Home / Hikayat, Seni dan Budaya / Geger Pecinan

Geger Pecinan

Sebuah Pembacaan Ulang Sejarah yang Tidak Nyaman

Oleh M. Basyir Zubair

Pengantar

Ada yang tidak pernah kita tanyakan dalam pelajaran sejarah: mengapa seorang raja, yang katanya sakral dan manunggal dengan Tuhan, harus merangkak melalui lubang sempit di dinding keratonnya sendiri untuk menyelamatkan nyawa?

Pakubuwana II penguasa Mataram Islam, pewaris singgasana yang katanya dititipkan Panembahan Senopati, pada 30 Juni 1742 tidak melarikan diri dengan gagah di atas kuda. Ia, dalam rekonstruksi sejarawan berdasarkan catatan VOC dan babad, merangkak melalui lubang sempit di tembok belakang Keraton Kartasura. Kuda tidak bisa lewat. Raja merangkak. Itu fakta sejarah, bukan fiksasi.

Kita terbiasa membaca Geger Pecinan sebagai kisah heroik persatuan Jawa-Tionghoa melawan penjajah. Dan memang demikian adanya di satu sisi.
Tetapi ada sisi lain yang jarang disorot: bahwa perang besar ini juga dipengaruhi oleh perubahan aliansi politik seorang raja yang sebelumnya terlibat dalam persekutuan tersebut.

Pertama, ia meninggalkan aliansi Tionghoa-Jawa yang sebelumnya ia dukung. Kedua, demi mendapatkan kembali singgasananya, ia menyerahkan wilayah-wilayah pesisir Jawa kepada VOC sebagai bagian dari kesepakatan politik

Artikel ini bukan tuduhan moral kepada Pakubuwana II. Sejarah tidak sesederhana itu. Ini adalah undangan untuk membaca peristiwa 1740–1743 dari sudut yang tidak nyaman, sudut yang selama ini kita hindari.

Geger Pecinan
(Puisi Karya Embas 18092022)

Awal mula geger Pecinan di Kartasura
Di latar belakangi kegaduhan di Batavia
VOC membantai orang-orang Tionghoa
Rumah-rumah mereka dibakarnya
Yang tidak melarikan diri pasti binasa

Yang selamat pergi mengungsi ke Jawa
Menyatu dengan masyarakat di sana
Di hadapan Pakubuwana II sang raja
Berikrar mengusir VOC dari Jawa
Membentuk pasukan Jawa Tionghoa

Pasukan ini meresahkan Belanda
Kocar-kacir tentara Belanda dibuatnya
Pada perang lain pasukan tak berdaya
1742 kekalahan besar dialaminya
Pasukan tercerai berai ke mana-mana

Kekalahan atas pasukan gabungan ini
Membuat Pakubuwana II berbalik hati
Ia memilih berada di pihak kompeni
Tentu saja ditentang para bupati
Panglima kraton juga para petinggi

Konflik di Mataram semakin menjadi
Pasukan Tionghoa dan Jawa berkoalisi
Kapiten Sepanjang dan Mas Garendi
Sepakat memimpin penyerbuan ini
Alun-alun Kartasura berhasil dikuasai

Pakubuwana II lalu melarikan diri
Agar tak diketahui jika ia mengungsi
Lewat lubang kecil di belakang ia pergi
Prajurit dan pendukungnya menemani
Ia bersiap menyusun kekuatan kembali

Ke Magetan lalu ke Ponorogo juga
Mengumpulkan para pendukungnya
Sementara di kraton Kartasura
Mas Garendi dinobatkan menjadi raja
Sunan Amangkurat V gelarnya

Sunan Kuning itulah julukan sang raja
Namun ternyata perang belum reda
Pakubuwana II serta VOC dan Madura
Sedang menyusun kekuatan bersama
Mereka bersiap menyerbu Kartasura

Serangan tiga arah dilakukan bersama
Dari Ngawi oleh Pakubuwana
Sedang VOC dari Ungaran dan Salatiga
Cakraningrat memimpin orang Madura
Dari arah Bengawan Solo ke Kartasura

Karena serbuan yang bertubi-tubi
Sunan Kuning dan pasukan mengungsi
Ke selatan rombongan bersembunyi
Pakubuwana II menjadi raja kembali
Kepada VOC tinggal menepati janji

Karena banyak berutang budi
Kedudukan Pakubuwana II tidak berarti
Pengangkatan seluruh patih dan bupati
Bukan raja yang harus menyetujui
Tapi surat keputusan VOC yang dinanti

Meski Sunan Kuning tak berkuasa lagi
Perlawanan pasukan Jawa-Tionghoa ini
Di mana-mana semakin menjadi-jadi
Di Jepara, Rembang banyak yang mati
Demak, Semarang perang juga terjadi

Jawa Timur perang di mana-mana
Kung fu silat andalan laskar Tionghoa
Sedang laskar Jawa pedang dan kuda
Masa ini adalah masa sulit VOC di Jawa
Meski nanti pasukan ini dikalahkannya

Tapi perjuangan keras gabungan ini
Telah memberikan suatu inspirasi
Agar melawan penjajah tidak berhenti
Dengan bersatu dan kekuatan sejati
Terbangunlah suatu negeri

Yogya 2023

I. BATAVIA, 9–10 OKTOBER 1740: Lebih dari 10.000 Nyawa

Fakta ini perlu dibaca dengan angka yang tepat. Bukan ratusan. Bukan ribuan samar-samar. Pada tanggal 9–10 Oktober 1740, dalam dua hari, VOC di bawah Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier membantai antara 7.000 hingga 10.000 orang Tionghoa di Batavia. Pembantaian berlangsung di dalam dan sekitar tembok kota, termasuk di lapangan yang kini dikenal sebagai kawasan Museum Fatahillah, Jakarta.

Ini bukan tindakan spontan. Ini adalah tindakan terencana. Sejak 1706, VOC memberlakukan kuota ketat imigrasi Tionghoa dan pajak per kepala sebesar 15 ringgit, beban yang luar biasa berat. Ketika ekonomi Batavia merosot, orang-orang Tionghoa yang kehilangan pekerjaan menghadapi ancaman: mereka akan dideportasi, dengan kabar yang beredar di kalangan mereka, bahwa ‘deportasi’ berarti dibuang ke laut.

FAKTA SEJARAH

7.000–10.000 orang Tionghoa terbunuh dalam dua hari (9–10 Oktober 1740). Gubernur Jenderal VOC Adriaan Valckenier mengeluarkan perintah pembantaian. Rumah-rumah dibakar, harta dirampas. Orang Tionghoa dieksekusi tanpa pandang bulu. (Sumber: Daradjadi, Geger Pacinan 1740–1743, Kompas, 2013)

Pada 7 Oktober 1740, masyarakat Tionghoa melakukan perlawanan lebih dulu, menyerang pos-pos VOC dan menewaskan 16 serdadu Belanda. VOC membalasnya dengan intensitas yang tidak proporsional: pembantaian massal. Bukan pembalasan. Pembantaian.

Berita itu menyebar ke seluruh Jawa dengan kecepatan yang mengejutkan untuk zamannya. Dan mereka yang selamat tidak duduk diam berduka. Mereka bergerak ke timur, menuju Jawa, dan mereka membawa dendam yang sah.

II. SUMPAH DI HADAPAN RAJA: Ketika Pakubuwana II Berjanji

Di sinilah babak pertama perubahan sikap politik dimulai, tapi belum dari sisi yang kita duga. Para pengungsi Tionghoa dari Batavia datang ke wilayah Mataram dan menghadap Pakubuwana II. Dalam sejarah yang didokumentasikan, mereka berikrar bersama: mengusir VOC dari tanah Jawa. Pakubuwana II menyetujui. Pasukan gabungan Jawa-Tionghoa pun terbentuk.

Kapiten Sepanjang nama Tionghoa-nya Siaw Pan Chiang atau Khe Panjang, memimpin laskar Tionghoa. Patih Notokusumo memimpin pasukan Mataram. Dari Batavia menyebar ke Karawang, Cirebon, lalu menjalar ke seluruh pantai utara. Ini bukan kerusuhan kecil. Sejarawan Prof. Wasino dari Universitas Negeri Semarang menyebut konflik ini sebagai perang terbesar yang pernah dihadapi VOC selama berkuasa di Nusantara.

