Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Batik tak hanya berbicara tentang kain dan motif yang dihasilkan, tetapi juga tentang proses, pengetahuan, keterampilan, cara berpikir, bahkan cara pandang atas kerja dan kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, menjaga keberlangsungan batik perlu dilakukan dengan memastikan prosesnya tetap hidup dan keterampilannya terus diwariskan di tengah perubahan zaman.
Pesan tersebut disampaikan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Noviar Rahmad saat membacakan sambutan Gubernur DIY pada acara Simfoni 1.001 Pembatik di kawasan Malioboro, Sabtu (03/10). Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan yang membuat banyak pekerjaan dapat diselesaikan semakin cepat dan digantikan, Noviar mengatakan bahwa Sri Sultan menilai batik memberikan pelajaran penting tentang arti sebuah proses.
“Dalam proses membatik tradisional, setiap garis harus dilalui satu per satu. Setiap motif membutuhkan ketekunan. Setiap lembar kain menuntut perhatian yang tidak bisa digantikan oleh ketergesaan. Di baliknya ada waktu, ada pengalaman, ada kerja tangan, dan ada kerja sama yang tidak sederhana. Karena itu, batik tidak boleh direduksi hanya pada hasil akhirnya,” ujar Noviar.
Hal yang sama berlaku dalam upaya pelestarian batik. Noviar mengungkapkan, menurut Sri Sultan, menjaga batik bukan hanya dengan menyimpan hasil karya yang telah dibuat, tetapi memastikan proses pembuatannya terus berlangsung dan keterampilan membatik dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Atas nama Pemerintah Daerah DIY, Noviar pun menyampaikan apresiasi kepada Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY beserta seluruh pihak yang telah berkolaborasi dalam penyelenggaraan Simfoni 1.001 Pembatik. “Tentu kita semua sependapat, yang menjadi penekanan dalam kegiatan ini bukanlah jumlah partisipannya, melainkan pada bagaimana proses yang selama ini berlangsung di balik layar hari ini dihadirkan ke ruang publik untuk kita saksikan, kita pahami, dan kita rasakan Bersama,” papar Noviar.
Melalui kegiatan tersebut, disebutkan Noviar, Sri Sultan berharap tumbuh kesadaran bahwa keberadaan warisan budaya sangat bergantung pada keberlanjutan proses dan keterampilan yang menyertainya. “Warisan budaya hanya akan tetap hidup apabila terus ada tangan yang mengerjakannya, pikiran yang mempelajarinya, dan hati yang bersedia meneruskannya,” pungkas Noviar.
Pada kesempatan yang sama, melalui kegiatan ini, Wakil Ketua Umum Koordinator 2 KADIN DIY sekaligus Ketua Dewan Pengarah Panitia Simfoni 1.001 Pembatik, Gunarta Adibrata pun menyatakan bahwa KADIN DIY menegaskan komitmennya untuk menghadirkan ruang kolaborasi yang memadukan pelestarian budaya, penguatan ekonomi kreatif, serta sinergi antar pemangku kepentingan. “Batik bagi DIY tidak hanya menjadi simbol tradisi, melainkan sumber inspirasi, kreativitas, dan penggerak ekonomi masyarakat yang harus dirawat melalui kebersamaan,” papar Gunarta saat membacakan sambutan Ketua Umum Kadin DIY, GKR Mangkubumi.
Gunarta menyampaikan, keterlibatan para peserta dari unsur ASN, TNI, Polri, pelajar, hingga komunitas pembatik merupakan bukti nyata keberlanjutan tradisi melalui partisipasi bersama. “Ini membuktikan bahwa kebersamaan menjadi kekuatan untuk menjaga warisan budaya sekaligus mewujudkan kemajuan yang berkelanjutan,” terang Gunarta.
Sementara itu, Kepala Badan Standarisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kementerian Perindustrian RI, Emmy Suryandari turut menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemda DIY dan Kadin DIY atas terselenggaranya aksi budaya di kawasan Malioboro ini. Menurutnya, batik tidak sekadar merupakan kain, tetapi warisan budaya yang memuat nilai sejarah, kreativitas, dan kearifan lokal yang terus diwariskan lintas generasi.
Emmy juga menekankan pentingnya edukasi kepada generasi muda serta dukungan terhadap penggunaan batik asli karya perajin dalam negeri. Upaya tersebut, antara lain, dilakukan melalui berbagai program Kementerian Perindustrian, salah satunya Batik Goes to Government.
“Mari kita jadikan batik bukan hanya warisan masa lalu, melainkan karya yang terus hidup, berkembang, dan berinovasi untuk masa depan bangsa,” tegas Emmy.
Terkait pelaksanaan acara, Ketua Panitia Simfoni 1.001 Pembatik, Indah Rahayu Murnihati menjelaskan bahwa ajang ini merupakan bagian dari program kerja Kadin DIY di bidang pemberdayaan perempuan dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional 2026 sekaligus HUT ke-270 Kota Yogyakarta. “Kegiatan ini adalah sebagai suatu gerakan kolaboratif untuk melestarikan batik sekaligus memperkuat ekonomi kreatif berbasis budaya dan meningkatkan kunjungan wisata,” imbuh Indah.
Indah menambahkan, aksi membatik massal ini melibatkan sekitar 1.000 peserta yang terdiri dari pelajar, ASN, TNI, Polri, pelaku UKM, hingga komunitas pembatik dengan motif berunsur Sumbu Filosofi Yogyakarta. “Kegiatan ini sengaja diselenggarakan sepanjang Jalan Malioboro dari perempatan Terang Bulan hingga Titik Nol Kilometer agar masyarakat luas dan dunia internasional dapat mengetahui bahwa Yogyakarta masih eksis sebagai Kota Batik Dunia,” pungkas Indah.
Humas Pemda DIY




