Bantul,REDAKSI17.COM – Raden Tumenggung Mangun Negoro, kelak bergelar K.R.T. Mangun Negoro, seorang Nayaka Kasultanan Yogyakarta, mendapat kepercayaan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono V untuk menjadi bupati pertama Kabupaten Bantul. Memimpin selama 14 tahun sejak tahun 1831 hingga tahun 1845, K.R.T. Mangun Negoro mengemban amanah yang sama sekali tidak ringan.
Selain bertanggung jawab terhadap keamanan wilayah pasca Perang Jawa, Raden Tumenggung Mangun Negoro juga melakukan tata kelola pemerintahan, baik dalam birokrasi pemerintahan kabupaten, maupun dalam pembangunan sosial ekonomi masyarakat.
Kendati demikian, sebagaimana yang disampaikan Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, K.R.T. Mangun Negoro mewariskan satu nilai yang kini dipegang sebagai jati diri bagi warga Bantul, yakni jiwa satria. Semangat ini pula yang menyokong nilai-nilai kepeloporan yang ditanam K.R.T. Mangun Negoro, memperkokoh semangat gotong royong, dan cita-cita untuk mewujudkan masyarakat Bantul sejahtera.
“Sejarah membuktikan, betapa banyak orang-orang menancapkan jiwa satria di Kabupaten Bantul. Dengan fakta-fakta ini, kami berpikir inilah kekuatan kita. Jiwa satria yang mendarah daging. Ini yang harus kita dorong agar punya daya saing, inovatif, dan kreatif dalam menghadapi dinamika perubahan zaman,” ujar Halim saat memberi pengarahan dalam peringatan peristiwa sejarah hari jadi Kabupaten Bantul, Jumat (10/7/2026).
Pernyataan tersebut dikuatkan oleh dua narasumber yang hadir, yakni Dr. Ahmad Athoillah, M.A., sejarawan sekaligus dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM; serta Dr. Lilik Suharmaji, M.Pd., Ketua Pusat Studi Mataram.
Barangkali, jika tak ada jiwa satria, K.R.T. Mangun Negoro akan sangat kepayahan menata Bantul di awal-awal pemerintahan. Tapi tidak. Lilik Suharmaji menyebut, K.R.T. Mangun Negoro berhasil membangun birokrasi pemerintahan dari awal, baik birokrasi internal dan pembangunan. K.R.T Mangun Negoro juga meletakkan dasar pemerintahan seperti pembagian wilayah, pengangkatan aparat pemerintahan, serta menjalankan administrasi. Bupati pertama Kabupaten Bantul juga dianggap dapat menjaga keamanan Bantul pasca Perang Jawa, di mana Bantul Karang waktu itu menjadi basis pengikut Pangeran Diponegoro.
Terkait jiwa satria, jika ditarik ke belakang, Ahmad Athoillah menerangkan, Bantul sendiri punya rekam jejak yang tak bisa dipandang sebelah mata. Ketika Perang Jawa meletus, sejumlah wilayah di Bantul yang pernah digempur Belanda dan menjadi medan tempur, menunjukkan perlawanan warga Bantul yang tak patah arang.
Markas di Selarong yang dijadikan untuk koordinasi awal Perang Jawa diserang Jenderal de Kock pada 4 Oktober 1825. Lompat satu tahun setelahnya, pertahanan di Pleret diserang Jenderal Van Geen pada 9 Juni 1826. Masih pada tahun yang sama, tepatnya 4 Agustus 1826, Le Born dan Mayor Sollewijn menyerang pertahanan di Bantul Karang. Di tempat yang sama, dua tahun setelahnya, Le Born dan kembali berupaya membombardir Bantul Karang pada 4 Mei 1928. Lantas pada 17 September 1829, pertahanan di Siluk pun tak luput dari serangan Belanda.
Rekam jejak pertempuran itu menunjukkan perlawanan warga Bantul amat gigih dan tak patah arang. Maka, tak salah apabila Bantul Bumi Satria dipasang sebagai jubah untuk menegaskan jati diri warga Bantul.