“Perang gabungan Jawa-Tionghoa ini adalah perang terbesar sepanjang sejarah penjajahan VOC di Nusantara.” Prof. Wasino, Universitas Negeri Semarang

Pada 5 Agustus 1741, serangan terbuka pertama dilancarkan terhadap benteng VOC di Kartasura. Kapiten Sepanjang memerintahkan pembuatan tangga beroda yang didorong menuju benteng. Pasukan gabungan memanjat. Dalam pertempuran satu lawan satu, benteng jatuh pada 10 Agustus 1741. Sebuah pencapaian militer yang luar biasa.
Tapi kemenangan awal itu tak bisa diterjemahkan menjadi kemenangan total. Semarang tak berhasil direbut. VOC memperkuat pertahanannya. Pakubuwana II melihat arah angin berubah, dan ia memilih mengubah haluan.

III. BERBALIK BADAN: Titik Balik Politik Seorang Raja

Inilah bagian yang paling jarang dibahas secara terbuka. Pada 1742, Pakubuwana II, raja yang sudah berikrar bersama pasukan Jawa-Tionghoa memutuskan mengubah arah politiknya dengan berpihak kepada VOC. Alasannya: ia takut. Kegagalan menaklukkan Semarang membuatnya berhitung ulang. Kekuatan pasukan gabungan tidak cukup. VOC terlalu kuat.

Keputusan itu ditentang oleh para bupati, panglima, dan petinggi kraton sendiri. Mereka menolak. Dan inilah asal mula dinamika baru: kini lawan utama pasukan Jawa-Tionghoa bukan hanya VOC, tapi juga raja mereka sendiri, Pakubuwana II.

TITIK BALIK

Pakubuwana II pertama kali bersekutu dengan pasukan Jawa-Tionghoa melawan VOC. Setelah kegagalan Semarang (1742), ia membalik haluan: bersekutu dengan VOC melawan aliansi Jawa-Tionghoa. Para bupati, panglima, dan petinggi kraton menolak keputusan ini.

Perpecahan ini yang membuat perang semakin kompleks. Pasukan Tionghoa dan sebagian bangsawan Mataram yang menolak berkhianat bersatu di bawah dua nama: Kapiten Sepanjang dan Raden Mas Garendi, seorang anak 16 tahun, cucu Amangkurat III yang dibuang VOC.

Mengapa seorang bocah 16 tahun? Karena ia punya legitimasi darah yang tidak bisa dibantah. Dan karena VOC sendiri yang telah membuang kakeknya, maka Raden Mas Garendi adalah simbol dendam yang sah, dendam Jawa kepada kolonial, sekaligus dendam kepada Pakubuwana II yang dianggap telah menjual kawan.

IV. SUNAN KUNING: Raja Jawa dan Tionghoa

Pada 6 April 1742 di Kabupaten Pati, Raden Mas Garendi dinobatkan sebagai raja dengan gelar panjang: Sunan Amangkurat V Senopati Ing Alaga Abdurahman Sayidin Panatagama. Ia baru berumur 16 tahun, sumber lain menyebut 12 tahun. Tapi ia bukan simbol kosong.

Nama ‘Sunan Kuning’ memiliki dua asal-usul yang saling memperkuat. Sejarawan Tionghoa Semarang, Liem Thian Joe, mencatat bahwa sebutan itu berasal dari ungkapan Tionghoa cun ling, bangsawan tertinggi. Di sisi lain, kata ‘kuning’ juga merujuk kepada pasukan berkulit kuning yang mengikutinya. Orang Tionghoa sendiri menganggapnya sebagai ‘Raja orang Jawa dan Tionghoa.’

Untuk pertama kali dalam sejarah Jawa, seorang raja diakui sekaligus oleh komunitas Jawa dan Tionghoa. Ini bukan kebetulan politik. Ini adalah pernyataan: bahwa perlawanan terhadap kolonialisme tidak mengenal batas etnisitas.

Pada 30 Juni 1742, pasukan Sunan Kuning merangsek masuk ke Kartasura. Rekonstruksi dari buku Daradjadi menggambarkannya secara dramatis: Pakubuwana II kebingungan di istana, berdiri memegang tombak. Ibu Suri pingsan berkali-kali saat dinaikkan ke pelana. Suara meriam mulai terdengar. Orang-orang panik berebut keluar lewat pintu belakang yang sempit.

Dan raja yang selama ini dipandang memiliki legitimasi sakral, dalam situasi darurat harus menyelamatkan diri melalui lubang sempit di tembok belakang keraton. Lubang yang bahkan tidak bisa dilalui seekor kuda. Kapten VOC Van Hohendorff yang mengevakuasinya membawanya ke timur, menyeberangi Bengawan Solo menuju Magetan, lalu Ponorogo.
Peristiwa pelarian melalui lubang sempit itu menjadi metafora kuat tentang rapuhnya kedaulatan Mataram pada tahun 1742.

Di Kartasura, Sunan Kuning naik singgasana pada 1 Juli 1742. Ia mengangkat Tumenggung Mangunoneng sebagai patih. Roda pemerintahan berputar. Untuk beberapa bulan, ada dua raja Mataram: satu di Kartasura, satu di pengungsian Ponorogo.

V. HARGA SEBUAH SINGGASANA: Janji kepada VOC

Pakubuwana II yang di Ponorogo tidak diam. Ia menyusun kembali pasukannya. Tapi yang lebih penting dan lebih menentukan masa depan Jawa, adalah tawaran yang ia kirimkan kepada VOC.
M.C. Ricklefs, sejarawan terkemuka Jawa modern, mencatat kalimat yang menentukan itu: Pakubuwana II menjanjikan kepada VOC bahwa jika ia berhasil kembali ke singgasana, ia akan menyerahkan seluruh wilayah pesisir utara Jawa kepada Belanda sebagai imbalan bantuan militer, dan memperkenankan VOC memilih sendiri siapa patih yang akan menjabat di Mataram.

DEBAT ILMIAH

Ricklefs (A History of Modern Indonesia, 2001) mendokumentasikan bahwa Pakubuwana II menawarkan wilayah pesisir utara Jawa kepada VOC sebagai imbalan bantuan militer merebut kembali Kartasura.

Tawaran ini diterima. Ini menjadi salah satu bentuk penyerahan wilayah terbesar dalam sejarah Jawa yang terjadi dalam konteks upaya seorang raja mempertahankan kekuasaannya di tengah tekanan militer dan politik.
VOC menerima. Dan serangan tiga arah pun dilancarkan: dari Ngawi oleh pasukan Pakubuwana II, dari Ungaran dan Salatiga oleh VOC, dan dari arah Bengawan Solo oleh pasukan Madura di bawah Adipati Cakraningrat IV yang berpihak kepada Kompeni.

Sunan Kuning tak sanggup menghadapi serangan dari tiga penjuru sekaligus. Pada 26 November 1742, Kartasura jatuh kembali ke tangan Pakubuwana II. Sunan Kuning mengungsi ke selatan, lalu terus bergerak ke timur. Perlawanan berlanjut, di Jepara, Rembang, Demak, Semarang, hingga Jawa Timur, tapi pusat komando telah hancur.

Pada 2 Desember 1743, Raden Mas Garendi menyerah. Nasibnya: dibuang ke Sri Lanka sama seperti kakeknya dulu. Kapiten Sepanjang memilih jalan lain: ia mengabdikan diri kepada salah satu kerajaan di Bali, menolak menyerah kepada kekuatan yang membantai bangsanya.

VI. SETELAH ANGIN REDA: Apa yang Tersisa?

Pakubuwana II kembali ke Kartasura. Tapi keraton itu sudah rusak parah, dijebol meriam, temboknya berlubang, simbol-simbolnya tercoreng. Dalam logika Jawa, tempat itu sudah ‘tercemar.’ Maka pada 1744, ia memindahkan pusat kerajaan ke Desa Sala, lahirlah Keraton Surakarta Hadiningrat.

Tapi harga perpindahan itu tidak cuma fisik. Pakubuwana II, yang menurut catatan Ricklefs sudah ‘banyak berutang budi’ kepada VOC, tidak lagi punya kedaulatan nyata. Pengangkatan patih dan bupati tidak lagi menjadi hak raja, semua harus mendapat persetujuan VOC.

Mataram Islam, kerajaan yang pernah menguasai hampir seluruh Jawa di masa Panembahan Senopati dan Sultan Agung, kini berada dalam posisi yang sangat bergantung pada VOC secara politik, rajanya dipilih dengan persetujuan Kompeni, pejabatnya dikontrol Kompeni, dan wilayah pesisirnya sudah diserahkan kepada Kompeni.

Ironisnya atau mungkin bukan ironi, melainkan logika sejarah yang keras, justru kekalahan Geger Pecinan yang memungkinkan lahirnya dua kerajaan baru: Kasunanan Surakarta (1744) dan kemudian Kasultanan Yogyakarta (1755, lewat Perjanjian Giyanti). Jawa dibagi dua bukan karena perlawanan berhasil, tapi karena VOC merasa lebih mudah mengelola dua raja yang saling bergantung daripada satu kerajaan yang sewaktu-waktu bisa bergolak.

VII. WARISAN YANG TIDAK PERNAH MATI

Kisah Geger Pecinan biasanya diakhiri dengan kekalahan: Sunan Kuning tertangkap, Kapiten Sepanjang menghilang ke Bali, perlawanan padam. Tapi itu hanya benar secara militer.
Secara budaya, warisan persekutuan Jawa-Tionghoa jauh lebih panjang.

Raden Mas Said, yang juga dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa, salah satu komandan dalam pasukan gabungan ini, tidak berhenti berjuang. Ia terus bergerak selama dua dekade berikutnya, hingga akhirnya diakui dalam Perjanjian Salatiga (1757) sebagai Mangkunegara I.

Tari Bedhaya, salah satu tari istana paling sakral dalam budaya Jawa, menyimpan jejak perlawanan Mangkunegara I dalam Geger Pecinan, sebuah cara ingatan kolektif dirawat dalam tubuh penari, bukan dalam teks resmi yang bisa dibakar atau disensor.

Dan mungkin yang paling penting: untuk pertama kali dalam sejarah Nusantara, orang Jawa dan Tionghoa berjuang bersama dalam skala masif melawan kekuatan kolonial yang sama. Mereka kalah secara militer. Tapi mereka membangun sesuatu yang lebih tahan lama dari kemenangan perang: bukti bahwa identitas etnis bisa dikalahkan oleh solidaritas dalam perlawanan.
Mereka kalah dalam perang. Mereka menang dalam sejarah.

VIII. MEMBACA ULANG PUISI: Apa yang Tidak Tertulis

Puisi Geger Pecinan di halaman pertama artikel ini ditulis dengan jujur dan indah. Ia merangkum peristiwa dengan narasi yang mengalir. Tapi ada satu hal yang tidak tertulis di dalam puisi itu, satu pertanyaan yang harus kita tambahkan sendiri sebagai pembaca:

Apa artinya sebuah kekalahan yang menanamkan benih perlawanan puluhan tahun ke depan? Apa artinya seorang raja yang menyelamatkan tahta dengan cara merangkak di lumpur sejarahnya sendiri? Apa artinya persatuan antara dua komunitas yang dipisahkan oleh lautan dan budaya, namun dipersatukan oleh satu musuh bersama?

Sejarah tidak pernah hitam putih. Pakubuwana II bukan penjahat tunggal. Sunan Kuning bukan pahlawan sempurna. Kapiten Sepanjang bukan ksatria tanpa cela. Mereka semua adalah manusia dalam situasi yang tidak pernah mereka pilih, korban dari permainan geopolitik yang jauh lebih besar dari kemampuan siapapun untuk mengendalikannya sendiri.

Yang bisa kita lakukan adalah membaca mereka secara utuh. Tanpa membuang yang tidak nyaman. Tanpa memoles yang tidak heroik. Karena hanya dengan begitu sejarah bisa menjadi pelajaran, bukan sekadar hiburan. Dan tulisan ini hanya dimaksudkan untuk membaca ulang dinamika politik pada masa krisis dengan sudut pandang yang lebih terbuka.

Sumber Acuan

Daradjadi. 2013. Geger Pacinan 1740–1743: Persekutuan Tionghoa–Jawa Melawan VOC. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Ricklefs, M.C. 2001. A History of Modern Indonesia since c. 1200. Stanford: Stanford University Press.
Liem Thian Joe. Riwayat Semarang. (Catatan Tionghoa Semarang, dikutip dalam berbagai kajian Geger Pacinan).
Babad Giyanti. Naskah babad istana, menjadi salah satu sumber utama peristiwa Geger Pacinan.
Wasino. Sejarawan Universitas Negeri Semarang, pandangannya dikutip dalam berbagai laporan media tentang Geger Pecinan.
Kajawen No. 48, terbitan Bale Pustaka, 16 Juni 1939, mencatat latar belakang konflik internal Mataram.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *