Beranda / Daerah / Lakon Jumenengan Parikesit, Teladan yang Menentramkan

Lakon Jumenengan Parikesit, Teladan yang Menentramkan

Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Usai dunia terluka akibat Perang Bharatayuda, jumenengan Parikesit (cucu Arjuna) menjadi Raja Astinapura terjadi. Melanjutkan langkah para leluhurnya, Parikesit mencontohkan secara nyata bahwa Jumenengan adalah kesediaan menerima tanggung jawab untuk memulihkan ketertiban, merawat kehidupan, dan menghadirkan kembali rasa tentram.

Hal inilah yang disajikan Dalang Ki Sumanto Susilomadyo pada Pergelaran Wayang Kulit Adat Suran dengan lakon ‘Jumenengan Parikesit’. Bertempat di Pendopo Wiyata Praja, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta pada Jumat (10/07) malam, kegiatan ini menjadi bagian dari tradisi rutin umbul dungo (doa bersama) di bulan Suro (kalender Jawa) oleh Pemda DIY.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi saat membacakan sambutan Sekretaris Daerah DIY mengatakan, bulan Suro dalam tradisi Jawa adalah ruang untuk pangiling-eling, menimbang kembali perjalanan, membersihkan niat, serta menata arah hidup. Dalam suasana itulah lakon Jumenengan Parikesit memperoleh makna yang mendalam.

“Jumenengan tidak cukup dipahami sebagai upacara menduduki singgasana. Tahta dalam pandangan Jawa bukanlah tempat untuk meninggikan diri, melainkan papan pangemban. Kekuasaan memperoleh makna, ketika digunakan untuk menjaga keseimbangan, melindungi yang lemah, serta memastikan kehidupan bersama tetap berada pada jalan kepatutan,” paparnya.

Dian menuturkan, pesan yang disampaikan melalui seni bayangan ini, relevan bagi kehidupan saat ini. Menurutnya, di tengah perubahan yang cepat, masyarakat memerlukan keteladanan yang menentramkan, keputusan yang jernih, serta tindakan yang menghadirkan rasa adil.

“Kemajuan perlu disertai pegangan nilai agar kewenangan tidak kehilangan kebijaksanaan. Dan wayang menyampaikan ajaran itu melalui cerita, sabdo suluh, dan gerak bayang-bayang di balik kelir. Kita sesungguhnya sedang menyaksikan diri kita sendiri lengkap dengan ambisi, keraguan, kebajikan, dan tanggung jawab yang menyertainya,” imbuhnya.

Dian berharap pergelaran wayang ini dapat menjadi tontonan sekaligus tuntunan, menjadi cermin untuk menimbang laku pribadi dan kehidupan bersama. Sebab ketentraman masyarakat selalu bermula dari manusia-manusia yang mampu mengendalikan, menghormati sesama, dan menjalankan tanggung jawab dengan penuh kesadaran.

“Marilah kita menjadikan momentum adat surat ini sebagai kesempatan untuk menata rasa menguatkan kewaspadaan batin, dan menjaga harmoni. Semoga pagelaran ini memberikan hiburan tuntunan dan keteguhan batin bagi kita semua,” imbuhnya.

Pergelaran Wayang Adat Suran diselenggarakan setiap tahunnya oleh Pemda DIY melalui Dinas Kebudayaan DIY. Acara ini bertujuan memohon keselamatan, kesehatan, dan kelancaran kepada Tuhan YME bagi DIY. Kegiatan ini sekaligus merupakan upaya melestarikan dan mengembangkan seni adiluhung, serta menjadi media pembinaan bagi para seniman.

HUMAS DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *