Beranda / Daerah / Gunungkidul Resmi Luncurkan Retribusi Wisata 100% Cashless di TPR Baron Utama guna Tingkatkan Transparansi dan PAD

Gunungkidul Resmi Luncurkan Retribusi Wisata 100% Cashless di TPR Baron Utama guna Tingkatkan Transparansi dan PAD

Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul secara resmi meluncurkan sistem pemungutan retribusi wisata non-tunai (cashless) 100% di Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) Baron Utama, Selasa, (12/5/2026). Langkah ini merupakan bagian dari transformasi digital untuk menciptakan tata kelola pariwisata yang modern, transparan, dan akuntabel.

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih menyatakan bahwa kebijakan ini diambil untuk menjawab rekomendasi dari DPRD serta mendukung amanat Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD). Selain untuk efisiensi, sistem non-tunai ini bertujuan melindungi integritas para petugas di lapangan agar terhindar dari prasangka negatif atau fitnah terkait pengelolaan uang tunai.

“Kami ingin menjaga marwah para pegawai yang membidangi pendapatan asli daerah. Memegang uang tunai itu rentan dicurigai. Dengan sistem ini, uang diterima secara real-time dan tercatat otomatis, sehingga tidak ada beban psikologis bagi petugas,” ujar Bupati dalam sambutannya.

Bupati menyatakan optimisme bahwa target PAD pariwisata tahun ini sebesar Rp34 miliar dapat tercapai atau bahkan melampaui target melalui pengawasan yang lebih baik dan sistem yang terintegrasi.

“Transaksi menggunakan kartu ini terbukti sangat cepat, hanya membutuhkan waktu sekitar 4 detik.” ungkap Bupati.

Hasil Uji Coba dan Kesiapan Wisatawan

Sebelum diresmikan, Dinas Pariwisata telah melakukan uji coba sejak 6 hingga 11 April 2024. Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Gunungkidul, Antonius Hary Sukmono, mengungkapkan bahwa hasil uji coba menunjukkan tingkat kesiapan wisatawan mencapai 80%.

“Bagi sekitar 20% pengunjung yang belum siap, terutama kalangan lansia di atas 50 tahun pemerintah telah menyiapkan solusi berupa penyediaan kartu e-money dari Bank Mandiri yang dapat dibeli langsung di lokasi dengan harga yang sama dengan nilai tiket, yaitu Rp15.000, tanpa biaya tambahan kartu.” ujarnya.

Namun demikian, untuk saat ini bagi pengunjung yang tetap ingin membayar tunai, sementara diarahkan melalui pos lain yang masih menerapkan sistem hybrid (tunai dan non-tunai), seperti di jalur JJLS.

Lonjakan Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Implementasi digitalisasi ini terbukti memberikan dampak positif pada capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD). Tercatat per tanggal 14 Mei, perolehan retribusi pariwisata telah mencapai angka Rp23,8 miliar hingga Rp24 miliar. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp9,7 miliar.

Keberhasilan program pilot project di TPR Baron Utama ini didukung oleh kolaborasi erat dengan Bank Indonesia Perwakilan DIY, Bank BPD DIY, Bank Mandiri, serta Jasa Raharja. Bank Mandiri berperan dalam penyediaan alat dan kartu e-money, sementara Bank BPD DIY mendukung melalui penyediaan mobil operasional dan alat POS (Point of Sale).

“Dukungan infrastruktur jaringan juga diperkuat oleh Dinas Kominfo Gunungkidul di titik-titik lokasi wisata.” ujar Kepala Dinas.

Ditemui secara terpisah, Sekretaris Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Gunungkidul, Eko Nur Cahyo menjelaskan, Guna mempermudah proses pembayaran di Tempat Pemungutan Retribusi (TPR), berbagai opsi pembayaran non-tunai kini telah tersedia.

“Salah satu layanan utama yang dapat digunakan oleh pengunjung adalah fasilitas transaksi pembayaran menggunakan QRIS yang disediakan oleh Bank BPD DIY.” ujar Eko.

Layanan ini memudahkan wisatawan untuk membayar retribusi masuk secara cepat melalui aplikasi dompet digital maupun mobile banking.

“Sebagai langkah antisipasi bagi pengunjung yang belum memiliki atau tidak menggunakan aplikasi QRIS, Dinas Pariwisata Gunungkidul juga telah menyiapkan solusi alternatif. Dinas Pariwisata menyediakan pilihan pembayaran menggunakan kartu uang elektronik, yaitu Tab Cash e-money Mandiri.” tambahnya.

Penyediaan berbagai alternatif ini diharapkan dapat mendukung ekosistem pariwisata yang lebih modern dan efisien, sehingga wisatawan memiliki fleksibilitas dalam memilih metode pembayaran saat memasuki destinasi wisata di Gunungkidul.

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul juga menargetkan sistem 100% cashless ini akan segera direplikasi ke TPR lainnya. Setidaknya 10 TPR tambahan ditargetkan sudah menerapkan sistem serupa pada akhir tahun ini. Selain retribusi masuk wisata, sistem non-tunai juga direncanakan akan merambah ke sektor lain seperti pengelolaan parkir di kawasan wisata.

“Semangat digitalisasi ini adalah cara kita membangun hari esok bagi pariwisata Gunungkidul. Kita harus berani meninggalkan cara manual yang kurang efisien untuk masa depan yang lebih transparan,” pungkas Bupati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *