Beranda / Daerah / DIY Perkuat Kolaborasi untuk Percepat Eliminasi Kusta

DIY Perkuat Kolaborasi untuk Percepat Eliminasi Kusta

Jakarta,REDAKSI17.COM – Komitmen mewujudkan masyarakat yang sehat, inklusif, dan bebas stigma terus diperkuat Pemerintah Daerah (Pemda) DIY. Di tengah upaya nasional mempercepat eliminasi kusta, Pemda DIY menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor, deteksi dini, serta edukasi masyarakat sebagai kunci memutus rantai penularan sekaligus menghapus diskriminasi yang masih dialami penyintas kusta.

Langkah tersebut ditunjukkan melalui kehadiran Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X bersama Kepala Dinas Kesehatan DIY dr. Gregorius Anung Trihadi dalam Konferensi Nasional Kusta 2026 bertajuk Percepatan Eliminasi Kusta: Komitmen Indonesia, Kolaborasi Global yang diselenggarakan di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Jumat (10/7). Forum tersebut mempertemukan pemerintah pusat, pemerintah daerah, organisasi masyarakat, komunitas penyintas, hingga mitra internasional untuk memperkuat langkah bersama menuju Indonesia bebas kusta.

Kepala Dinas Kesehatan DIY dr. Gregorius Anung Trihadi mengatakan, setelah penandatanganan komitmen bersama dalam forum tersebut, Sri Paduka memberikan arahan agar berbagai upaya yang selama ini dilakukan Dinas Kesehatan DIY terus diperkuat. Upaya tersebut meliputi surveilans aktif, pemantauan kasus, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di puskesmas dan rumah sakit, hingga penguatan pemeriksaan laboratorium kesehatan.

Menurut Anung, salah satu perhatian utama pemerintah pusat saat ini adalah masih rendahnya angka penemuan kasus kusta di berbagai daerah. Karena itu, pemerintah daerah didorong lebih aktif melakukan deteksi dini dan pencarian kasus agar penderita dapat segera memperoleh pengobatan serta terhindar dari risiko penularan yang lebih luas.

“Semakin cepat ditemukan, semakin cepat diobati. Itu yang menjadi fokus pemerintah pusat saat ini. Jangan sampai pasien datang ketika penyakit sudah berkembang dan menimbulkan kecacatan,” ujarnya.

Selain penguatan layanan kesehatan, Sri Paduka juga menekankan pentingnya peningkatan literasi masyarakat mengenai kusta. Dinas Kesehatan DIY diminta berkolaborasi dengan Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) DIY untuk menyusun strategi komunikasi publik yang lebih efektif sehingga masyarakat dapat mengenali gejala kusta sejak dini dan tidak lagi memandang penyakit tersebut sebagai penyakit yang menakutkan.

Anung menjelaskan, gejala awal kusta kerap diabaikan karena hanya berupa bercak putih, bercak kemerahan, mati rasa, atau keluhan ringan lainnya. Akibatnya, tidak sedikit penderita yang baru datang ke fasilitas kesehatan ketika kondisi penyakit sudah cukup berat. Padahal, kusta merupakan penyakit yang dapat disembuhkan apabila ditangani sejak awal.

Hingga triwulan II 2026, jumlah kasus kusta yang ditemukan di DIY tercatat sebanyak 25 kasus. Angka tersebut masih jauh di bawah target penemuan kasus yang ditetapkan secara nasional. Namun demikian, menurut Anung, kondisi tersebut justru menjadi pengingat pentingnya memperkuat skrining dan penemuan kasus aktif di masyarakat.

“Harapannya, dengan adanya komitmen bersama ini, upaya penanganan kusta semakin diperkuat melalui dukungan berbagai perangkat daerah. Ini bukan hanya tugas sektor kesehatan, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh pihak agar edukasi, deteksi dini, dan pendampingan masyarakat dapat berjalan lebih optimal,” kata Anung.

Dalam konferensi tersebut, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno menegaskan bahwa eliminasi kusta tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan semata. Keberhasilannya sangat bergantung pada keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, dunia pendidikan, organisasi keagamaan, komunitas masyarakat, hingga dunia usaha.

Sementara itu, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa kusta merupakan penyakit akibat infeksi bakteri Mycobacterium leprae yang dapat disembuhkan dan pengobatannya tersedia secara gratis di fasilitas pelayanan kesehatan. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah masih banyak penderita yang belum terdeteksi sehingga datang berobat ketika sudah mengalami kecacatan.

“Strateginya sederhana, temukan sebanyak-banyaknya dan obati secepat mungkin. Begitu mulai minum obat, pasien tidak lagi menularkan penyakit. Karena itu jangan takut menemukan kasus, justru semakin banyak ditemukan, semakin banyak yang bisa disembuhkan,” ujar Menkes.

Dukungan terhadap percepatan eliminasi kusta juga datang dari Honorary Chair The Nippon Foundation sekaligus WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Yohei Sasakawa. Ia menilai peningkatan jumlah kasus yang ditemukan melalui penemuan kasus aktif justru menunjukkan sistem deteksi yang bekerja dengan baik. Menurutnya, eliminasi kusta tidak hanya berbicara tentang penyembuhan penyakit, tetapi juga tentang menghapus stigma dan diskriminasi terhadap para penyintas.

Melalui penguatan kolaborasi lintas sektor, edukasi publik yang lebih masif, serta deteksi dini yang semakin aktif, Pemda DIY optimistis dapat mendukung target nasional eliminasi kusta. Lebih dari itu, upaya tersebut diharapkan mampu menghadirkan lingkungan yang lebih inklusif, di mana setiap warga memiliki kesempatan yang sama untuk hidup sehat, produktif, dan bermartabat tanpa stigma.

Humas Pemda DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *