Bupati Tanjung Jabung Timur Belajar Penanganan Stunting di Kota Yogya

Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menerima kunjungan kerja Bupati Tanjung Jabung Timur, Jambi, Dillah Hikmah Sari, di Ruang Yudistira Balai Kota Yogyakarta, Selasa (23/6). Kunjungan tersebut menjadi ajang berbagi pengalaman dan strategi pembangunan daerah, terutama terkait upaya percepatan penurunan stunting, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta optimalisasi pendapatan daerah di tengah keterbatasan anggaran.

Dillah Hikmah Sari menyampaikan ketertarikannya mempelajari berbagai inovasi yang telah diterapkan Pemerintah Kota Yogyakarta. Menurutnya, Kabupaten Tanjung Jabung Timur saat ini masih menghadapi sejumlah tantangan pembangunan, mulai dari tingginya angka stunting, rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM), hingga tingkat kemiskinan yang masih menjadi salah satu yang tertinggi di Provinsi Jambi.

“Kami datang untuk belajar. Tanjung Jabung Timur merupakan daerah pesisir yang berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan. Kami memiliki potensi sumber daya alam yang besar, termasuk sektor migas dan perkebunan, tetapi masih menghadapi tantangan stunting, IPM yang rendah, dan kemiskinan. Karena itu kami ingin belajar strategi yang diterapkan Kota Yogyakarta,” ujar Dillah.

Menanggapi hal tersebut, Hasto Wardoyo berbagi pengalaman Kota Yogyakarta dalam menurunkan prevalensi stunting secara signifikan. Ia menyebut angka stunting Kota Yogyakarta berhasil ditekan dari sekitar 14 persen menjadi 8 persen dan terus ditargetkan turun hingga mencapai 5 persen.

Menurut Hasto, salah satu kunci keberhasilan adalah pencegahan munculnya kasus stunting baru melalui pendataan yang presisi dan intervensi sejak masa sebelum kehamilan.

“Kalau bisa tidak ada stunting baru lagi. Karena kalau stunting baru terus muncul, maka penanganan tidak akan pernah selesai. Maka yang kami lakukan adalah screening calon pengantin, ibu hamil, hingga balita dan baduta yang berisiko,” jelas Hasto.

Ia menerangkan, perempuan yang akan menikah namun mengalami kekurangan energi kronis atau memiliki lingkar lengan atas di bawah standar dianjurkan untuk memperbaiki kondisi kesehatannya terlebih dahulu sebelum hamil. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah lahirnya anak yang berisiko mengalami stunting.

Selain itu, Hasto menekankan pentingnya penguasaan data oleh seluruh jajaran hingga tingkat kelurahan dan puskesmas. Menurutnya, data yang akurat memungkinkan pemerintah melakukan intervensi secara tepat sasaran sehingga penggunaan anggaran menjadi lebih efisien.

“Yang penting datanya presisi. Kalau datanya jelas, yang dibantu hanya kelompok yang benar-benar berisiko tinggi. Dengan anggaran yang terbatas, bantuan bisa lebih tepat sasaran dan hasilnya lebih optimal,” katanya.

Hasto menjelaskan, Pemkot Yogyakarta juga mengalokasikan anggaran khusus di tingkat kelurahan yaitu Dana Keistimewaan DIY untuk mendukung pemenuhan gizi kelompok rentan. Dana tersebut digunakan untuk menyediakan makanan tambahan berbasis protein hewani seperti telur, ikan, dan lele bagi ibu hamil berisiko tinggi maupun balita yang membutuhkan.

Selain aspek gizi, ia mengingatkan bahwa faktor lingkungan dan sanitasi juga memiliki pengaruh besar terhadap stunting. Lingkungan yang kurang sehat dapat menyebabkan anak mudah terserang diare dan penyakit lainnya yang menghambat pertumbuhan.

“Stunting bukan hanya soal makanan. Lingkungan juga berpengaruh besar. Air bersih, sanitasi, dan kebersihan lingkungan harus diperhatikan karena anak yang sering diare akan sulit tumbuh optimal,” ujarnya.