Beranda / Daerah / Akademisi UGM Bentuk “Manggolo Sewu”, Siap Jadikan Gunungkidul Motor Ekonomi Jawa Selatan

Akademisi UGM Bentuk “Manggolo Sewu”, Siap Jadikan Gunungkidul Motor Ekonomi Jawa Selatan

GUNUNGKIDUL,REDAKSI17.COM – Sejumlah dosen dan peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Perkumpulan Manggolo Sewu Gunungkidul (MasGun) resmi memperkenalkan diri dan bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, melakukan Audiensi di Ruang Nayyotama, Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Gunungkidul, Selasa, (23/6/2026). Organisasi ini hadir dengan misi besar untuk membawa Gunungkidul menjadi motor penggerak ekonomi di kawasan Jawa bagian selatan.

Dalam pertemuan yang diterima oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Gunungkidul, Sri Suhartanta dan jajaran pimpinan daerah atas izin Bupati Gunungkidul tersebut, Prof. Dr. Suratman selaku inisiator menjelaskan bahwa perkumpulan ini lahir dari kegelisahan para akademisi untuk “membayar utang” kepada tanah kelahiran dan alam yang telah mendukung perjalanan akademik mereka.

Nama “Manggolo Sewu” sendiri memiliki filosofi mendalam. “Manggolo” melambangkan jiwa kemanusiaan untuk memerangi keburukan, sementara “Sewu” merujuk pada kawasan Gunung Sewu. Prof. Suratman menekankan bahwa pendekatan yang diusung adalah pendekatan “Alam Semesta”, di mana pembangunan tidak hanya fokus pada manusia, tetapi juga menjaga keberlangsungan air, tanah, dan seluruh makhluk hidup di dalamnya.

“Manusia bisa berganti, bupati bisa berganti, tetapi Gununkidul dan alamnya tetap. Kami ingin menjaga alam semesta dan generasi masa depan agar Gunungkidul bisa mendunia,” ujar Prof. Suratman dalam paparannya.

Kawasan Jawa Selatan, khususnya zona karst seperti Gunungkidul, diidentifikasi memiliki tantangan serupa secara global, yakni krisis air, energi, dan kemiskinan. Manggolo Sewu Gunungkidul (MasGun) berkomitmen untuk menghadirkan inovasi guna mengatasi persoalan marginal tersebut, sebagaimana keberhasilan pengembangan geopark di wilayah lain seperti Langkawi, Malaysia.

Organisasi ini juga menekankan pentingnya pertumbuhan ekonomi dari bawah (bottom-up). “Tumbuh itu dari bawah, bukan hanya dari atas seperti hujan. Kita ingin rakyat kecil, bahkan anak-anak sekolah, merasakan dampak dan menjadi bagian dari gerakan ini,” tambahnya.

Selain fokus pada lingkungan dan ekonomi, Manggolo Sewu berencana masuk ke sektor pendidikan melalui gerakan Sekolah Manggolo Sewu. Program ini bertujuan mendidik generasi muda agar memiliki kepemimpinan dan jiwa seni, meneladani tokoh-tokoh besar asal Gunungkidul seperti maestro campursari Manthous.

Perkumpulan ini diperkuat oleh sejumlah akademisi lintas disiplin, di antaranya Ir. Bondan Galih Dewanto, Joko Susilo, serta para peneliti muda seperti Gilang Cahya Nusantara yang memiliki keahlian dalam ilmu kebumian dan geografi. Dengan kolaborasi bersama pemerintah daerah, Manggolo Sewu optimis dapat menciptakan perubahan nyata bagi kesejahteraan masyarakat Gunungkidul.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *