Strategi Ganda di Balik Takhta yang Tergadai
Oleh: Mohammad Basyir Zubair (EMBAS)
Bayangkan seorang raja yang terpaksa mengirim pasukannya sendiri untuk berperang melawan sekutunya, bukan karena pengkhianatan, melainkan karena pengabdian yang paling dalam. Bayangkan seorang penguasa yang duduk di hadapan pejabat kolonial dengan wajah polos, sementara di balik dinding keraton yang sama ia menyembunyikan seorang pemberontak paling dicari Belanda. Itulah Pakubuwana VI, raja termuda yang pernah memerintah Surakarta, naik takhta pada usia 16 tahun, dan menjalani seluruh kekuasaannya dalam satu permainan sandiwara terbesar yang pernah digelar di Pulau Jawa.
“Ia mengirim pasukan untuk pura-pura membantu Belanda, sementara di ruang yang lain, ia menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan seluruh dinastinya.”
FAKTA
Nama asli: Raden Mas Sapardan
Lahir: 26 April 1807, Surakarta
Berkuasa: 15 September 1823 – 8 Juni 1830 (ditangkap Belanda)
Ibu: KRAy. Sasrakusuma, keturunan Ki Juru Martani patih pertama Kesultanan Mataram
Ayah: Sri Susuhunan Pakubuwana V
Diasingkan ke: Ambon, 8 Juli 1830
Wafat: 2 Juni 1849 di Ambon, dengan lubang di dahi seukuran peluru senapan baker
Pahlawan Nasional: SK Presiden RI No. 294 Tahun 1964, 17 November 1964
Julukan: Sinuhun Bangun Tapa
Dimakamkan: Astana Kapingsangan, Imogiri, Bantul (dipindahkan dari Ambon tahun 1957)
I. Anak Patih, Cucu Penasihat : Darah yang Membentuk Karakter
Untuk memahami mengapa Pakubuwana VI bertindak seperti yang ia lakukan, kita perlu mundur selangkah, bukan ke Surakarta, melainkan ke silsilah sang ibu.
KRAy. Sasrakusuma, ibunda Raden Mas Sapardan, adalah keturunan Ki Juru Martani. Nama ini mungkin asing bagi pembaca awam, tetapi dalam sejarah Mataram ia adalah tokoh sentral, Juru Martani adalah patih pertama dalam sejarah Kesultanan Mataram, penasihat paling dipercaya Panembahan Senopati yang mendirikan dinasti Mataram pada akhir abad ke-16. Dari garis ibu inilah Pakubuwana VI mewarisi bukan hanya darah bangsawan, tetapi juga warisan pemikiran politik yang mengedepankan siasat ketimbang kekuatan senjata.
Ketika ia naik takhta pada 15 September 1823, sepuluh hari setelah wafatnya Pakubuwana V, a baru berusia 16 tahun. Anak lelaki ke-11 dari sang ayah. Bukan ahli waris pertama, bukan yang paling tua, dan jelas bukan yang paling siap secara pengalaman. Tetapi takhta jatuh kepadanya, dan sejarah tidak memberi ampun kepada yang tidak siap.
Dua tahun kemudian, perang besar meletus di wilayah Yogyakarta.
II. Api di Tetangga : Perang Diponegoro Meluas ke Surakarta
Pada Juli 1825, Pangeran Diponegoro mengangkat senjata. Penyebab langsungnya adalah sengketa tanah di Tegalrejo, tetapi akar yang lebih dalam jauh lebih kompleks, campur tangan Belanda dalam urusan internal keraton Yogyakarta, monopoli ekonomi yang mencekik, dan perasaan terhina yang sudah lama menumpuk di kalangan bangsawan Jawa. Perang Jawa demikian para sejarawan Barat menyebutnya, adalah perang terbesar dan termahal yang pernah dihadapi Belanda di Asia Tenggara, memakan sekitar 200.000 jiwa orang Jawa dan 8.000 tentara Eropa, serta menguras kas kolonial hingga 20 juta gulden.
KONTEKS SEJARAH
Perang Diponegoro (1825–1830) adalah konflik terbesar di Hindia Belanda selama abad ke-19. Menurut sejarawan Peter Carey dalam The Power of Prophecy (2007), perang ini menewaskan sekitar 200.000 orang Jawa dari berbagai sebab, perang, penyakit, dan kelaparan, serta sekitar 8.000 serdadu Eropa dan ribuan serdadu pribumi yang berpihak pada Belanda. Biaya perang yang ditanggung pemerintah kolonial mencapai sekitar 20 juta gulden.
Pakubuwana VI berada dalam posisi yang tidak nyaman, ia adalah raja Surakarta yang terikat perjanjian dengan Belanda, tetapi ia juga seorang Jawa dengan kesadaran penuh bahwa perang ini bukan sekadar pemberontakan biasa. Ini adalah pertaruhan terakhir.
Yang kemudian ia lakukan adalah sesuatu yang, jika dilihat dari luar, tampak seperti kesetiaan kepada Belanda. Tetapi sebenarnya adalah seni perang tingkat tinggi yang dalam tradisi Jawa disebut dengan ungkapan: ngeli nanging ora keli, mengalir bersama arus, tetapi tidak hanyut.
“Ngeli nanging ora keli mengalir bersama arus, tetapi tidak hanyut. Itulah prinsip yang tampaknya dipegang Pakubuwana VI selama tujuh tahun berkuasa.”
III. Siasat Candradimuka dan Mimis Kencana : Sandiwara Perang di Tanah Jawa
Di sinilah cerita ini menjadi benar-benar luar biasa. Pakubuwana VI dan Pangeran Diponegoro merancang dua siasat rahasia yang hanya diketahui oleh lingkaran terpercaya di antara mereka. Siasat pertama disebut mimis kencana, secara harfiah berarti ‘peluru emas’. Dalam siasat ini, pasukan Surakarta dan pasukan Diponegoro berpura-pura saling berperang di hadapan mata-mata Belanda. Mereka beradu sorak, mengacungkan senjata, bahkan mungkin menembakkan senjata, tetapi tanpa maksud untuk saling menghancurkan. Tujuannya: meyakinkan Belanda bahwa Surakarta dan Diponegoro adalah musuh, sehingga Belanda tidak curiga bahwa di balik layar terjadi koordinasi yang sungguh-sungguh.
Siasat kedua lebih bernuansa strategis, candradimuka. Nama ini diambil dari tokoh wayang, kawah Candradimuka adalah tempat Gatotkaca ditempa menjadi ksatria yang tangguh. Dalam konteks perang ini, siasat candradimuka adalah forum rahasia tempat Pakubuwana VI dan Diponegoro membahas strategi perang, mengevaluasi kondisi pertempuran, dan mengoordinasikan langkah ke depan, semuanya di luar pengetahuan Belanda.
Bahkan Pangeran Diponegoro pernah menyusup ke dalam Keraton Surakarta untuk berunding langsung dengan Pakubuwana VI. Ketika residen Belanda tiba-tiba datang, keduanya dengan cepat berpura-pura bertikai, Diponegoro melarikan diri, dan Pakubuwana VI berdiri dengan ekspresi seorang raja yang sedang mengusir musuh.
CATATAN SUMBER
Sumber primer : Laporan strategi mimis kencana dan candradimuka dirujuk dalam jurnal ilmiah Candi (Vol. 12, No. 2, 2015), karya Sukrismiyati, Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret. Tentang penyusupan Diponegoro ke Keraton Surakarta juga dikutip dari artikel Tirto.id (2017) yang mengacu pada sumber-sumber arsip sejarah.
Tradisi lisan: Di kalangan keturunan keluarga keraton Surakarta, kisah siasat ganda ini diwariskan sebagai bukti kecerdikan sang raja, bukan sebagai pengkhianatan, melainkan sebagai kesetiaan yang tersamar.
Dan ada satu saksi yang paling mengejutkan dari seluruh sandiwara ini: Ranggawarsita. Pujangga besar terakhir tanah Jawa itu yang kelak menulis Serat Kalatidha dan meramalkan zaman edan, mengaku bahwa semasa mudanya ia pernah ikut serta dalam pasukan sandiwara yang dikirim Pakubuwana VI untuk pura-pura membantu Belanda. Sebuah pengakuan yang, jika benar, menempatkan Ranggawarsita tidak hanya sebagai pujangga keraton, tetapi juga sebagai aktor dalam drama terbesar abad ke-19 di Jawa.
IV. Mas Pajangswara : Ayah yang Mati Karena Tidak Mau Berkhianat
Belanda akhirnya menangkap Pangeran Diponegoro pada 28 Maret 1830 di Magelang, dalam sebuah perundingan yang berujung penangkapan. Sasaran berikutnya sudah jelas Pakubuwana VI.
Untuk menemukan bukti, Belanda menangkap Mas Pajangswara, juru tulis keraton, anggota keluarga besar Yasadipura, dan ayah kandung Ranggawarsita.
Apa yang terjadi selanjutnya adalah salah satu cerita paling mengharukan dan paling jarang dikisahkan dalam sejarah populer Indonesia. Mas Pajangswara, yang mengetahui rahasia hubungan antara Pakubuwana VI dan Diponegoro, menolak untuk berbicara. Ia disiksa. Ia tetap diam. Ia akhirnya wafat di tangan penyiksanya. Dan mayatnya seperti sesuatu yang dilakukan untuk melampiaskan amarah atau untuk menghapus jejak, dibuang ke laut oleh Belanda.
FAKTA
Kematian Mas Pajangswara ini kelak menjadi salah satu akar ketegangan yang rumit antara Pakubuwana IX, putra Pakubuwana VI yang masih dalam kandungan ketika ayahnya dibuang ke Ambon dengan Ranggawarsita, putra Mas Pajangswara. Dua orang anak yang mewarisi luka sejarah dari generasi sebelumnya.
Pada 8 Juni 1830, giliran Pakubuwana VI. Ia ditangkap di Mancingan oleh Residen Yogyakarta Van Nes dan Letnan Kolonel B. Sollewijn. Sebulan kemudian, 8 Juli 1830 ia diberangkatkan ke Ambon, jauh dari Jawa jauh dari tahtanya, jauh dari putranya yang belum lahir. Takhta Surakarta jatuh kepada pamannya, yang bergelar Pakubuwana VII.
V. Dua Puluh Tahun di Ambon : Antara Tapa dan Pengasingan
Pakubuwana VI menghabiskan 19 tahun terakhir hidupnya di Ambon, sebuah pulau di ujung timur Nusantara yang mungkin terasa seperti planet lain bagi seorang raja Jawa yang terbiasa dengan aroma bunga kanthil dan suara gamelan keraton.
Julukan Sinuhun Bangun Tapa tidak lahir dari ruang kosong. Ia adalah raja yang gemar bertapa. Dan pengasingan di Ambon barangkali ia jalani juga sebagai satu bentuk tapa panjang, penyerahan total kepada kehendak Yang Maha Kuasa, sambil menunggu akhir yang tidak ia pilih. Di Ambon ia meninggal pada 2 Juni 1849. Usianya 42 tahun.
VI. Tengkorak Berlubang : Misteri yang Belanda Tutupi Selama Satu Abad
Pada tahun 1957, ketika Indonesia telah merdeka selama 12 tahun, jasad Pakubuwana VI dipindahkan dari Ambon ke Astana Kapingsangan di Imogiri, kompleks pemakaman keluarga raja Mataram yang letaknya di perbukitan selatan Yogyakarta.
Ketika makamnya dibuka, ditemukan sesuatu yang mengubah seluruh cara kita membaca laporan resmi Belanda.
Tengkorak Pakubuwana VI berlubang di bagian dahi.
TEMUAN FORENSIK
Analisis : GPH. Jatikusumo salah satu putra Pakubuwana X dan seorang perwira militer, menganalisis lubang pada tengkorak tersebut. Ia menyimpulkan bahwa ukuran lubang itu sesuai dengan peluru senapan baker (Baker rifle), senjata yang lazim digunakan oleh perwira militer Belanda pada periode 1820–1850-an.
Letak lubang : Lubang berada di bagian dahi, sebuah posisi yang secara anatomis dan balistik tidak konsisten dengan kecelakaan jatuh di laut, dan juga tidak konsisten dengan bunuh diri. Ini adalah posisi yang khas untuk eksekusi dari depan atau tembakan jarak dekat.
Laporan resmi Belanda: Menyatakan Pakubuwana VI meninggal karena kecelakaan saat berpesiar di laut. Tidak ada penyelidikan formal yang dilakukan. Tidak ada saksi yang dihadirkan secara resmi.
POLEMIK AKADEMIK
Klaim pemerintah kolonial : Kematian akibat kecelakaan pesiar di laut. Tidak ada dokumentasi medis yang menyertai laporan ini.
Interpretasi keluarga kerajaan : Berdasarkan analisis GPH. Jatikusumo atas tengkorak tahun 1957, lubang di dahi seukuran peluru senapan baker menunjukkan kematian akibat tembakan. Posisi di dahi juga mengesampingkan kemungkinan bunuh diri secara anatomis.
Batas klaim saat ini : Tidak ada autopsi forensik modern yang dilakukan. Analisis GPH. Jatikusumo adalah evaluasi militer nonprofesional dalam konteks medis forensik. Meskipun demikian, temuan ini cukup kuat untuk mempersoalkan versi resmi Belanda.
Jika kita menerima analisis GPH. Jatikusumo dan tidak ada bukti yang secara ilmiah menyanggahnya, maka Belanda membunuh seorang raja yang mereka sendiri telah buang ke pengasingan. Seorang pria yang sudah tidak berdaya, yang sudah tidak bertakhta, yang anaknya pun belum pernah ia peluk.
Pertanyaannya mengapa? Ada satu kemungkinan yang paling logis, Pakubuwana VI meski dari Ambon, masih memiliki pengaruh. Nama dan legitimasinya masih bisa menjadi bendera bagi perlawanan. Selama ia hidup, ia adalah ancaman simbolis yang tidak bisa diabaikan.
“Seorang raja yang sudah dibuang ke Ambon pun masih cukup berbahaya untuk dibunuh. Itu sebenarnya adalah pengakuan tertinggi atas pengaruhnya.”
VII. Ranggawarsita dan Warisan Luka
Kisah Pakubuwana VI tidak bisa dipisahkan dari kisah Ranggawarsita, pujangga yang hidupnya bersinggungan dengan tragedi ini dari dua sisi sekaligus. Ayahnya, Mas Pajangswara, tewas karena melindungi rahasia Pakubuwana VI. Sementara Ranggawarsita sendiri sebagai anak muda konon ikut dalam pasukan sandiwara yang dikirim Pakubuwana VI untuk pura-pura membantu Belanda.
Kelak, ketegangan antara Ranggawarsita dengan Pakubuwana IX putra Pakubuwana VI menjadi salah satu episode paling menyedihkan dalam sejarah sastra keraton. Dua orang yang seharusnya saling menghargai sebagai pewaris tradisi yang sama, terjebak dalam bayang-bayang luka yang bukan mereka yang membuat.
Ranggawarsita kemudian menulis Serat Kalatidha sebuah teks yang selalu dikaitkan dengan ramalan zaman kegelapan. Banyak yang membaca teks itu sebagai nubuat tentang masa depan. Tetapi mungkin ia juga sedang menulis tentang masa lalunya sendiri: tentang ayah yang mati karena kesetiaan, tentang raja yang dibuang dan dibunuh, tentang zaman di mana kebenaran harus bersembunyi di balik sandiwara.
FASE PENENTU
Pengakuan Pakubuwana VI sebagai Pahlawan Nasional pada 1964 adalah langkah penting, tetapi narasi yang menyertainya selama ini masih terlalu sederhana, ‘raja yang mendukung Diponegoro dan dibuang Belanda.’ Yang hilang dari narasi itu adalah dimensi intelektual dan strategisnya, bahwa ia merancang siasat militer ganda di tengah kondisi paling berbahaya, bahwa ia melindungi jaringan perlawanan sambil berpura-pura patuh, dan bahwa ia kemungkinan besar dibunuh, bukan sekadar wafat di pengasingan.
VIII. Perspektif Dekolonial : Raja yang Tidak Boleh Terlalu Cerdas
Dalam historiografi kolonial, raja-raja Jawa yang berkolaborasi dengan Belanda cenderung digambarkan secara positif, kooperatif, pragmatis, bijaksana. Sementara yang melawan digambarkan sebagai pemberontak, fanatik, atau tidak realistis.
Pakubuwana VI tidak muat dalam skema sederhana itu. Ia berkolaborasi tetapi untuk menipu. Ia mengirim pasukan tetapi untuk berpura-pura. Ia duduk di meja perundingan tetapi dengan agenda tersembunyi.
