonial yang mencekik. Sementara Daendels mengancam dari barat, sementara lobi-lobi politik keraton saling berkhianat, HB II membangun kolam. Membangun taman air. Ini bukan tanda kelemahan, ini tanda seorang penguasa yang membutuhkan ruang berpikir.
DEBAT ILMIAH
Arsitektur pesanggrahan HB II menunjukkan perpaduan gaya Jawa dengan elemen yang dipengaruhi oleh tradisi taman Islam (taman firdaus), sebuah sinkretisme yang mencerminkan identitas keislaman HB II di tengah tekanan Eropa. Ini layak menjadi kajian tersendiri dalam arkeologi Islam Nusantara.
Ketika kita berjalan di sana hari ini, di antara kolam dan dinding batu yang telah dipugar, kita sedang berjalan di atas reruntuhan psikologi seorang raja yang tahu dirinya dikepung. Dan dia meresponsnya dengan membangun keindahan. Dengan membangun air. Dengan membangun ketenangan artifisial di atas kekacauan nyata.
Pemugaran 2018 pada Situs Gua Seluman yang juga merupakan bagian dari sistem pesanggrahan kuno HB II, menambah lapisan penting dalam pemahaman kita tentang jaringan ruang kerajaan di selatan Yogyakarta. Tapi pemugaran tanpa dokumentasi arkeologis yang ketat adalah pisau bermata dua: kita memperindah sekaligus menghapus stratigrafi yang tidak bisa digantikan.
IV. TIGA PERIODE, TIGA PENGHINAAN, TIGA PELAJARAN
Mari kita bicara tentang apa yang sesungguhnya terjadi pada HB II, karena ini bukan sekadar kisah raja yang digulingkan. Ini adalah kisah tentang bagaimana kekuatan kolonial memanipulasi legitimasi untuk menghancurkan perlawanan.
Pertama: 1810. Daendels datang dengan 3.300 pasukan. HB II diturunkan karena menolak menyejajarkan posisi duduk residen Belanda dengan posisi sultan dalam acara resmi. Sebuah pertempuran protokol yang berujung pada penggulingan. Secara arkeologis, ini adalah pertempuran atas ruang seremonial, siapa yang berhak menduduki posisi mana dalam tata ruang kekuasaan.
Kedua: 1812. Raffles mengirim pasukan Sepoy. Keraton diserbu. Ribuan naskah sastra Jawa dijarah. HB II ditangkap, dibuang ke Penang. Dari sudut arkeologi, ini adalah peristiwa penghancuran rekam budaya yang masif, lebih dari sekadar pembakaran perpustakaan, ini adalah pencurian identitas kolektif.
TITIK BALIK ARKEOLOGIS
Penjarahan naskah-naskah Jawa oleh Raffles pada 1812 adalah salah satu bencana arkeologi terbesar dalam sejarah Nusantara yang jarang dibahas dengan intensitas yang sepantasnya. Ribuan manuskrip yang kini tersebar di perpustakaan Eropa adalah luka yang belum sembuh.
Ketiga: 1826. Belanda memulangkan HB II bukan karena kasihan, melainkan karena kalkulasi politik. Perang Diponegoro sedang memuncak. Belanda butuh figur yang masih dihormati untuk memecah konsentrasi massa perlawanan. HB II sudah tua, sudah sakit dan dijadikan alat.
Dan di sinilah tragedi terdalam: seorang raja yang seumur hidupnya menolak menjadi boneka, akhirnya dipulangkan justru untuk difungsikan sebagai boneka. Dia berusaha menjaga martabat, catatan menyebut bahwa dia tidak pernah sungguh-sungguh membujuk Diponegoro untuk berhenti, tapi kehadirannya tetap dimanfaatkan Belanda.
Tanggal 3 Januari 1828, HB II meninggal di dalam keraton. Dan karena Perang Jawa sedang berkecamuk, prosesi pemakaman ke Imogiri tidak bisa dilakukan. Dia dimakamkan di Kotagede.
“Di Kotagede, sultan pemberontak itu berbaring di tanah yang sama dengan leluhur Mataram. Seolah sejarah memberikan kepadanya pelukan terakhir yang tidak pernah dia terima dari zamannya.”
Renungan di makam Kotagede
V. KARYA SASTRA SEBAGAI ARTEFAK: MEMBACA BABAD SEBAGAI DATA
Seorang arkeolog tidak hanya membaca tanah. Dia juga membaca teks. Dan HB II mewariskan teks-teks yang luar biasa: Babad Nitik Ngayogya, Babad Mangkubumi, Serat Baron Sekender, Serat Suryaraja.
Dalam arkeologi kognitif, karya sastra adalah artefak mental, jejak cara berpikir, cara memahami dunia, cara mendefinisikan identitas. Babad Mangkubumi, misalnya, bukan sekadar catatan sejarah. Ini adalah konstruksi legitimasi, sebuah narasi yang dibangun untuk memosisikan Dinasti Mataram-Yogyakarta dalam kosmologi kekuasaan Jawa.
Serat Suryaraja menarik secara arkeologis. Ditulis saat RM Sundoro masih muda, di tengah kegelisahan mitos akhir abad (1774/tahun Jawa 1700), naskah ini berisi ramalan bahwa mitos keruntuhan akan gugur karena Surakarta dan Yogyakarta akan bersatu di bawah kepemimpinannya. Ini adalah dokumen ambisi politik yang dibalut dalam bahasa ramalan, sebuah strategi tekstual yang sangat canggih.
BATAS KLAIM
Klaim bahwa Soekarno adalah keturunan ke-5 HB II memerlukan verifikasi genealogis yang ketat. Sumber yang beredar menyebut jalur melalui Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Mangkudiningrat. Ini bukan mustahil, tapi arkeolog dan sejarawan perlu membaca silsilah ini dengan hati-hati sebelum menjadikannya narasi publik.
Dan wayang. HB II memerintahkan pembuatan wayang kulit dengan watak perang, menggubah pertunjukan wayang orang dengan lakon Jayapusaka yang menampilkan Bima sebagai tokoh utama. Bima tokoh Pandawa yang jujur, keras, dan tak bisa dibeli. Ini bukan kebetulan. Ini adalah pernyataan diri melalui medium budaya. HB II sedang berbicara tentang dirinya sendiri melalui Bima.
Dalam bahasa arkeologi simbolik, pemilihan tokoh Bima adalah self-representation yang sangat sadar. Dan kenyataan bahwa dia melakukannya melalui seni pertunjukan, medium yang bisa dinikmati oleh semua kalangan, dari bangsawan hingga rakyat jelata, menunjukkan pemahaman yang canggih tentang komunikasi massa di eranya.
VI. YANG MASIH BERDIRI, YANG SUDAH HILANG
Inilah pertanyaan yang paling penting bagi seorang arkeolog: dari seluruh warisan HB II, apa yang masih bisa kita baca?
Yang masih berdiri: Baluwarti, meski sebagian. Warungboto, telah dipugar. Situs Gua Seluman, dipugar 2018. Makam di Kotagede, dan ini yang paling mengharukan berdiri di kompleks pemakaman yang sama dengan makam-makam pendiri Mataram Islam.
Yang sudah hilang atau tersebar: ribuan naskah yang dijarah Raffles. Sistem pertahanan militer yang telah dirombak berulang kali. Konfigurasi ruang keraton sebelum serangan 1812. Meriam-meriam yang pernah menghadap ke arah Rustenburg.
DEBAT ILMIAH
Seberapa besar kerusakan akibat serangan Geger Sepehi 1812 terhadap stratigrafi arsitektur Keraton Yogyakarta? Ini adalah pertanyaan yang belum terjawab sepenuhnya. Dokumen kolonial Inggris menyebut kerusakan masif, tapi seberapa jauh kerusakan itu mengubah tata ruang keraton yang kita kenal hari ini? Dibutuhkan kajian arkeologi arsitektur yang serius.
