Kulonprogo,REDAKSI17.COM – Lahan terbatas tak menghalangi masyarakat untuk menghasilkan pangan. Pekarangan rumah, lahan kelompok tani, hingga tanah yang belum tergarap didorong menjadi ruang produktif melalui berbagai inovasi Lumbung Mataraman. Gerakan berbasis potensi lokal ini kembali ditampilkan dalam Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman 2026 di Jogja Agro Park (JAP) Nanggulan, Kulonprogo, Jumat-Sabtu (2-3/10/2026).
Digelar Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, kegiatan mengusung tema “Tuwuh Ngrembaka, Ngembangno Lumbung Mataraman – Modernitas dalam Kearifan Lokal”. Sebanyak 10 kalurahan yang memiliki Lumbung Mataraman dan 15 Kelompok Wanita Tani (KWT) turut ambil bagian, dengan total 25 stan yang menampilkan beragam inovasi pertanian berbasis potensi lokal.
Kepala DPKP DIY Aris Eko Nugroho mengatakan, Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman tidak sekadar menjadi ruang pameran, tetapi juga wadah bertukar pengetahuan dan pengalaman antarkelompok dalam mengembangkan pertanian sesuai potensi wilayah masing-masing.
“Secara prinsip Lumbung Mataraman ini mengembangkan konsep nandur opo sing dipangan, dipangan opo sing ditandur. Tetapi dalam praktiknya muncul berbagai kreativitas. Ada yang menggabungkan dengan peternakan, perikanan maupun tanaman. Potensi lahan yang ada dikembangkan melalui inovasi dan pemilihan komoditas sesuai kebutuhan serta minat masyarakat,” kata Aris di JAP Nanggulan, Sabtu (3/10).
Menurut Aris, keterbatasan lahan menjadi salah satu tantangan pembangunan pertanian. Karena itu, optimalisasi lahan pekarangan dan lahan yang belum produktif perlu terus dikembangkan. Pemanfaatannya tidak hanya menyasar Tanah Kasultanan dan Tanah Kadipaten, tetapi juga lahan milik masyarakat yang masih belum tergarap.
“Konsepnya integrated farming. Tidak hanya melibatkan generasi muda, tetapi juga merangkul keluarga miskin untuk terlibat aktif meningkatkan taraf ekonomi dan ketersediaan pangan mereka,” ujarnya.
Hingga saat ini, pengembangan Lumbung Mataraman berbasis kalurahan telah mencakup 23 kalurahan di DIY. Sementara kelompok berbasis gabungan kelompok tani (Gapoktan) mencapai hampir 300 kelompok. Komoditas yang dikembangkan terutama hortikultura, seperti sayuran, buah-buahan, tanaman obat keluarga (TOGA), tanaman hias, serta komoditas lain yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah.
Berbagai inovasi tersebut ditampilkan dalam Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman 2026. Salah satunya “sawah palsu”, yakni model budidaya yang memadukan tanaman padi dan ikan dalam satu sistem. Inovasi ini menjadi contoh bagaimana keterbatasan ruang dapat disiasati dengan memadukan berbagai komoditas dalam satu lahan agar tetap produktif.
Aris mengatakan, Gebyar Inovasi diharapkan terus menjadi agenda tahunan sekaligus ruang apresiasi dan pembelajaran bagi masyarakat. Berbagai inovasi yang ditampilkan dapat menjadi referensi bagi kelompok maupun wilayah lain untuk mengembangkan model pertanian sesuai potensi setempat.
“Orang lain bisa meniru aktivitas yang sesuai dengan potensi daerahnya. Pengalaman teman-teman juga menunjukkan bahwa usaha di dunia pertanian masih bisa bergairah, tidak hanya bagi generasi yang lebih tua, tetapi juga generasi milenial dengan menggabungkan IoT dan teknologi dalam budidaya,” jelasnya.
Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Ekonomi dan Pembangunan Noviar Rahmad, saat membacakan sambutan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan ketahanan pangan sejati dimulai dari ruang terdekat masyarakat. Pekarangan rumah dan lahan kelompok tani dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan apabila dikelola sesuai karakteristik dan keunggulan wilayah.
“Tidak semua tempat harus menanam komoditas yang sama, tidak semua kelompok harus menggunakan pola yang sama. Justru kekuatan Lumbung Mataraman terletak pada kemampuannya membaca potensi lokal, kemudian mengembangkannya menjadi sumber pangan dan kesejahteraan,” ungkap Noviar.
Noviar menambahkan, demonstration plot (demplot) dapat menjadi ruang belajar bersama bagi petani dan penyuluh. Teknologi pertanian modern dapat dipadukan dengan kearifan lokal untuk menguji pola budidaya, pengelolaan air, pemupukan, serta integrasi pertanian yang mencakup tanaman, ternak, dan perikanan.
“Lumbung Mataraman harus menjadi gerakan yang hidup—hidup di pekarangan keluarga, di kelompok tani, dan dalam pengetahuan masyarakat bahwa tanah yang dikelola dengan ketekunan serta kebersamaan akan selalu memberi kehidupan,” tegasnya.
Melalui Lumbung Mataraman, keterbatasan lahan justru menjadi ruang untuk melahirkan kreativitas. Pekarangan, lahan kelompok, maupun tanah yang belum tergarap dapat diolah menjadi sumber pangan sesuai potensi setempat, sekaligus membuka ruang bagi kegiatan ekonomi masyarakat. Dengan inovasi dan pemanfaatan teknologi, setiap lahan produktif dapat mengambil bagian dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga dan wilayah.
Humas Pemda DIY





