Orang-orang berjalan melewati monitor yang menunjukkan indeks Nikkei 225 Jepang di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Kamis, 13 Juni 2024. (AP Photo/Hiro Komae)
Jakarta,REDAKSI17.COM – Bursa saham Asia-Pasifik bergerak melemah pada perdagangan Senin (18/5/2026) setelah peringatan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kepada Iran memicu kembali kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah dan potensi gangguan pasokan minyak dunia.
Dalam unggahannya di Truth Social, Trump meminta Iran untuk segera bertindak dan memperingatkan bahwa tidak akan ada yang tersisa jika langkah cepat tidak dilakukan.
Pernyataan itu langsung memicu lonjakan harga minyak dunia lebih dari 1% karena investor khawatir konflik geopolitik dapat mengganggu distribusi minyak mentah global.
Berdasarkan perdagangan pagi ini, harga minyak Brent kontrak Juli naik 1,34% menjadi US$ 110,72 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk kontrak Juni menguat 1,75% ke level US$ 107,26 per barel.
Tekanan geopolitik tersebut turut membebani pergerakan bursa saham di kawasan Asia.
Indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,76%. Di Jepang, indeks Nikkei 225 melemah 0,2%, sedangkan Topix justru naik tipis 0,1%. Sementara indeks Kospi Korea Selatan dan Kosdaq tercatat anjlok lebih dari 2%.
Di Hong Kong, kontrak berjangka indeks Hang Seng juga bergerak lebih rendah dibanding penutupan sebelumnya.
Selain tekanan geopolitik, investor juga mencermati kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun yang melonjak lebih dari 8 basis poin menjadi 2,78% seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi global.
Ketegangan antara Washington dan Teheran masih tinggi meski sebelumnya sempat tercapai gencatan senjata yang rapuh pada awal April. AS disebut masih memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Iran tetap menutup Selat Hormuz sejak konflik dimulai.
Pasar juga menunggu sejumlah sentimen penting pekan ini, termasuk laporan keuangan Nvidia dan data kinerja sektor ritel AS.
Sebelumnya, Wall Street ditutup melemah pada akhir pekan lalu akibat aksi ambil untung di saham teknologi serta kenaikan yield obligasi pemerintah AS setelah pertemuan Trump dan Presiden China Xi Jinping berakhir tanpa terobosan kebijakan besar.