Bagi pejabat kolonial, sosok seperti ini adalah yang paling berbahaya: raja yang tidak bisa dibaca. Dan ketika Belanda akhirnya menyadari permainan ini, setelah Diponegoro tertangkap dan penyelidikan dimulai, reaksi mereka brutal dan sistematis, tangkap juru tulis (Mas Pajangswara), siksa sampai mati, buang rajanya, dan ketika raja itu masih belum mati setelah 19 tahun, tembak di dahinya.
Inilah yang dimaksud dengan penghapusan sistematis, bukan hanya menghilangkan orangnya, tetapi juga menutupi jejaknya dengan laporan resmi yang rapi tentang ‘kecelakaan di laut’.
BATAS PENAFSIRAN
Yang dapat dikonfirmasi, lubang di dahi tengkorak ditemukan saat pemindahan jenazah tahun 1957. Analisis GPH. Jatikusumo menyatakan ukurannya sesuai peluru senapan baker. Laporan resmi Belanda menyebut kematian akibat kecelakaan pesiar, tanpa dokumentasi medis yang diverifikasi.
Yang masih spekulatif, motif spesifik pembunuhan (jika memang dibunuh), siapa yang memerintahkan, dan apakah ada keputusan resmi dari pihak pemerintah kolonial. Tidak ada autopsi forensik modern yang pernah dilakukan.
Yang tidak dapat dibuktikan dari sumber tersedia, detail percakapan langsung antara PB VI dan Diponegoro selain yang tercatat dalam rujukan akademik yang ada.
IX. Penutup: Raja yang Berpura-pura Kalah Tidak Pernah Benar-benar Kalah
Pakubuwana VI memerintah hanya tujuh tahun. Ia wafat dalam pengasingan, jauh dari tanah yang ia jaga dengan segenap akal dan nyalinya. Putranya lahir tanpa pernah mengenal ayah kandungnya. Juru tulis setianya mati tersiksa dan dibuang ke laut.
Tetapi ia tidak kalah dalam pengertian yang sesungguhnya.Ia mempertahankan jaringan perlawanan selama tujuh tahun di bawah pengawasan ketat Belanda. Ia melindungi rahasia yang, jika bocor, bisa menjatuhkan tidak hanya dirinya tetapi seluruh dinasti. Ia menjaga kehormatan tanpa harus mati sia-sia di medan perang yang sudah tidak seimbang. Dan ketika akhirnya ia wafat dengan cara yang tidak pernah secara resmi dijawab oleh sejarah, tubuhnya kembali ke tanah Jawa, ke Imogiri, ke sisi makam para leluhurnya.
Tengkorak yang berlubang di dahi itu adalah dokumen sejarah yang paling jujur yang kita miliki tentang Pakubuwana VI. Lebih jujur dari semua laporan resmi Belanda. Lebih jujur dari semua gelar kehormatan yang diberikan setelah ia tiada.
“Senapan baker itu tidak hanya melubangi tengkorak seorang raja. Ia melubangi narasi resmi kolonial yang selama satu abad lebih kita terima begitu saja.”
Catatan Sumber & Referensi
Artikel ini disusun berdasarkan sumber-sumber berikut yang dapat diverifikasi:
1. Sukrismiyati. 2015. ‘Strategi Politik Pakubuwana VI Melawan Kolonial Belanda Tahun 1823–1830.’ Candi, Vol. 12, No. 2. Program Studi Pendidikan Sejarah, Universitas Sebelas Maret. ISSN 2086-2717.
2. Iswara N Raditya. 2017. ‘Peran Ganda Raja Surakarta Berujung Petaka.’ Tirto.id.
3. Peter Carey. 2007. The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855. Leiden: KITLV Press.
4. Andjar Any. 1980. Raden Ngabehi Ronggowarsito, Apa yang Terjadi? Semarang: Aneka Ilmu.
5. M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
6. SK Presiden RI No. 294 Tahun 1964, 17 November 1964, Penetapan Pakubuwana VI sebagai Pahlawan Nasional.
7. Tradisi lisan dan ingatan keluarga keraton Surakarta, diwariskan melalui narasi keturunan tentang siasat mimis kencana dan candradimuka, sebagaimana direkam dalam berbagai kajian sejarah lisan.
— Yogyakarta 13052026




