Negara-negara Barat dianggap meremehkan tingkat keparahan krisis pasokan minyak global. FOTO/Market Realist A A A
LONDON,REDAKSI17.COM – Perusahaan perdagangan minyak independen terbesar di dunia, Vitol, memperingatkan pemerintah negara-negara Barat bahwa mereka secara berbahaya telah meremehkan tingkat keparahan krisis pasokan minyak global. Penurunan harga minyak dari puncak tertingginya saat ini dinilai tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan, mengingat blokade di Selat Hormuz masih terus berlangsung dan mengancam stabilitas energi global.
“Di Eropa dan saya pikir di AS, semua orang tampak seperti tertidur di belakang kemudi dan terus menjalani hidup seperti biasa,” kata Anggota Dewan sekaligus Eksekutif Top Vitol untuk Timur Tengah, Tom Baker, dalam Konferensi Minyak & Gas Timur Tengah S&P Global di London dikutip dari World Oil, Jumat (5/6/2026).
Baker menilai, penurunan harga minyak mentah yang terjadi belakangan ini murni mencerminkan berkurangnya permintaan (demand destruction), bukan karena masalah pasokan fisik yang telah terselesaikan. Berdasarkan data internal Vitol, saat ini terjadi pengurangan permintaan global sekitar 4 juta barel per hari karena sejumlah negara memilih menunda pembelian dengan harapan adanya penyelesaian diplomatik. Krisis energi ini dipicu oleh ketegangan geopolitik menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dimulai sejak 28 Februari lalu. Dampaknya, arus perdagangan minyak global yang melewati titik penyempitan (chokepoint) strategis di Selat Hormuz praktis terhenti hingga 20 persen.
Lembaga keuangan global Goldman Sachs memperkirakan, persediaan minyak dunia saat ini sedang menipis pada laju yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Kondisi tersebut didorong oleh hilangnya produksi minyak mentah dari kawasan Timur Tengah yang mencapai sekitar 14,5 juta barel per hari. Harga minyak mentah Brent sendiri sempat melonjak hingga melampaui 126 dolar AS per barel saat ketegangan mencapai puncaknya. Namun, per 30 Mei, harga komoditas acuan global tersebut bergerak turun dan menetap di posisi 92,05 dolar AS per barel akibat spekulasi gencatan senjata dan koreksi pada volume permintaan.
Kendati demikian, Vitol menekankan bahwa risiko paling nyata justru mengancam produk-produk olahan seperti diesel kapal dan bahan bakar jet (avtur). Pada sektor ini, substitusi atau pengalihan sumber pasokan secara teknis sangat kompleks, sehingga potensi kelangkaannya akan jauh lebih sulit untuk dikelola oleh pasar. Di sisi lain, tekanan terhadap pasokan global kian diperparah oleh penurunan output dari negara produsen utama. Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak secara terbuka mengakui adanya penurunan ekstraksi minyak Rusia sejak awal tahun akibat pemeliharaan tak terduga pada sejumlah kilang mereka.
Sementara itu, JPMorgan memproyeksikan persediaan minyak komersial di negara-negara maju akan segera mendekati “tingkat stres operasional” pada awal Juni ini. Cadangan produk olahan bahkan diperkirakan bakal menyentuh ambang batas kritis pada periode Juli atau Agustus mendatang. Menurut laporan The Cipher Brief, pemodelan pasar dari JPMorgan menunjukkan stok minyak mentah bisa mencapai “lantai operasional” pada akhir bulan ini.
Jika kondisi tersebut tercapai, maka kenaikan harga akan menjadi satu-satunya mekanisme pasar yang tersisa untuk merasionalkan keterbatasan pasokan. Saat ini, pelaku pasar ekonomi dan bisnis global masih terjebak di antara dua sentimen yang saling bertentangan. Sentimen tersebut adalah prospek perpanjangan gencatan senjata AS-Iran yang dapat melonggarkan pengiriman di Selat Hormuz, melawan realitas fisik penipisan cadangan yang berpotensi memicu lonjakan harga jika blokade terus bertahan hingga musim panas.





