
KULON PROGO,REDAKSI17.COM — Beragam karya kreatif mulai dari pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT) hingga transformasi pangan tradisional ‘Sus Kering Growol’ mewarnai tahap penilaian hari kedua Anugerah IPTEK Kreanova Menoreh (AIKM) Tahun 2026 di Aula Adikarta, Kompleks Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Selasa (22/9/2026). Sebanyak 23 inovator terpilih saling unjuk keunggulan gagasan guna mendukung daya saing perekenomian daerah.
Ajang tahunan ini mengusung tema “Inovasi Berdampak untuk Kulon Progo Makmur dan Berkelanjutan”. Penyelenggaraan AIKM 2026 bertujuan mendorong pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi demi menciptakan karya terapan yang bermanfaat langsung bagi kesejahteraan masyarakat secara inklusif.
Antusiasme peserta pada gelaran tahun ini mengalami peningkatan signifikan dibanding periode sebelumnya. Panitia mencatat ada 78 pendaftar dari kategori umum dan pelajar (SD hingga SMA), meningkat drastis dari tahun lalu yang hanya diikuti oleh 50 an peserta.

Dari puluhan pendaftar tersebut, sebanyak 23 peserta berhasil lolos seleksi administrasi dan substansi untuk mempresentasikan gagasannya secara langsung. Rinciannya terdiri atas kategori masyarakat sebanyak 6 tim, kategori perorangan 5 orang, serta kategori pelajar sebanyak 12 tim.
Tahap presentasi dan sesi tanya jawab bersama dewan juri berlangsung selama tiga hari berturut-turut pada 21–23 September 2026. Dalam sesi ini, setiap peserta mendapat alokasi waktu 20 hingga 25 menit untuk memaparkan keunggulan serta daya guna dari inovasi yang diciptakan.
Saat ditemui , Panitia Pelaksana, Irlan Widya Permono, S.Pi, menyampaikan bahwa rangkaian agenda telah dimulai sejak sosialisasi pada akhir Agustus lalu. Setelah tahap penilaian usai, pengumuman pemenang dijadwalkan pada 24–25 September 2026, yang disusul penyerahan penghargaan oleh Bupati Kulon Progo pada 15 Oktober 2026.

Kualitas serta keberagaman ide yang ditampilkan para peserta tahun ini mendapat apresiasi positif dari dewan juri. Juri AIKM 2026 dari Teknik Elektro Fakultas Teknik UGM, Dr. Iswandi, S.T., M.Eng., menilai ada lompatan mutu karya yang cukup signifikan, baik di bidang teknologi digital maupun pengolahan bahan pangan.
“Tahun ini mutu inovasinya meningkat. Jika dulu olahan kuliner masih banyak menggunakan bahan yang kurang layak, sekarang sudah jauh lebih baik. Selain itu, peserta dari kalangan pelajar juga banyak yang mulai memanfaatkan teknologi berbasis IoT dan software TI yang berpotensi besar untuk diterapkan di masyarakat,” jelas Iswandi saat usai penilaian.
Salah satu inovasi berbasis teknologi digital ditunjukkan oleh Marcelo, siswa SMA Negeri 1 Pengasih, melalui aplikasi bernama ‘Retinaku’. Inovasi ini dirancang sebagai sarana edukasi dan informasi mitigasi bencana alam yang dikhususkan bagi warga di wilayah Kulon Progo.
“Kami membuat aplikasi Retinaku sebagai solusi informasi dan mitigasi bencana alam khusus untuk masyarakat Kulon Progo. Harapannya, masyarakat bisa mendapatkan edukasi dan jauh lebih siap siaga menghadapi potensi bencana,” tutur Marcelo.
Sementara di sektor pangan, MAN 2 Kulon Progo unjuk gigi dengan mentransformasi kuliner tradisional lokal menjadi produk modern bernilai jual tinggi. Pembimbing riset MAN 2 Kulon Progo, Sri Nahriyanti, menjelaskan bahwa timnya mengolah warisan budaya takbenda khas Kulon Progo berupa growol menjadi ‘Sus Kering Growol’.
“Kami mengolah growol menjadi sus kering agar jajanan lokal ini bisa diterima oleh semua kalangan dengan daya simpan serta jangkauan distribusi yang lebih luas. Kami berharap produk inovasi ini mendapat wadah pengembangan yang jelas hingga menjadi cikal bakal ikon UMKM Kulon Progo,” ungkap Sri Nahriyanti.
Source: media center