Dan di sinilah urgensinya: Kotagede, tempat HB II dimakamkan, tempat penulis artikel ini tinggal, adalah salah satu kawasan heritage Islam paling kaya di Jawa. Makamnya bukan monumen sendirian. Dia terhubung ke dalam jaringan situs yang mencakup masjid, pasar lama, rumah-rumah joglo, sistem irigasi kuno. Semuanya membentuk lanskap budaya yang utuh.
Dan lanskap itu sedang terancam, bukan oleh Daendels, bukan oleh Raffles, melainkan oleh sesuatu yang lebih halus dan lebih berbahaya: pembangunan yang tidak mempertimbangkan nilai arkeologis, pemugaran yang tidak didahului kajian mendalam, dan wisatawan yang tidak diberi konteks tentang apa yang sesungguhnya mereka lihat.
VII. MEMBACA MAKAM KOTAGEDE: CATATAN DARI LAPANGAN
Saya pernah berdiri di depan makam HB II di Kotagede. Bukan sebagai wisatawan. Sebagai arkeolog. Dan sebagai warga Kotagede yang tahu bahwa di bawah tanah ini tersimpan lebih dari sekadar jasad.
Komplek makam kerajaan Kotagede adalah salah satu situs arkeologi Islam terpenting di Jawa, dalam arti yang paling teknis. Di sinilah prasasti-prasasti nisan dapat dibaca sebagai dokumen sejarah. Di sinilah orientasi makam, material batu, dan pola tata letak kubur mencerminkan periodisasi kekuasaan Mataram Islam.
HB II dimakamkan di sini bukan karena pilihan bebas, melainkan karena darurat Perang Jawa. Ironi yang tragis: raja yang sepanjang hidupnya ingin mengendalikan nasibnya sendiri, bahkan di kematian pun tidak bisa memilih tempat peristirahatannya.
Tapi mungkin itulah juga keadilannya. Makam Kotagede adalah akar. Dan HB II yang lahir di pengungsian, yang dibesarkan di atas trauma, yang membangun tembok dan kolam dan naskah sebagai perlawanan, akhirnya kembali ke akar itu.
“Arkeologi bukan hanya tentang apa yang tersisa. Tapi juga tentang apa yang tidak bisa dihilangkan meskipun segalanya telah dirampas.”
Catatan lapangan, Kotagede
PENUTUP: MENGAPA INI PENTING HARI INI
Ketika kita membaca HB II hanya sebagai raja yang keras kepala, kita melewatkan keseluruhan dimensi manusianya. Dia adalah anak yang lahir dalam pengungsian dan menjadi raja. Dia adalah arsitek yang membangun pertahanan. Dia adalah sastrawan yang menulis ramalan dan lakon wayang. Dia adalah diplomat yang gagal, dan pejuang yang tidak pernah benar-benar menyerah.
Dan dia meninggalkan jejak. Jejak material yang bisa kita ukur, kita dokumentasikan, kita analisis dengan alat-alat arkeologi modern. Baluwarti masih berdiri. Warungboto masih ada airnya. Naskah-naskahnya, meski banyak yang tersebar ke Eropa, masih bisa kita lacak.
Yang tidak kita miliki adalah kemauan untuk membacanya dengan serius. Dengan hormat. Dengan metode yang pantas untuk seorang tokoh sebesar ini.
Ini bukan hanya tugas arkeolog. Ini tugas kita semua sebagai warga Yogyakarta, sebagai anak-cucu yang mewarisi kota yang pondasinya dibangun dari darah dan batu dan naskah seorang pemberontak berdarah Mataram.
BATAS KLAIM
Artikel ini ditulis berdasarkan sumber-sumber yang dapat diverifikasi: Djoko Marihandono (2008), M.C. Ricklefs (1981), serta sumber-sumber primer dari arsip keraton. Klaim genealogis dan atribusi arsitektur yang memerlukan kajian lebih lanjut telah ditandai secara eksplisit. Pembaca diajak untuk terus menggali.
Yogyakarta, 27042026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *