
Kulon Progo,REDAKSI17.COM — Berhasil mengolah potensi lokal perbukitan Menoreh, mulai dari limbah daun teh menjadi lulur kecantikan hingga aneka olahan pangan. Karang Taruna Hipenari asal Kalurahan Ngargosari, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo diharapkan mampu menjadi role model percontohan bagi pemuda nasional. Harapan tersebut muncul ketika Karang Taruna Hipenari resmi diverifikasi oleh Tim Penilai Karang Taruna Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2026 di Rajendra Farm pada Minggu (4/10/2026) usai menembus jajaran 5 (lima) besar terbaik nasional.
Sekretaris Daerah Kabupaten Kulon Progo, Triyono, S.IP., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas pencapaian Karang Taruna Hipenari. Ia berharap penilaian ini tidak sekadar menghantarkan Hipenari ke posisi 5 besar, tetapi mampu membawanya menjadi yang terbaik di tingkat nasional.

“Saya kira prestasi dari Karang Taruna Hipenari ini tidak kemudian tiba-tiba muncul begitu, tapi proses yang panjang, keterpaduan, kebersamaan, organisasi yang dibangun dengan keterpaduan yang luar biasa, kolaborasi yang luar biasa dari Karang Taruna ini menjadikan Karang Taruna Hipenari ini kemudian bisa berbuat cukup banyak, cukup baik di Kapanewon Samigaluh ini”, ujar Triyono.
Lebih lanjut, Sekda menyoroti berbagai keunggulan dalam rangka pemberdayaan masyarakat dan inovasi lokal yang dijalankan Karang Taruna Hipenari. Mereka bermitra baik kepada lembaga-lembaga yang ada di Kapanewon Samigaluh, Pemerintah Kalurahan Ngargosari, dan juga termasuk Rajendra Farm juga sudah bermitra dengan Karang Taruna.
“Karang Taruna Hipenari ini mengolah limbah daun teh yang ada di perkebunan Ngargosari menjadi produk bernilai guna dan bernilai ekonomi. Limbah teh ini ternyata bisa digunakan untuk lulur, seperti itu. Sehingga ini memberikan nilai tambah dari limbah daun teh yang ada di sini bisa dimanfaatkan dengan nilai ekonomi yang cukup tinggi”, jelas Triyono.
Karang Taruna Hipenari dinilai jeli memanfaaatkan potensi lokal bernilai ekonomi, seperti pengolahan limbah daun teh dari perkebunan Ngargosari menjadi produk lulur kecantikan, pembuatan jamu tradisional, produksi tempe, hingga pembuatan enting-enting khas Samigaluh. Inovasi-inovasi ini membuktikan bahwa pemuda Kulon Progo memiliki peran strategis dan harapan masa depan yang cerah.
Sementara itu, Ketua Bidang Kaderisasi dan Keanggotaan Pengurus Nasional Karang Taruna (PNKT) sekaligus perwakilan Dewan Juri Penilai Nasional, Agus Maimun, SE.,MHP menegaskan bahwa verifikasi lapangan dilakukan bukan sekadar untuk penilaian kompetisi biasa, melainkan untuk menginventarisasi, mengidentifikasi, dan memitigasi praktik baik (best practice) yang telah dilakukan.

“Kehadiran kami ini sekaligus juga menginventarisasi, mengidentifikasi, serta apa yang dilakukan Karang Taruna berprestasi tingkat nasional ini harus menjadi role model, harus menjadi percontohan untuk bisa direplikasi ke seluruh warga Karang Taruna se-Indonesia”, tegas Agus Maimun.
Agus menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi lintas sektor, baik pemerintah kabupaten, provinsi, maupun kementerian untuk mengintervensi serta memberdayakan warga usia produktif agar mampu naik kelas. Ia berharap keaktifan Karang Taruna Hipenari tidak berhenti sebagai program sesaat, melainkan tumbuh menjadi gerakan yang berkelanjutan (sustainable).
“Kami tidak ingin, apalagi yang masuk 5 besar ini berhenti sampai di program. Kami lebih menekankan pada gerakan yang itu mensyaratkan keberlanjutan dan keberlangsungan. Inilah kemudian praktik baik yang bisa memberdayakan”, ujar Agus.

Melalui verifikasi dan penilaian lapangan ini, diharapkan masukan yang diberikan dapat menjadi daya dorong bagi Karang Taruna Hipenari untuk meningkatkan skala kegiatannya, sekaligus menginspirasi seluruh Karang Taruna di Kabupaten Kulon Progo dalam membangun kemandirian masyarakat desa.
Source: media center


