Gunungkidul,REDAKSI17.COM– Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menggelar kegiatan pembinaan bagi anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) sekaligus pemberian penghargaan pengabdian 20 tahun kepada anggota Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas) dan penyerahan hadiah Lomba Gema Pos Satkamling. Acara yang berlangsung di Pendopo Bangsal Sewokoprojo, Kapanewon Wonosari, pada Rabu, (22/7/2026) ini dihadiri langsung oleh Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih.

Dalam laporannya, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Gunungkidul, Arisandi Purba, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas mental, fisik, disiplin, serta keterampilan teknis anggota di lapangan, “Sebanyak 50 personel mengikuti pembinaan ini untuk meminimalisir pelanggaran kode etik serta menciptakan aparatur yang profesional, humanis, dan cerdas dalam menegakkan Peraturan Daerah (Perda).” kata Kasatpol.
Momen istimewa terjadi saat Bupati menyerahkan piagam penghargaan kepada lima anggota Satlinmas yang telah mengabdi selama 20 tahun tanpa henti. Para penerima penghargaan tersebut adalah:
- Bapak Mugi Raharjo (Kalurahan Plembutan)
- Bapak Sukasno (Kalurahan Ngawis)
- Bapak Tukiran (Kalurahan Ngawu)
- Bapak Wasito (Kalurahan Logandeng)
- Bapak Agus Budianto (Kalurahan Putat)
Bupati Endah menyebut para anggota Satlinmas ini sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa” yang menjadi garda terdepan dalam menjaga ketenteraman masyarakat di tingkat kelurahan. Selain itu, diumumkan pula pemenang Lomba Gema Pos Satkamling tingkat kabupaten, di mana Kalurahan Plembutan (Kapanewon Playen) berhasil meraih Juara I, disusul oleh Kalurahan Ngawis (Juara II), Kalurahan Semanu (Juara III), dan Kelurahan Sumberwungu (Juara IV).
Di tengah rangkaian acara, diumumkan pula bahwa Satpol PP Kabupaten Gunungkidul berhasil meraih penghargaan Bejo Award 2026 dari Ditjen Bea Cukai Republik Indonesia. Penghargaan ini diberikan atas prestasi sebagai pemerintah daerah dengan sinergi pengawasan barang kena cukai ilegal terbaik. Bupati mengungkapkan bahwa melalui operasi senyap, Satpol PP berhasil mengamankan sekitar 26.000 batang rokok ilegal, yang membuktikan integritas dan kejujuran anggota di lapangan.
Dalam pidatonya, Bupati Endah menekankan pentingnya memegang teguh budaya SATRYIA (Selaras, Akal budi luhur, Teladan, Rela melayani, Inovatif, Yakin, dan Ahli profesional) serta filosofi Hamemayu Hayuning Bawono. Ia mengingatkan agar Satpol PP tidak bekerja setengah-setengah, mengutip pesan Bung Karno bahwa kemerdekaan dan keberhasilan adalah hasil usaha persatuan yang dilakukan tiada henti.
Bupati juga menyoroti sejarah pembentukan Satpol PP pada 3 Maret 1950 oleh Presiden Soekarno sebagai lembaga penjaga perdamaian umum dengan moto Praja Wibawa. Ia menegaskan bahwa kewenangan Satpol PP dalam menegakkan Perda dilindungi undang-undang, termasuk melakukan tindakan penertiban non-yustisial dan penyelidikan administratif.
“Jangan sampai terbalik, kita yang seharusnya menertibkan, malah ditindak karena pelanggaran hukum seperti narkoba atau menjadi debt collector. Saya minta Kasatpol PP segera mengidentifikasi dan membina anggota yang melakukan ‘gerakan tambahan’ yang tidak sesuai aturan,” tegas Bupati.
Sebagai bagian dari peningkatan kapasitas, Bupati mendorong adanya pelatihan fisik dan bela diri rutin agar personel memiliki kesiapsiagaan yang baik. Bupati juga menyinggung kebijakan baru terkait penertiban alat peraga kampanye (baliho/iklan) yang kini diarahkan untuk dipasang pada panel khusus guna menjaga estetika kota dan kepatuhan terhadap Perda.
Acara ditutup dengan harapan agar seluruh jajaran Satpol PP dan Satlinmas terus meningkatkan kompetensi, termasuk sertifikasi Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS), guna memperkuat legal formal dalam setiap tindakan penegakan hukum di Kabupaten Gunungkidul.
Pengabdian Tanpa Batas, Satlinmas Sang Penjaga Keamanan Tanpa Pamrih
Mugi Raharjo, pria berusia 47 tahun yang telah setia mengabdi sebagai anggota perlindungan masyarakat (Linmas) sejak tahun 2002, Ia menjadi bagian salah satu penerima apresiasi Pengabdian dari Bupati Gunungkidul melalui Satpol PP
Perjalanan pengabdian Mugi dimulai dua dekade lalu. Setamat sekolah dan setelah membina rumah tangga, ia memutuskan untuk menetap di kampung halamannya, Putat. Panggilan jiwa untuk berjuang muncul ketika ada pergantian anggota Linmas yang sudah memasuki usia senja. Tanpa ragu, Asma mengambil tanggung jawab tersebut dengan motivasi murni: berjuang demi keamanan lingkungan di tingkat bawah serta demi bangsa dan negara.
“Intinya mau berjuang buat masyarakat tingkat bawah, kaitannya dengan keamanan lingkungan,” ungkap Muji mengenai motivasi utamanya yang tetap konsisten selama 20 tahun terakhir.
Namun, dedikasi Muji tidak berhenti pada seragam Linmas saja. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat produktif dan tak kenal lelah dalam bekerja. Di luar tugas keamanannya, Muji menyibukkan diri dengan mengelola pertanian.
Kegigihannya kian terlihat saat malam tiba. Di saat kebanyakan orang beristirahat, Muji memiliki rutinitas penting, yaitu mengantar para pedagang menuju Pasar Wonosari setiap malam. Hal ini menunjukkan betapa ia menjadi tumpuan bagi roda ekonomi kecil di lingkungannya.
Kisah Mugi Raharjo adalah potret nyata seorang abdi masyarakat yang multifungsi. Dari menjaga keamanan desa hingga membantu pedagang pasar, Ia membuktikan bahwa pengabdian tulus bisa dilakukan melalui berbagai peran, asalkan dilandasi semangat juang untuk masyarakat luas.



