Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), LPDP, dan Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi menginisiasi Program Pembangunan Kesejahteraan Holistik (PPKH). Program ini dirancang sebagai solusi komprehensif untuk mengatasi tantangan multidimensi yang dihadapi wilayah tersebut, mulai dari angka bunuh diri yang tinggi hingga masalah kemiskinan dan stunting, pembahasan tersebut berlangsung di Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Gunungkidul, Kamis, (6/8/2026).
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih mengungkapkan kekhawatiran mendalam terkait tren peningkatan kasus bunuh diri (gantung diri) di wilayahnya. Tercatat pada Maret 2026 hanya terdapat 5 kasus, namun angka tersebut melonjak tajam menjadi 23 kasus pada saat pertemuan koordinasi berlangsung. Fenomena kerentanan kesehatan jiwa ini terjadi secara konsisten dengan rata-rata di atas 20 kasus per tahun, menjadikan Gunungkidul sebagai salah satu daerah dengan kasus bunuh diri tertinggi di Indonesia.

Selain masalah kesehatan mental, Gunungkidul juga menghadapi tantangan ekonomi dan sosial yang berat. Tingkat kemiskinan tercatat mencapai 14%, angka stunting berada di level 19,7%, dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 73,13.
Menyikapi kompleksitas tersebut, Deputi Kemenko PMK, Ojat Darojat mendorong implementasi PPKH yang mengintegrasikan sektor kesehatan, pendidikan, ekonomi (pertanian), dan perlindungan sosial dalam satu ekosistem terpadu. Program ini menempatkan Gunungkidul sebagai lokus prototipe nasional, yang mana praktik terbaiknya diharapkan dapat direplikasi di kabupaten atau kota lain di seluruh Indonesia.
“Terdapat tiga pilar utama dalam intervensi ini, yakni pengembangan Sumber Daya Manusia, dengan Memperkuat kecakapan literasi numerik melalui pelatihan guru dan program piloting. Kemudian Ketahanan Sosial (Social Resilience) memperkuat sistem tata kelola kesehatan jiwa berbasis komunitas dan Puskesmas (TPKJM) melalui kolaborasi Fakultas Psikologi dan Kedokteran UGM.” papar Ojat.
Selain itu juga Ketahanan Ekonomi (Economic Resilience) berupa pengembangan demplot padi varietas Gamagora untuk membangun ekosistem pertanian yang membahagiakan bagi masyarakat.

Program ini melibatkan sinergi besar antara berbagai pihak. LPDP berperan sebagai penyedia anggaran riset yang bersifat jamak (multi-year). UGM, melalui berbagai fakultas seperti Fisipol, Psikologi, Pertanian, Geografi, dan Kedokteran, bertindak sebagai pelaksana action research yang akan turun langsung ke lapangan mulai akhir September atau Oktober. UGM juga akan menggandeng universitas lokal seperti Universitas Gunungkidul (UGK) dan UNY dalam pelaksanaannya.
Sebagai pendukung integrasi data, tim Geografi dan IT akan membangun sebuah dashboard program yang menyatukan informasi pendidikan, kesehatan mental, dan pertanian agar memudahkan pemerintah daerah dalam memantau perkembangan situasi secara berkala.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih menyatakan kesiapan penuh untuk mendukung program ini, termasuk penyediaan data, pendampingan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD), hingga skema pembiayaan bersama (co-funding) baik dalam bentuk in-kind maupun in-cases. Beliau berharap riset tindakan ini memberikan dampak nyata pada penurunan angka bunuh diri secara signifikan di tahun-tahun mendatang.


