Gondokusuman,REDAKSI17.COM – Meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi tantangan yang harus diantisipasi melalui penguatan layanan kesehatan yang berkelanjutan. Salah satunya dengan mengembangkan pelayanan paliatif (palliative care) yang tidak hanya berfokus pada penanganan penyakit, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarganya melalui pendekatan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Seminar Hybrid Nasional “Completing the Puzzle of Palliative Care: A Multidisciplinary Approach to Holistic Care” yang diselenggarakan atas kerja sama Lembaga Kursus dan Pelatihan Suluh Kasih Bangsa, Pemerintah Kota Yogyakarta, Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (YAKKUM), dan Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta di Rumah Sakit Bethesda, Jumat (10/7).
Seminar yang berlangsung selama dua hari, 10–11 Juli 2026, tersebut menghadirkan narasumber nasional dan internasional untuk membahas pengembangan pelayanan paliatif secara multidisiplin. Kegiatan ini bertujuan mengubah paradigma pelayanan paliatif di Indonesia, dari yang selama ini identik dengan pelayanan menjelang akhir hayat menjadi pelayanan komprehensif sejak pasien didiagnosis penyakit serius. Pendekatan tersebut dilakukan melalui kolaborasi berbagai profesi kesehatan, pemerintah, organisasi sosial, komunitas, hingga keluarga pasien.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo yang turut hadir dalam seminar mengatakan kegiatan tersebut sangat relevan dengan kondisi Kota Yogyakarta yang tengah menghadapi peningkatan jumlah penduduk lansia atau aging population. Menurutnya, persoalan tersebut akan berdampak pada meningkatnya kebutuhan pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan paliatif.
“Seminar ini sangat sesuai dengan kebutuhan pemerintah pada masa sekarang karena kita menghadapi aging population. Di Yogyakarta hampir 17,8 persen penduduknya sudah lansia. Oleh karena itu pasti akan banyak masalah yang terkait dengan aging, seperti stroke, cardiovascular disease, dan lain sebagainya,” ujar Hasto.
Ia menjelaskan, meningkatnya jumlah lansia akan diikuti bertambahnya penyakit kronis yang membutuhkan pendampingan jangka panjang. Karena itu, pelayanan paliatif akan menjadi kebutuhan yang semakin penting di masa mendatang.
“Ke depan palliative care itu menjadi sangat penting. Banyak orang yang tidak perlu dihospitalisasi terus di rumah sakit, tetapi penting tetap dilakukan hospital at home. Dengan meningkatnya aging population dan penyakit kronis, kebutuhan terhadap pelayanan paliatif akan semakin besar,” katanya.

Menurut Hasto, Pemerintah Kota Yogyakarta telah menyiapkan berbagai langkah untuk menghadapi perubahan struktur penduduk tersebut. Salah satunya melalui program satu kelurahan satu bidan atau satu perawat yang diharapkan mampu mengembangkan layanan kesehatan berbasis rumah atau hospital at home.
“Kita punya program satu kelurahan satu bidan atau satu perawat yang kemudian bisa membuat program hospital at home. Saya kira sangat penting ke depan bersama Bethesda dan YAKKUM untuk memberikan perawatan kepada masyarakat di rumah,” ungkapnya.
Selain itu, Pemkot Yogyakarta juga terus memperkuat upaya promotif dan preventif melalui pemeriksaan kesehatan lansia. Hingga Juni 2026, sebanyak 36.428 lansia telah menjalani skrining kesehatan di seluruh kelurahan.
“Dalam tiga bulan kita menyelesaikan pemeriksaan lansia di 45 kelurahan sehingga kita memiliki surveillance data, data laboratorium, dan data fisik diagnostik sebagai dasar pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan paliatif,” jelas Hasto.
Ia menilai pelayanan paliatif tidak hanya berbicara mengenai tindakan medis, tetapi juga bagaimana menjaga kualitas hidup pasien, memberikan dukungan kepada keluarga, serta melibatkan masyarakat.
“Meningkatkan kualitas hidup, perawatan secara holistik, dan dukungan bagi keluarga, itulah yang kami persiapkan dari pemerintah. Kolaborasi lintas sektor menjadi sangat penting, termasuk melibatkan social responsibility atau CSR,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Direktorat Pelayanan Kesehatan YAKKUM sekaligus Direktur Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta, Edy Wibowo, mengatakan pelayanan paliatif merupakan tantangan bersama karena menyangkut berbagai aspek kehidupan pasien.
“Tantangan pelayanan paliatif itu fisik, psikologis, sosial, bukan hanya di tingkat pasien tetapi juga di tingkat keluarga. Transisi dari rumah sakit ke keluarga inilah yang menjadi tantangan kita bersama,” katanya.
Ia berharap seminar tersebut mampu menyatukan berbagai unsur pelayanan kesehatan sehingga pelayanan paliatif di Indonesia menjadi semakin komprehensif.
“Harapan kami, puzzle-puzzle itu bisa kita temukan bersama dan dengan kolaborasi yang baik bisa terbentuk layanan yang komprehensif,” ujarnya.

Edy juga mengungkapkan tingginya antusiasme peserta seminar yang diikuti sekitar 120 peserta secara luring dan lebih dari 1.500 peserta secara daring.
“Tentunya kita harapkan impact dari pertemuan pagi ini, puzzle-puzzle pelayanan paliatif akan kita temukan sehingga bisa merekat menjadi pelayanan yang komprehensif,” imbuhnya.
Direktur Lembaga Kursus dan Pelatihan Suluh Kasih Bangsa, Jenny Megawati, mengatakan pelayanan paliatif merupakan bentuk pelayanan kesehatan yang menempatkan kualitas hidup pasien serta keluarganya sebagai prioritas utama.
“Pelayanan paliatif tidak hanya berfokus pada penatalaksanaan penyakit, tetapi juga pada pengendalian gejala, dukungan psikologis, sosial, dan spiritual. Oleh karena itu pelayanan paliatif memerlukan kolaborasi yang erat antara berbagai profesi kesehatan, institusi pelayanan kesehatan, pemerintah, organisasi sosial, serta masyarakat,” ujarnya.

Menurut Jenny, melalui seminar tersebut diharapkan seluruh peserta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pelayanan paliatif yang holistik sekaligus memperkuat kolaborasi multidisiplin.
Selain sesi pleno dan diskusi panel, seminar juga menghadirkan kegiatan kolaboratif bertajuk My Piece of the Puzzle, yang mengajak peserta memetakan peran masing-masing dalam empat pilar pelayanan paliatif, yakni fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Melalui kegiatan tersebut, penyelenggara berharap terbentuk jejaring nasional lintas profesi untuk memperkuat ekosistem pelayanan paliatif di Indonesia.



