Gugatan Teologi Nusantara terhadap Kegagalan Metodologis Tafsir Kolonial dan Tekstual India di Monumen nusantara.
Problematika metodologis dalam memahami Borobudur dimulai sejak pemberian label awal yang tampak dipaksakan oleh naskah-naskah luar.
Penamaan relief dasar sebagai “Karmawibhaṅga” seolah-olah menjadikannya ilustrasi langsung dari teks Mahākarmavibhaṅga India, padahal penelitian N.J. Krom yang dipertegas A.J. Bernet Kempers menunjukkan fakta yang kontradiktif:
Dari ±160 panel yang ada, hanya sekitar 23 panel yang memiliki kesesuaian langsung dengan isi kitab Mahākarmavibhaṅga tersebut.
Fenomena ini memicu pertanyaan tajam: Atas dasar apa keseluruhan relief dilabeli demikian jika bukan karena pemaksaan tafsir tekstual terhadap sistem visual Nusantara yang jauh lebih kompleks…?
Masalah ini semakin nyata ketika merujuk pada teks Abhidharmakośa karya Vasubandhu, khususnya Bab III (Loka-nirdeśa) yang digunakan kolonial sebagai dasar pembagian tingkatan bangunan.
Teks tersebut menyatakan: “sattva-bhājana-loka-akhyas traidhātuka itaḥ cyutiḥ | janma ca ucyate tatra kāma-dhātur dvidhā-tmakaḥ || narakāḥ pitṛ-tiryag-manuṣyā devāś ca ṣaḍ-vidhāḥ | rūpa-ārūpya-dhātū ca ūrdhvam…” yang membagi semesta menjadi tiga alam.
Namun, secara doktrinal, teks India merinci Rūpadhātu terdiri dari ±17 tingkatan dan Ārūpyadhātu 4 tingkatan, sehingga membentuk total ±21 lapisan kosmik.
Fakta empiris di lapangan menunjukkan ketidaksinkronan yang fatal: Borobudur hanya memiliki 4 galeri persegi dan 3 teras melingkar dengan total 7 tingkatan utama.
Angka kosmologis teks India (±21) dipaksakan untuk menjelaskan struktur fisik (7) yang sama sekali tidak sesuai, membuktikan bahwa teks telah dipaksakan untuk menjelaskan Borobudur, bukan bangunan yang gagal merepresentasikan teks.
Ketegangan ini berlanjut pada tingkatan dasar yang dinamakan Kāmadhātu versi India. Dalam naskah itu, alam nafsu ini adalah ranah yang paling nyata dan terbuka, namun di Borobudur, bagian ini justru tersembunyi di balik lapisan batu.
Kontradiksi langsung antara konsep tekstual dan realitas arsitektural ini menunjukkan bahwa penamaan tersebut bukan hasil pembacaan arsitektur, melainkan paksaan pencocokan konsep yang tidak pas.
Pembedahan kata per kata pada panel dasar mengungkap perbandingan tajam antara Tafsir Kolonial dengan Counter Nusantara berbasis naskah asli seperti Sang Hyang Kamahayanikan dan Tutur Jawa Kuno.
Inskripsi “Şvargga” (No. 126, 130, 149), yang oleh tafsir kolonial dianggap sebagai surga indrawi India, secara otentik adalah identitas Ortografi Kawi Awal (reduplikasi ‘g’) yang merujuk pada kondisi Kasukhen atau keharmonisan hidup di Bumi Nusantara sebuah keberhasilan menjaga Dharma lokal demi hidup mulia di tanah sendiri.
Istilah “Virūpa” dan “Suvarṇavarṇa” (No. 21, 124) bukan sekadar hukum karma biologis India, melainkan konsep “Rupa Jati” transformasi kesadaran manusia dari kebodohan menuju pencerahan diri atau cahaya batin Prabhāswara dalam konsep Manunggaling Kawula Gusti.
Demikian pula “Cākrāvārtį” (No. 129, 132) yang merujuk pada konsep Ratu Adil yang menyatu dengan alam (Kosmoteisme Jawa), bukan raja penakluk ala imperium India.
Kemandirian teologis ini dipertegas melalui istilah “Vyasāda” dan “Abhidhyā” (No. 121) yang merujuk pada prinsip Nirāshā, sebuah kritik terhadap keserakahan yang merusak tatanan sima (tanah perdikan) Nusantara.
Manifestasi ritual seperti “Ghāṇṭā” (Genta) melambangkan Sabda Semesta untuk kembali ke titik nol (Sunya), dan “Āñjalï” adalah sikap hormat kepada Sang Hyang Taya yang hadir dalam diri setiap manusia sebuah praktik spiritualitas kebatinan yang melampaui ritualisme fisik luar.
Bahkan kemuliaan “Maheśākhya” (No. 43, 128) dipahami sebagai kualitas Ksatria Pinilih yang dicapai melalui Tapa Brata, bukan karena kasta India.
Struktur Borobudur yang membentuk angka 7 selaras dengan konsep Sulapa Eppa Bugis, Tritangtu Sunda dalam Sanghyang Siksakanda Ng Karesian, serta Sapta Loka dalam Tantu Panggelaran.
Transformasi dari persegi ke lingkaran melalui tujuh tahap ini mencerminkan evolusi Punden Berundak yang diperdalam secara spiritual melalui konsep Advaya.
Inkonsistensi visual antara narasi India dengan fakta fisik relief mencapai angka kegagalan 40-50%, menegaskan kedaulatan realitas Nusantara melalui penggambaran rumah panggung kayu (kontra Vastu Sastra India) dan perahu bercadik (Borobudur Ship) teknologi maritim asli pelaut Nusantara yang asing bagi literatur daratan India.
Flora dan fauna endemik seperti badak Jawa, pohon kelapa, dan pisang mengonfirmasi bahwa visualisasi relief berpijak pada alam sendiri.
Pertanyaan paling kritis muncul pada tingkat atas, yang dinamakan Ārūpyadhātu.
Dalam teks India, alam ini tidak memiliki materi, namun di Borobudur ia diwujudkan dalam materi paling konkret: Stupa masif berisi arca.
Ini bukan kesalahan arsitek, melainkan simbol transendensi Nusantara menuju Maha-Sūnya.
Kesimpulannya, penggunaan kategori Kāmadhātu, Rūpadhātu, dan Ārūpyadhātu adalah alat tafsir kolonial yang dipaksakan.
Ketika realitas fisik bangunan tidak sesuai dengan teks luar, maka yang harus dikoreksi adalah tafsirnya, bukan bangunannya.
Borobudur berdiri tegak sebagai Kitab Semesta Nusantara, hasil konstruksi intelektual mandiri yang mengolah kesadaran menjadi sistem teologi yang divisualisasikan pada monumen megah sepenuhnya kontekstual berdaulat di atas jati diri bangsanya sendiri.
INDONËSIARYĀ
True Back History of Indonesia
Exploration & Research
By : Santosaba
Info eBook : 085156424774
https://lynk.id/santosaba
http://bit.ly/eBookGoogleSantosaba
https://karyakarsa.com/santosaba





