Beranda / Tokoh / dr. Cipto Mangunkusumo

dr. Cipto Mangunkusumo

Pada tahun 1912, wilayah Malang, Jawa Timur, dilanda bencana mengerikan berupa wabah penyakit pes. Di tengah situasi yang genting dan mematikan itu, seorang dokter pribumi bernama dr. Cipto Mangunkusumo dengan berani turun ke garis depan. Tanpa rasa takut tertular, beliau merawat para korban dan berhasil menekan penyebaran wabah tersebut.
Atas jasa kemanusiaannya yang luar biasa, pemerintah kolonial Belanda merasa berutang budi. Ratu Wilhelmina kemudian menganugerahinya sebuah penghargaan bergengsi, yaitu medali Oranje-Nassau. Bagi banyak orang pada masa itu, menerima medali dari kerajaan Belanda adalah sebuah kebanggaan tertinggi yang bisa mengangkat derajat sosial mereka.
Namun, dr. Cipto Mangunkusumo bukanlah orang biasa. Bagi beliau, medali emas tersebut sama sekali bukan sebuah kehormatan. Beliau melihatnya sebagai simbol kesombongan dan taktik politik penjajah untuk membungkam daya kritisnya.
Perlawanan dr. Cipto setelah menerima medali tersebut sungguh di luar dugaan. Belum genap satu tahun memegang medali itu, beliau memutuskan untuk mengembalikannya kepada pemerintah Hindia Belanda. Tindakan ini memicu kegemparan karena dianggap sebagai bentuk penolakan terang-terangan untuk tunduk kepada kekuasaan penjajah.
Menariknya, ada sebuah kisah populer mengenai cara unik dr. Cipto dalam melayangkan protes sebelum medali itu dikembalikan. Beliau sengaja menyematkan medali kehormatan tersebut di bagian belakang celananya, tepat di dekat bokong. Beliau kemudian berjalan-jalan di tempat umum, termasuk di depan para pejabat dan tentara kolonial.
Alasan di balik tindakan nyeleneh ini sebenarnya sangat cerdas sekaligus menusuk. Sesuai aturan militer Belanda, setiap prajurit wajib memberikan hormat tegak lurus kapan pun mereka melihat medali resmi dari Ratu mereka. Dengan memasang medali itu di bagian belakang tubuhnya, dr. Cipto secara tidak langsung memaksa para tentara Belanda untuk membungkuk dan memberi hormat kepada bokong seorang pribumi.
Sebuah sindiran yang terlihat konyol dan sederhana, namun tamparannya sangat keras bagi harga diri pemerintah kolonial. Melalui aksi berani ini, dr. Cipto Mangunkusumo ingin menyampaikan pesan yang mendalam: harga diri sebuah bangsa tidak akan pernah bisa dibeli dengan sepotong logam dari tangan penjajah. Kehormatan sejati hanya bisa diraih lewat kemerdekaan penuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *