Beranda / Olahraga / Indonesia Gagal di Piala AFF, Anemoia, dan Runtuhnya Jargon ‘King Indo’

Indonesia Gagal di Piala AFF, Anemoia, dan Runtuhnya Jargon ‘King Indo’

Jakarta,REDAKSI17.COM – Timnas Indonesia gagal lagi di Piala AFF 2026. Di tengah hasil mengecewakan Skuad Garuda itu, anemoia mengemuka beriringan dengan runtuhnya jargon ‘King Indo’.
Langkah Indonesia di Piala AFF 2026 terhenti di fase grup. Hasil imbang 1-1 saat Tim Merah Putih melawan Singapura menjadi sebabnya.

Laga di Stadion Jalan Besar, Jumat (7/8/2026), begitu krusial buat Timnas Indonesia. Skuad Garuda butuh kemenangan untuk bisa lolos ke semifinal. Sebuah awal menjanjikan, usaha tim asuhan John Herdman untuk mencetak gol hadir pada awal babak kedua.

Dalam sebuah kemelut di muka gawang Singapura, Indonesia bisa mencetak gol via Ragnar Oratmangoen. Unggul satu gol, Indonesia tetap tak bermain tenang.

Keunggulan itu tak berlanjut. Buruknya koordinasi lini belakang Indonesia membuat tim lawan berhasil membobol gawang yang dikawal Cahya Supriadi. Gawang ‘King Indo’ dirobek Ilhan Fandi pada menit ke-66. Hingga akhir pertandingan, Indonesia tak mampu menambah gol. Hasil akhir pun seri. Tambahan satu poin tak mampu mengantar Timnas ke babak semifinal. Jelas ini sebuah pil pahit, sangat pahit.

Kegagalan menjuarai Piala AFF sudah akrab bagi Indonesia dalam 30 tahun. Pesta sepakbola negara-negara ASEAN pertama kali digelar pada 1996.

Sejauh ini, Indonesia baru sebatas finis di peringkat kedua sebanyak enam kali. Predikat spesialis runner-up pun begitu melekat bagi Timnas Indonesia, diberikan oleh suporternya sendiri. Sudah begitu, Indonesia menjadi bahan olok-olokan pencinta sepakbola dari negeri jiran karena masih nol trofi di Piala AFF. Wajar meski begitu menyakitkan.

Bahkan sebelum Singapura vs Indonesia kick-off, ada netizen Singapura yang secara terang-terangan membuat infografis soal lemari trofi negara-negara ASEAN di Piala AFF. Indonesia kalah dari Thailand (7 trofi), Singapura (4 trofi), Vietnam (3 trofi), dan Malaysia (1 trofi).

Asa Indonesia untuk meraih prestasi tinggi di kancah internasional sebenarnya mulai menebal sejak 2021. Kala itu, Indonesia yang mengandalkan para pemain muda bisa menembus final Piala AFF 2020. Tim tersebut di bawah asuhan Shin Tae-yong.

Tak berhenti di situ, Indonesia kemudian lolos ke Piala Asia 2023. Bahkan, Tim Merah Putih untuk pertama kali berhasil lolos dari fase grup.

Pencapaian demi pencapaian lantas ditorehkan Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2026. Lolos ke babak keempat, Indonesia menjadi negara ASEAN pertama yang menjejak ke babak itu.

Saat itu, Indonesia sudah diperkuat oleh pemain diaspora. Ada banyak pemain top seperti Jay Idzes, Justin Hubner, Kevin Diks, Ragnar Oratmangoen, Thom Haye, Sandy Walsh, Nathan Tjoe-a-on, sampai Calvin Verdonk.

Kedigdayaan Indonesia itulah yang membuat pendukung Timnas, pemain ke-13 ini, makin bersemangat, makin totalitas, untuk memberikan dukungan dengan memenuhi tribun stadion. Celetukan ‘oh, begini rasanya punya Timnas jago’, ‘serahkan saja trofinya langsung ke King Indo’ sering berseliweran di media sosial. Ya, julukan King Indo mulai lebih sering digaungkan di media sosial.

Di tengah euforia tersebut, suporter Indonesia mulai dihinggapi gejala anemoia. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika seseorang merindukan atau merasa nostalgia terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dialaminya.

Begitu pula menjelang turnamen Piala AFF 2026. Siapa yang tidak optimistis Indonesia bisa melaju jauh melihat skuad di atas kertas itu? Ada 11 pemain keturunan dan satu pemain naturalisasi, serta skuad asuhan Herdman mempunyai nilai pasar paling tinggi di antara negara peserta Piala AFF lainnya.

Thom Haye, Mitchell Baker, Sandy Walsh, Shayne Pattynama, sampai Jordi Amat ada dalam skuad. Kemenangan atas Kamboja (5-1) dan Timor Leste (3-0) sempat membuat asa trofi Piala AFF pertama Indonesia menebal.

Vietnam, yang merupakan juara bertahan, kemudian menghancurkan Indonesia dengan kemenangan telak 0-3 di Stadion Pakansari, Jawa Barat, pada pekan lalu.

Pascalaga itu juga menunjukkan bahwa anemoia menghinggapi pemain Indonesia. Hubner malah terlibat saling sindir dengan pemain Vietnam usai mengunggah hasil akhir melawan Golden Star Warriors saat Kualifikasi Piala Dunia 2026.

Minimnya taktik John Herdman harus dibayar mahal dengan hasil imbang Indonesia melawan Singapura. Indonesia kembali gagal di Piala AFF tahun ini.

Kegagalan di Piala AFF 2026 seakan menyadarkan pendukung Timnas Indonesia bahwa label ‘King Indo’ itu semu. Mau bukti? Terakhir Indonesia juara saat meraih emas di SEA Games 1991. Setelah itu, Indonesia belum pernah mencicipi nikmatnya mengangkat piala.

Dengan fakta itu, publik harus menerima realitas bahwa Timnas Indonesia masih belum ke mana-mana karena masih tanpa raihan trofi.

Ungkapan kekecewaan sudah diungkapkan pendukung Indonesia yang hadir langsung ke Stadion Jalan Besar.

“John, kamu memalukan!” teriak suporter di pinggir stadion seperti dibagikan akun X, @2ndlinesquad.

“Kalau alasannya wasit, taktik kalian buat cetak gol mana? Kalah sama wasit?” kata orator itu.

“Kalau alasannya wasit, saya tahu, kami tahu, di situ penalti, tapi kenapa bisa cetak satu gol saja? Dan satu lagi, siapa yang bertanggung jawab atas tidak lolosnya (Timnas) ke babak selanjutnya Piala AFF ini?” kata suporter itu menambahkan.

Seperti mengingat pengalaman lalu, kalimat yang sudah-sudah, kegagalan ditutup dengan ‘pelajaran berharga’ dan evaluasi. Di sinilah anemoia bekerja, kita sibuk meromantisasi kejayaan yang bahkan tak pernah benar-benar dialami generasi sekarang. Sudah lebih dari tiga dekade Indonesia tanpa trofi. Mungkin, sebelum menyematkan mahkota ‘King Indo’, kita perlu memastikan bahwa mahkota itu memang pernah menjadi milik kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *