Yogyakarta,REDAKSI17.OM – Bel Canto: The Italian Voice, konser kolaborasi persembahan Yogyakarta Royal Orchestra (YRO) di bawah naungan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat bekerja sama dengan Kedutaan Besar Italia di Indonesia dan Istituto Italiano di Cultura Jakarta (IIC), sukses menghadirkan pertunjukan musik opera Italia yang memukau. Para penampil tampil anggun dengan mengenakan busana tradisional Jawa, menghadirkan nuansa budaya yang khas, di Museum Benteng Vredeburg pada Sabtu (18/07) malam.
Digelar terbuka untuk umum dan tanpa dipungut biaya, konser bagian dari kerja sama budaya antara Indonesia dan Italia ini disaksikan oleh kurang lebih 1.000 penonton. Selain putri sulung Raja Keraton Yogyakarta, GKR Mangkubumi, Duta Besar Italia untuk Indonesia Roberto Colaminè, Kepala Bakamla RI Laksdya TNI Dr. Irvansyah, serta Direktur Istituto Italiano di Cultura Jakarta Michele Cavallaro, hadir pula menyaksikan langsung konser ini, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) RI, Stella Christie.
Mengangkat tradisi bel canto, gaya bernyanyi klasik Italia yang terkenal dengan keindahan melodi, teknik vokal yang halus, dan ekspresi musikal yang kaya, konser kali ini berlangsung di bawah arahan konduktor Aurelio Canonic. Konser dibuka dengan L’italiana in Algeri: Overture karya Gioachino Rossini, dilanjutkan dengan sejumlah repertoar karya komponis opera Italia ternama, seperti Gioachino Rossini, Vincenzo Bellini, dan Gaetano Donizetti, yang dibawakan oleh tiga solois asal Italia, yakni Eva Polimeni (soprano), Daniele Falcone (tenor), dan Matteo Mancini (bariton), bersama Yogyakarta Royal Orchestra dan Yogyakarta Royal Choir.
Ditemui usai pertunjukan, Wamendiktisaintek RI, Stella Christie mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat, terutama generasi muda, dalam menyaksikan konser tersebut. Ia menilai, antusiasme itu menjadi keistimewaan Yogyakarta karena berbeda dengan pertunjukan opera di Italia yang umumnya didominasi penonton berusia lanjut.
“Kolaborasinya luar biasa. Saya memang senang opera. Senang sekali hari ini bisa nonton opera di Jogja. Biasanya kalau menonton opera di Italia, penontonnya didominasi orang-orang tua. Tetapi malam ini saya melihat banyak anak muda yang hadir. Itulah istimewanya Jogja,” ucap Wamen Stella.
Selain kualitas musikal para penyanyi, Wamen Stella juga mengaku terkesan dengan pemilihan Benteng Vredeburg sebagai lokasi pertunjukan. Baginya, suasana panggung terbuka tersebut mengingatkannya pada pertunjukan opera di Siena, Italia. Keistimewan itu pun semakin terasa melalui perpaduan opera Italia dengan busana tradisional Jawa yang dikenakan para penampil.
Melihat tingginya antusiasme masyarakat, Wamen Stella berharap, kolaborasi seni lintas budaya seperti ini dapat terus dikembangkan. Menurutnya, besarnya minat masyarakat Yogyakarta menunjukkan bahwa seni klasik memiliki ruang di tengah masyarakat, terutama di kalangan generasi muda. Ia juga meyakini setiap kolaborasi budaya akan menghadirkan makna dan nilai baru bagi semua pihak yang terlibat.
Sementara itu, Revana Daaviolina dari Yogyakarta Royal Choir mengatakan, keberhasilan pertunjukan tersebut tidak terlepas dari proses latihan yang intensif bersama konduktor Aurelio Canonici selama sepekan. “Latihannya seminggu intens banget. Beliau ngajarnya keren, teliti, detail. Hasilnya bisa kita lihat malam ini,” ujar Revana.
Menurut Revana, tingginya antusiasme anak-anak muda yang memenuhi area pertunjukan menjadi bukti bahwa seni pertunjukan, termasuk opera, memiliki potensi besar untuk terus berkembang di Yogyakarta. Ia berharap kolaborasi YRO dengan berbagai mitra internasional dapat terus berlanjut sebagai ruang pertukaran budaya yang tetap menjaga identitas budaya Indonesia.
Humas Pemda DIY





