Beranda / Daerah / Bupati Gunungkidul Ajak Siswa SMAN 2 Wonosari Jadi Benteng Pertahanan Melawan Narkoba dan Radikalisme

Bupati Gunungkidul Ajak Siswa SMAN 2 Wonosari Jadi Benteng Pertahanan Melawan Narkoba dan Radikalisme

Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) menggelar sosialisasi Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) di SMA Negeri 2 Wonosari, Kamis, (6/8/2026). Dalam kesempatan tersebut, pimpinan daerah yang hadir menekankan pentingnya peran pelajar sebagai “Permata” daerah yang harus dijaga dari ancaman narkoba dan paham radikalisme.

Dalam arahannya di hadapan siswa-siswi, ditegaskan bahwa narkotika bukan sekadar obat terlarang, melainkan musuh nyata yang dapat memutus rantai harapan masa depan dan menghancurkan kreativitas generasi muda. Para siswa diminta untuk menjadi pribadi yang tangguh dan berani berkata “tidak” pada pengaruh buruk, meskipun ajakan tersebut datang dari teman dekat atau ‘bestie’.

Selain narkoba, kewaspadaan terhadap paham radikalisme juga menjadi sorotan utama. Salah satu ciri yang harus diwaspadai adalah mulai lunturnya rasa nasionalisme, seperti keengganan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

“Lagu Indonesia Raya adalah doa. Di dalamnya terdapat ajaran untuk mendoakan kebahagiaan dan keselamatan seluruh rakyat, putra-putri bangsa, hingga kekayaan alam Indonesia,” tegas pimpinan daerah tersebut menjelaskan makna mendalam dari lagu kebangsaan tiga stanza.

Menghadapi era digital, para siswa diperingatkan agar tidak menjadi “budak” teknologi atau konten media sosial yang tidak bermanfaat seperti TikTok yang bersifat remeh-temeh. Pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya prinsip “saring sebelum sharing” guna menghindari penyebaran berita menyesatkan.

Ditekankan pula bahwa perbedaan mendasar antara manusia dengan makhluk lainnya adalah kepemilikan “budi” dan “adab”. Oleh karena itu, generasi Z diharapkan tidak menjadi generasi yang “lembek” atau malas bergerak (mager), melainkan harus rajin berolahraga dan disiplin dalam manajemen diri.

Untuk memotivasi para siswa, pimpinan daerah tersebut membagikan kisah perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan [12]. Ia menceritakan bagaimana dirinya tidak langsung kuliah selepas lulus sekolah menengah karena keterbatasan ekonomi keluarga. Ia bekerja selama delapan tahun dengan gaji awal Rp50.000 dan menabung dengan gigih sebelum akhirnya mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang D3 hingga S1.

“Ilmu membuat hidup menjadi mudah, agama membuat hidup menjadi terarah, dan seni membuat hidup menjadi indah,” ungkapnya menutup pesan motivasi. Para siswa didorong untuk berani bermimpi setinggi langit agar jika pun terjatuh, mereka akan tetap berada di antara bintang-bintang.

Melalui kegiatan ini, diharapkan SMA Negeri 2 Wonosari dapat menjadi benteng pertahanan yang kuat bagi para siswa dalam menyongsong masa depan tanpa paparan narkoba maupun radikalisme.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *