Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Peringatan Hari Kesaktian Pancasila tidak sekadar menjadi momentum mengenang sejarah, tetapi juga menjadi pengingat untuk menghidupkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo saat menjadi inspektur Upacara Hari Kesaktian Pancasila di Lapangan Balai Kota Yogyakarta, Kamis (1/10). Menurutnya, nilai-nilai dalam setiap sila Pancasila perlu diwujudkan dalam tindakan nyata, terutama oleh aparatur pemerintah ketika melayani masyarakat.
“Momen ini sekaligus menjadi penghormatan atas jasa-jasa para pahlawan revolusi yang gugur dalam peristiwa 30 September 1965. Hari ini kita mendalami dan meneruskan pesan sejarah, dan kemudian kita bertekad untuk bisa mewarisi api semangat perjuangannya,” ujar Hasto.
Ia mengatakan pengorbanan para pahlawan revolusi menjadi pengingat untuk terus menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pancasila, lanjutnya, harus terus menjadi pemersatu bangsa menuju Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.
Hasto menekankan, sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi landasan dalam mengamalkan sila-sila lainnya. Dalam konteks pemerintahan, nilai tersebut menurutnya dapat diterapkan dengan menghadirkan pelayanan publik yang berorientasi pada kemanusiaan.
“Nilai kemanusiaan in action itu memang perlu terus kita kembangkan. Ayolah kita yang menyesuaikan dengan keadaan orang. Kalau sepatu kita kecil, kita besarkan. Jangan memaksa kaki orang masuk ke sepatu kita,” katanya.

Menurut Hasto, aparatur perlu memahami kondisi masyarakat yang dilayani. Perbedaan karakter maupun persoalan yang dihadapi masyarakat tidak semestinya menjadi alasan untuk memberikan pelayanan secara berbeda atau bahkan memicu emosi petugas.
“Kalau Anda melayani di perizinan, melayani di kemantren, di kelurahan, melayani di dinas sosial, melayani di dinas kesehatan, melayani masyarakat, semua OPD Pemda masyarakatnya itu ndilalah dablek. Kemudian Anda marah karena masyarakatnya itu dablek, maka namanya kita ini terdikte oleh orang,” ujarnya.
Selain kemanusiaan, Hasto juga mengajak jajaran Pemkot Yogyakarta menghidupkan nilai persatuan dan musyawarah dalam pekerjaan. Perbedaan pendapat, menurutnya, merupakan bagian dari proses mencari keputusan terbaik sehingga tidak semestinya menimbulkan ketersinggungan. Ia menilai sikap legawa dalam bermusyawarah penting agar setiap keputusan tidak didasarkan pada kepentingan pribadi, melainkan mempertimbangkan kepentingan masyarakat luas.

Melalui momentum tersebut, Hasto mengajak seluruh jajaran pemerintah dan masyarakat tidak berhenti pada pemahaman Pancasila sebagai dasar negara, tetapi menjadikannya sebagai pedoman dalam bersikap dan bekerja.
“Legowo itu hanya karena kita terdikte oleh Tuhan, bukan terdikte oleh manusia,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Pemkot Yogyakarta juga menyerahkan sejumlah penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas prestasi dan kontribusi masyarakat di berbagai bidang.

Pada Olimpiade Demokrasi Pelajar SMA Kota Yogyakarta Tahun 2026 yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Yogyakarta, Juara I diraih Madrasah Aliyah Muallimin, Juara II SMA Negeri 1 Yogyakarta, dan Juara III SMA Negeri 5 Yogyakarta. Juara Harapan I diraih SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta dan Juara Harapan II SMA Negeri 11 Yogyakarta.
Penghargaan juga diberikan kepada para pemenang Lomba Inisiasi Demokrasi Pelajar SMA Kota Yogyakarta Tahun 2026. Juara I diraih Josebtia Aldie, Juara II Habib Aroyan, Juara III Arya Riring Mahamboro, Juara Harapan I Rizka Alya Azzahra, dan Juara Harapan II Vencensia Enggar Larasati.

Sementara itu, Gender Champion Award Tingkat Kota Yogyakarta Tahun 2026 yang diselenggarakan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Yogyakarta diberikan dalam sejumlah kategori.
Untuk kategori ASN, Juara I diraih Herristanti, S.Psi., Juara II Diah Setiani, S.E., dan Juara III Widiyastuti, S.S., M.Hum. Kategori perangkat daerah menempatkan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Yogyakarta sebagai Juara I, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Yogyakarta Juara II, serta Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Yogyakarta Juara III.
Kategori komunitas/kelompok menempatkan Pimpinan Cabang Fatayat Nahdlatul Ulama Kota Yogyakarta sebagai Juara I, Srikandi Lintas Iman Juara II, dan Persaudaraan Muslimah (Salimah) Kota Yogyakarta Juara III.
Sedangkan kategori perorangan/umum, Juara I diraih Devi Riana Sari, Juara II Anik Sulistiyani, dan Juara III Ummatul Baroroh.

Ketua Pimpinan Cabang Fatayat NU Kota Yogyakarta, Umu Aiman Siswanti, mengatakan penghargaan tersebut menjadi penyemangat untuk terus memperkuat gerakan inklusi di Kota Yogyakarta.
Salah satu program yang dikembangkan Fatayat NU Kota Yogyakarta adalah ngaji inklusi, yang mempertemukan teman-teman disabilitas dengan para penghafal Al-Qur’an. Selain itu, Fatayat juga menyiapkan program pelatihan bagi guru SLB terkait pendampingan dan penanganan persoalan seperti perundungan maupun kekerasan terhadap anak.
“Kami lebih fokusnya ke inklusi. Program unggulan kami salah satunya adalah ngaji inklusi, sekolah inklusi,” jelas Umu.
Ia mengatakan gerakan tersebut dibangun melalui kolaborasi dengan berbagai pihak agar lingkungan pendidikan dan masyarakat semakin ramah terhadap kelompok rentan dan penyandang disabilitas.

Sementara itu, Anik Sulistiyani yang meraih Juara II kategori perorangan/umum juga aktif memberikan motivasi kepada penyandang amputasi, penyintas kanker, maupun keluarga pasien yang tengah menghadapi keputusan medis terkait amputasi.
Berangkat dari pengalamannya sebagai penyintas kanker tulang dan menjalani amputasi, Anik berupaya menunjukkan bahwa kondisi tersebut bukan akhir dari kehidupan. Ia terus mendorong teman-temannya agar tetap percaya diri, berkarya, bekerja, berkeluarga, dan berprestasi.
“Dengan amputasi, aku tidak apa-apa. Kita masih bisa bekerja, berkarya, berprestasi, ataupun berkeluarga juga. Masih banyak orang baik yang mau menerima kondisi kita,” ujarnya.
Semangat tersebut menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan yang lebih inklusif, sekaligus memperkuat pengamalan nilai kemanusiaan dan persatuan sebagaimana ditekankan dalam peringatan Hari Kesaktian Pancasila.


